Mohon tunggu...
Shinta dewi
Shinta dewi Mohon Tunggu... Mahasiswa UIN SU Jurusan ilmu perpustakaan

UINSU

Selanjutnya

Tutup

Digital

Era Industri 4.0, Waspada Hoax di Masa Pandemi

14 Agustus 2020   08:49 Diperbarui: 14 Agustus 2020   09:07 52 0 0 Mohon Tunggu...

Masuknya era industry 4.0, melahirkan generasi milenial yang sangat dekat dan akrab dengan smartphone dan internet. Era digital membuat masyarakat lebih mudah dalam mengakses informasi secara cepat. Hal itu tentu berdampak buruk jika masyarakat tidak menyaring informasi yang didapat.

Hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Informasi Indonesia (APJII) pada tahun 2018 menunjukkan bahwa 64,8 % dari 264,16 juta jiwa penduduk Indonesia pengguna internet. 

Penggunaan media social yang cukup tinggi semakin memudahkan penyebaran berita hoax yang belum tentu kebenarannya. Khususnya dimasa pandemik seperti saat ini, terjadi kenaikan penggunaan media sosial sebesar 40%. 

Kurangnya aktivitas diluar rumah karena anjuran pemerintah dalam pembatasan diri, membuat masyarakat lebih memilih untuk menyelami internet dan media social pribadi.

Direktur jenderal informasi dan komunikasi public, kementrian komunikasi dan informatika RI (KEMENKOMINFO) Widodo muktiyo mengatakan bahwa ada 3 level sumber beredarnya hoax dimasyarakat. Pertama melalui internet, kedua lewat sosial media seperti Instagram, twitter dan facebook. Ketiga melalui whatsapp grup. Tercatat bahwa penyebaran hoax terkait korona mulai dari kemunculannya hingga mei terdapat lebih dari 500 informasi.

Banyaknya pemberitaan yang beredar di berbagai media membuat penyaringan informasi menjadi sulit dilakukan. Media publik berlomba-lomba melakukan pemberitaan terkait wabah covid-19, baik media cetak maupun noncetak, berskala nasional hingga internasional.

Tentu saja hal ini membuat masyarakat menjadi bingung dan khawatir akibat pemberitaan yang simpang siur di berbagai media. Tak sedikit masyarakat yang termakan berita hoax tersebut. 

Katakanlah salah satu berita yang pernah hangat dan tersiar adalah bahwa thermogun yang dapat merusak otak. Namun tentu saja berita tersebut tidak benar adanya.

Hal ini dibuktikan oleh para pakar dari Departemen fisika kesehatan kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) megatakan bahwa Thermogun tidak berbahaya sama sekali. Sinar yang keluar dari thermogun tersebut adalah inframerah yang akan menangkap energi radiasi dari tubuh dan diubah menjadi energi listrik. 

Kemudian energi itu akan ditampilkan dalam angka digital pada thermometer tersebut. Jadi cahaya yang memancar dari thermogun hanya inframerah, bukan memancarkan radiasi apalagi laser.

Kurangnya literasi digital bisa menyebabkan dengan mudah diterimanya berita hoax tanpa penyaringan. Berita hoax juga berpotensi sebagai tindakan kriminalitas bagi siapapun yang menyebarkan tanpa terkecuali. Hal ini tertuang pada UU KUHP no 11 tahun 2008 tentang Informasi Dan Transaksi Elektronik (ITE).

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN