Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Konsultan - Pengamat pendidikan nasional, sosial, dan pengamat sepak bola nasional

Bekerjalah dengan benar, bukan sekadar baik

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Antara Terdidik dan Belum Terdidik, Kontras di Stadion Kanjuruhan dan Etihad Stadium, Hasilnya Tragedi-Prestasi

3 Oktober 2022   07:46 Diperbarui: 3 Oktober 2022   08:14 241 2 0
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Supartono JW (SJW)


Cerdas intelegensi (otak)-personality (kepribadian), dekat sastra=berbudi. Paham sebab-konflik-akibat, maka produktif membuat  prestasi karena kaya hati, imajinasi, kreatif, dan penuh inovasi.

(Supartono JW.03102022)

Hanya berselang satu hari, ada kisah yang bertolak belakang di dunia sepak bola. Pada Sabtu, (1/19/2022) di Indonesia ada suporter yang memicu Tragedi Kanjuruhan.  Lalu, Minggu, (2/10/2022) di Inggris ada suporter sepak bola yang meninggalkan Stadion, meski babak pertama belum usai, sebab tim kesayangannya sudah kalah 0-4.

Ulah negatif dan positif

Cerita kekalahan tim kesayangannya dalam sepak bola yang selalu mengakibatkan adanya ulah suporter nyatanya selalu terjadi di laga sepak bola. Yaitu ulah yang negatif dan ulah yang positif. Dapat dipastikan, ulah negatif adalah produk kebodohan, ketidakcerdasan, atau kelicikan. Ulah positif cermin kecerdasan, karena kaya hati dan otak.

Karenanya, wajib menjadi pelajaran ketika kita membandingkan tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Indonesia dan Etihad Stadium, Manchester, Inggris, ada ulah suporter rendah intelegensi dan personality, ada ulah suporter cerdas intelegensi dan personality.

Pendidikan terpuruk, pendidikan maju

Ulah suporter Arema di Kanjuruhan yang tidak pernah didik oleh PSSI, dan dasarnya juga karena pendidikan Indonesia masih terpuruk, terus tercecer dari bangsa lain, karena pemerintah masih gagal mengentaskan pendidikan, hingga kecerdasan pun menjadi barang langka dan mahal di Republik ini, karena rakyatnya terpuruk dalam literasi, matematik, dan sains.

Ujungnya ada akibat tragedi, ratusan nyawa melayang. Karena tidak paham ulahnya selalu membuat sebab/masalah dan meningkat menjadi konflik.

Suporter Manchester United tertib meninggalkan Etihad Stadium saat babak pertama belum usai. (Sumber: Tribunnesw.com)
Suporter Manchester United tertib meninggalkan Etihad Stadium saat babak pertama belum usai. (Sumber: Tribunnesw.com)
Berbeda dengan ulah suporter Manchester United, yang berakibat membuat prestasi. Pasalnya, pemerintah Inggris sudah mengentaskan pendidikan dan membuat rakyatnya cerdas, pendidikannya maju. Asosiasi Sepakbola Inggris (FA) pun sangat signifikan terbantu dalam kecerdasan suporter. Bahkan, Stadion-Stadion di Inggris pun sudah tidak perlu di pasang Pagar Pembatas Penonton. Sehingga, Stadion benar-benar menjadi tempat untuk memanusiakan manusia.

Manusia yang sesuai kodrat dan martabatnya, tidak, perlu dikerangkeng seperti binatang, padahal datang ke Stadion untuk menonton dan terhibur laga sepak bola.Tetapi faktanya, Stadion di Indonesia, termasuk Kanjuruhan adalah tetap menjadi tempat yang menakutkan, sebab, stadion dipasang Pagar Pembatas Penonton,  pun, suporter malah merusak dan tetap bisa meloncat dan terus bikin rusuh dan ricuh. Tragedi nyawa melayang pun harus terjadi, Pagar Pembatas Penonton malah jadi sebab suporter terkerangkeng gas air mata, nyawa melayang.

Kontras dengan suporter Manchester United yang malah torehkan prestasi.
Prestasinya adalah sikap rendah hati dan tahu diri,  meninggalkan Stadion saat tim kesayangannya kalah, di antaranya:

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan