Mohon tunggu...
Supartono JW
Supartono JW Mohon Tunggu... Pengamat
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Niat berbagi

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Jelang Tahun Ajaran Baru di Tengah Corona, Jadikan Guru sebagai Promosi Keunggulan Sekolah

25 Juni 2020   11:32 Diperbarui: 25 Juni 2020   11:45 248 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Jelang Tahun Ajaran Baru di Tengah Corona, Jadikan Guru sebagai Promosi Keunggulan Sekolah
Sumber: Supartono JW


Tahun ajaran baru 2020/2021, tinggal hitungan hari lagi akan di buka. Meski pembukaannya akan bertahap di mulai dari SMP dan SMA/SMK, dan teknik pembelajarannya pun akan ada yang nantinya sudah luring maupun masih tetap daring melihat situasi dan kondisi pandemi corona.

Terkait hal ini, yang menjadi pertanyaan berbagai pihak dan masyarakat adalah, tentang belajar daring/online/virtual (DOV). Sebab, se-hebat-hebatnya, se-kreatif-kreatifnya, se-inovatif-inovatifnya model pembelajaran dari guru, tetap ada tembok yang membatasi interaksi, sehingga pembelajaran pun "nilai rasanya" akan tetap sama saja.

Bila belajar dengan DOV bersama guru yang hebat dan profesional saja, nilai rasanya akan tetap sama karena ada keterbatan interaksi, bagaimana siswa dapat belajar dengan guru-guru yang belum hebat, belum profesioanal, dan gagap teknologi? Padahal mau tidak mau, tahun ajaran baru akan dibuka 13 Juli 2020.

Sebelum pandemi corona, hampir dipastikan, susah ditemukan promosi pembukaan tahun ajaran baru untuk pendaftaran siswa baru, khususnya sekolah-sekolah swasta, ada sekolah yang mempromosikan juga daftar guru-guru pengajarnya. Biasanya yang dipromosikan adalah lebih kepada keunggulan sarana-prasarana,  sistem belajarnya, dan sekilas pengajarnya profesional, tapi jarang disebut "berpengalaman." Padahal, sekolah sebagai pembentuk karakter siswa, seharusnya diisi oleh guru yang berpengalaman. 

Berbeda dengan sekolah swasta yang setiap musim pendaftaran siswa baru, justru sudah menjaring siswa sebelum pemerintah membuka PPDB, dan bersaing sesama sekolah swasta, maka sekolah negeri cuek-cuek saja.

Tidak perlu promosi, orang tua dan siswa pun akan berebut masuk karena gratis dan murah. Pun tidak peduli, kompetensi dan profesionalisme gurunya akan seperti apa.

Namun, dari perbedaan sikap antara sekolah swasta dan negeri ini, ada kesamaannya, yaitu sama-sama jarang mempromosikan siapa para guru-guru yang menjadi staf pengajarnya.

Apakah selama ini, menyoal promosi guru yang tidak mengemuka di setiap awal tahun ajaran baru, terpikirkan oleh Kemendikbud, stakeholder terkait dan masyarakat?

Sementara hasil penilaian PISA (membaca, matematika, sains) siswa Indonesia terus terpuruk. Secara umum, hasil pendidikan Indonesia terus tertinggal. Apakah karena Kurikulumnya? Jawaban yang pasti adalah karena kondisi dan keberadaan gurunya.

Guru dalam arti sebenarnya, tak bisa ditawar adalah ujung tombak keberhasilan pendidikan di seluruh dunia. Negara-negara maju, tentu adalah hasil dari signifikasi karena pendidikan di negara itu sudah duduk di tempatnya. Sekolah-sekolah hanya diisi oleh para guru yang lulus standar, berkompeten dan profesional, terus kreatif dan inovatif dan tak tertinggal oleh perkembangan zaman, dan selalu lebih terdepan dibanding para siswanya.

Bagaimana guru di NKRI? Satu di antara kenyataannya adalah, banyak ditemuai siswa lebih luas wawasan dan kemampuan teknologinya dari guru. Kendala lain, ketimpangan antar daerah di Indonesia dan daerah yang sangat tertinggal maka guru pun tidak lagi terpikir harus kompeten dan profesional. Ada yang mau bantu mengajar, sudah bersyukur.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN