Mohon tunggu...
Siti LailatulMaghfiroh
Siti LailatulMaghfiroh Mohon Tunggu... Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Sedang belajar mencintai menulis dan membaca

Selanjutnya

Tutup

Love Artikel Utama

Gender Disappointment, Tidak Apa-apa Merasa Sedih

18 Maret 2021   19:38 Diperbarui: 29 Maret 2021   15:43 1250 19 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Gender Disappointment, Tidak Apa-apa Merasa Sedih
Sumber: amp.abc.net.au

"Berharap boleh, asal jangan terlalu ngarep"

Terbesit dalam hati ibu hamil atau pasangan suami istri pasti mengidam-idamkan jenis kelamin tertentu pada saat kelahiran buah hatinya, entah itu perempuan ataupun laki-laki. 

Saat ibu hamil atau pasangan suami istri menggebu-gebu mengharapkan jenis kelamin tertentu pada calon bayi, hingga menyiapkan segala macam perabot bayi yang sekiranya sesuai dengan jenis kelamin calon bayi. Namun genetika memutuskan sebaliknya. Apa yang terjadi? 

Seakan harapan ibu hamil atau pasangan suami istri yang telah dibangun tinggi runtuh seketika diterpa angin. 

Ketika mengetahui kenyataan bahwa jenis kelamin bayi yang dinanti-nanti tak sesuai dengan yang diharapkan. Bolehkah merasa kecewa dengan jenis kelamin bayi? Inilah yang dinamakan Gender Disappointment

Gender Disappointment, kekecewaan yang timbul sebab anak yang sedang dikandung tak memiliki jenis kelamin yang sesuai dengan harapan.

Kekecewaan ini bisa timbul saat pasangan suami istri mengetahui jenis kelamin yang ada dalam kandungan. Balik lagi ke pertanyaan awal, bolehkah merasa kecewa dengan jenis kelamin bayi? 

Rasanya seperti suatu hal yang tabu ketika pasangan suami istri kurang senang dengan jenis kelamin bayi yang dinantinya. Bagaimanapun juga, ketika bayi yang dinanti sehat itu menjadi hal terpenting bukan? 

Banyak orang mencoba tidak akan mengakui perasaan kecewanya, menyembunyikan kekecewaan dengan mencoba menerima kenyataan. Gender disappointment atau kekecewaan gender bisa terjadi dalam bentuk air mata maksudnya menangis, kemarahan, hingga depresi. 

Kekecewaan gender tidak hanya menerpa ibu yang melahirkan bayi, pasangan, kakek, nenek, hingga keluarga besar-pun bisa merasakannya ketika semua kompak mengharapkan jenis kelamin tertentu pada calon bayi. 

Di sinilah perasaan bersalah pada ibu bayi mulai muncul, merasa bersalah atas kekecewaan yang dirasakan keluarga besarnya. 

Selain keluarga besar yang kompak mengharapkan jenis kelamin tertentu pada calon bayi. Penyebab lainnya yaitu selera pribadi, bisa jadi sang ibu selama ini memimpikan seorang anak laki-laki yang bisa diajak bermain sepak bola dengan suami atau memimpikan mengepang rambut anak perempuan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN