Mohon tunggu...
Mohamad Akmal Albari
Mohamad Akmal Albari Mohon Tunggu... Lainnya - Mahasiswa Hukum Tata Negara

a piece of life, chill out!

Selanjutnya

Tutup

Worklife Pilihan

Malas Kerja Sama dan Hebat Sendiri, Awas Social Loafing

26 Juli 2022   22:22 Diperbarui: 27 Juli 2022   14:04 368
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Social Loafing/Pexels

Hai Kompasianer, sering ngerasa kalau punya tim tapi kurang support kalau bersama tim tersebut, mungkin karena ketidakcocokan mereka sesuai ekspetasi kalian, bukan? 

Ibaratkan kalian mendapatkan tugas individu yang cepat selesai kalau dilakukan personal, tapi jika digabungkan dengan kelompok yang berjumlah 4 - 7 orang, kiranya kalian merasa tidak semangat atau kurang totalitas dalam pengerjaan tugas kelompok itu.

Demikian, istilah itu dinamakan social loafing, secara harfiah adalah kemalasan sosial. Namun, jika didefinisikan social loafing adalah kondisi dimana individu kurang giat bekerja dalam suatu kelompok dibandingkan ketika individu sendirian. 

Istilah tersebut dicetuskan oleh peneliti bernama Max Ringelmann di tahun 1913. Ia melakukan riset seperti ketika lomba tarik tambang, penyebabnya karena motivasi terlalu tinggi, mengandalkan orang lain, kurang bertanggung jawab, dan ekspetasi yang berlebihan.

Nantinya akan berdampak less effort dalam Kerjasama tim, mungkin individu yang mengalami social loafing senada yang dikatakan Hindia, "cepat namun sendiri, bersama tapi meracuni". 

Padahal tidak salah juga jika kerjasama tim akan lebih menyelesaikan sebuah tugas atau pekerjaan, karena sejatinya dibalik seorang yang hebat, ada sosok yang terus mendukung dan membantunya.

Kemalasan sosial individu bisa saja diminimalisir dengan beberapa hal, jika kalian ketua tim, maka berikan task importance kepada individu yang mengalaminya. 

Misalnya, kita harus ketahui dahulu apa potensi individu yang bergejala social loafing nih, kemudian berikan ia tugas menarik dan menantang sesuai kemampuan individu tadi. Hasilnya, ia akan lebih giat untuk menyelesaikan tugas karena kecocokan yang ia miliki.

Selanjutnya, berikan apresiasi pada kinerja tim jika tugas-tugas pertama sudah diselesaikan, jangan mengomel tanpa menghargai kinerja tim. 

Upaya itu akan memberikan stimulus pada setiap orang dalam tim. Perlu diingat juga, agar tidak berlebihan mengapresiasi sebab menimbulkan kesombongan berujung kemalasan, menyangka dirinya sudah cukup melakukan pada tugas tersebut.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Worklife Selengkapnya
Lihat Worklife Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun