Sosbud Pilihan

Yahya Staquf ke Israel, Kok Kita Takut?

13 Juni 2018   22:42 Diperbarui: 13 Juni 2018   23:01 935 0 1
Yahya Staquf ke Israel, Kok Kita Takut?
Sumber: Yahya Cholil Staquf di Israel (Foto: dok. NU Online) dari Detik.com

Masyarakat dunia, khususnya Indonesia dan pemerintahan Indonesia mendukung kemerdekaan Palestina. Banyak upaya dan beberapa bantuan yang diberikan rakyat dan pemerintah Indonesia bagi tegaknya negara Palestina yang berdaulat. 

Masalahnya, banyak aspek yang melingkupi sebuah negara, apalagi yang kini Palestina -Israel terus berkonflik. Dipanasi lagi dengan pihak pemerintahan Presiden Trump yang memindahkan kedutaan negaranya ke Yerusalem. Pada saat ini lagi misalnya, Trump melakukan pertemuan dengan Kim Jong-un, Pemimpin Korea Utara. Padahal keduanya sebelum ini berpropaganda seteru di media. 

Kini, tampaknya tidak ada lagi kapitalisme tulen sebagaimana juga halnya tak ada lagi komunisme mutlak. Siapa yang mengira dulu pemerintahan AS yang bermusuhan dengan Korea Utara, apalagi di tangan Trump yang kontroversial. Tapi, pada akhir ini, kita menatap pertemuan Trump-Kim cukup akrab. 

Nah, kita di Indonesia menjadi isu yang agak sensitif kalau pemerintahan Indonesia misalnya akan menjalin hubungan dengan Israel. Pada masa almarhum Presiden Gur Dur, ada kabar Gus Dur ingin menjalin hubungan dengan Israel. Di antara maksud beliau, bagaimana kita dapat berdiplomasi dengan Israel kalau kita tak memiliki hubungan bilateral. Walhasil, di Indonesia isu Israel menjadi politis daripada diplomatis. Sepertinya, kalau ada calon pemimpin di Indonesia yang berusaha menjalin hubungan dengan Israel mungkin ia dicap antek Zionisme?

Padahal, kalau kita baca buku sejarah Indonesia misalnya, ada banyak orang Indonesia yang sekolah di Belanda selama penjajahan Belanda di Indonesia. Tak usah disebut para tokoh itu, Anda dapat mengeceknya ke buku sejarah atau biografi atau autobiografi tokoh dan bahkan pahlawan Indonesia. 

Artinya, kalau kita merasa Israel sebagai penjajah kini terutama terhadap rakyat Palestina. Apakah dengan mengisolasi Israel tanpa hubungan apapun dengan kita, maka berdaya guna positif untuk kemerdekaan rakyat Palestina ataukah sebaliknya? 

Malahan sebagaimana diberitakan awal Januari 2018, pemerintah Israel berencana membangun jalur kereta api menghubungkan negara itu dengan Arab Saudi. Rencana awal proyek ini membangun stasiun kereta api di kota Bisan atau Beih She'an di wilayah utara Israel. Dari kota itu nantinya dibangun jaringan jalan kereta api melintasi Jordania menuju ke Irak dan Arab Saudi. 

Saat ini, masih menurut Yediot Ahronoth, Israel mengangkut komoditi yang tiba di pelabuhan Haifa menuju ke Irak, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk yang lain melalui Jordania. Bahkan menurut sumber lain, militer Arab Saudi dan Israel menjalin kerja sama yang sifatnya rahasia.

Apabila Arab Saudi saja mau menjalin kerja sama dengan Israel, kok kita di Indonesia sepertinya takut sekali berhadapan dengan Israel. Seakan kita mau memboikot Israel. Padahal mungkin lebih didasari rasa takut daripada rasa kuat. 

Oleh karena itu, kita agak terpancing ribut ketika Yahya Cholil Staquf ke Israel menghadiri dan menjadi pembicara dalam acara American Jewish Committee (AJC) Global Forum. Baik pemerintahan Indonesia maupun MUI menegaskan kepergian Yahya Cholil merupakan inisiatif pribadi tanpa dorongan pemerintah dan MUI.

Yahya Cholil atau Gus Yahya mendapati banyak kecaman, misalnya datang dari Hidayat Nur Wahid dan beberapa tokoh partai lain. Sedemikian juga dengan Persaudaraan Alumni 212 menyebut mendatangi Israel menyakiti umat. Sedemikian itu pula misalnya dari luar negeri, Hamas menyebut kunjungan itu mengkhianati rakyat Palestina.

Sebaliknya, yang membela kepergian Yahya ke Israel datang dari Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas. Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin berupaya menengahi pro-kontra kunjungan Gus Yahya ke Israel. 

Memang benar kita pada akhirnya terpola menjadi tiga blok terkait kunjungan Gus Yahya itu. Satu kelompok mengecam atau menolak. Kelompok kedua mendukung atau membela kunjungan Yahya. Ketiga, kelompok yang berupaya menengahi dua kubu yang berseberangan itu. 

Harapan saya, kita dapat dulu memperbaiki bangsa kita sendiri dalam banyak aspek, pendidikan, ekonomi, militer, dan seterusnya sebelum banyak berkomentar mengenai bangsa lain. Sebab, dengan kita bergantung ke luar negeri mau tidak mau, kekonsistenan kita menjadi sedikit tampak agak munafik.

Sebab misalnya, kita tak mau atau tak memiliki hubungan diplomasi dengan Israel. Padahal, kita berhubungan baik dengan pemerintahan Amerika Serikat. Padahal, Israel kalau boleh disebut berinduk semang kepada Amerika Serikat. Setelah dulu, Inggris memberikan legitimasi keberadaan Israel di wilayah Palestina. Turki yang paling getol membela rakyat Palestina dari dulu sampai kini, kalau tak salah, Turki masih mempunyai hubungan diplomasi dengan Israel. 

Barangkali kita dapat berpikir ulang terkait hubungan dengan Israel, apakah itu karena murni kepercayaan, kesetaraan, atau kekuatan kita untuk berkonfrontasi langsung dengan Israel? Atau malahan karena kekhawatiran kalaulah kita membina hubungan dengan Israel kita kena pengaruh atau dipengaruh dibanding mempengaruhi Israel?