Mohon tunggu...
Silvester Detianus Gea
Silvester Detianus Gea Mohon Tunggu... "Menulis untuk mengingat, merawat, dan mengabadikan." [Silvester D. Gea]
Akun Diblokir

Akun ini diblokir karena melanggar Syarat dan Ketentuan Kompasiana.
Untuk informasi lebih lanjut Anda dapat menghubungi kami melalui fitur bantuan.

Pernah menulis buku bersama Bernadus Barat Daya berjudul “MENGENAL TOKOH KATOLIK INDONESIA: Dari Pejuang Kemerdekaan, Pahlawan Nasional Hingga Pejabat Negara” (YAKOMINDO, 2017), Menulis buku berjudul "Mengenal Budaya dan Kearifan Lokal Suku Nias" (YAKOMINDO, 2018). Saat ini menjadi Wartawan komodopos.com (2018-sekarang). Penulis dapat dihubungi melalui email: detianus.634@gmail.com atau melalui Facebook: Silvester Detianus Gea.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Melarang Tuak, Membunuh Rakyat

16 Mei 2019   12:49 Diperbarui: 16 Mei 2019   14:32 0 0 0 Mohon Tunggu...
Melarang Tuak, Membunuh Rakyat
(Foto/tuak hasil keringat masyarakat kecil dibuang) | dokpri

Beberapa hari ini masyarakat Nias disuguhi berita tentang pemusnahan Tuo Nifaro (Tuak). Aparat yang menertibkan seolah senang jika mereka memusnahkan jerih payah rakyat yang mencari nafkah. Mereka seolah bersenang-senang dan bergembira di atas penderitaan rakyat. Mereka lebih mementingkan kepentingan sekelompok pengusaha daripada kepentingan masyarakat luas. Seperti diketahui sebagian besar mata pencaharian masyarakat berasal dari tuak. 

Banyak perkebunan kelapa dan aren yang telah dikelola oleh masyarakat demi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pelarangan peredaran Tuo Nifaro sangat diskriminatif terhadap sebagian masyarakat. Mata pencaharian mereka seolah dihancurkan tanpa ada solusi apapun. Pemerintah pun tak memberika solusi yang manusiawi dan beradab. Jika pemerintah terkait beradap maka Tuo Nifaro dapat dilegalkan dengan ketentuan tertentu, seperti yang kita saksikan di daerah lain. Sesungguhnya bukan Tuo Nifar yang mereka musnahkan tetapi sebagian masyarakat Nias-lah yang mereka musnahkan.

Mengenal Tuo Nifaro

Tuo Nifaro merupakan minuman yang berasal dari air sadapan pohon Nira dan Pohon Kelapa yang diolah dengan cara penyulingan. Biasanya kadar alkohol dalam Tuo Nifaro mencapai 3 tingkatan. Kadar alkohol Tuo Nifaro yang bagus biasanya mencapai 43%. Setiap suku di Indonesia mempunyai minuman khas daerah yang menjadi kebanggaan, misalnya Tuak dari Sumatera dan Kalimantan, Moke dari Nusa Tenggara Timur dan lain sebagainya. 

Mereka menganggap semua itu sebagai kearifan Lokal atau budaya lokal. Dengan demikian mereka bangga dengan kekhasan yang mereka miliki tanpa ada niat untuk memusnahkan atau membatasi peredarannya. Malahan mereka bangga jika kearifan lokal dan warisan leluhur mereka dikenal oleh Suku lain.

Tuo Nifaro merupakan ciri khas, kearifan lokal dan budaya leluhur masyarakat Nias. Bahkan dalam Fondrak tertentu termasuk bagian dari adat. Fondrak Laraga mempunyai adat yang disebut Fasuru Tuo. Di mana dalam adat ini diperlukan  Tuo Nifar. Tentu saja di Fondrak lain berbeda, bahkan mungkin tidak masuk dalam bagian adat. Namun termasuk dalam kearifan Lokal atau budaya leluhur masyarakat Nias.

Belakangan ini banyak pandangan yang muncul bahwa Tuo Nifaro adalah sumber Kriminal, mempunyai dampak buruk bagi kesehatan dan lain sebagainya. Tentu disisi yang sama pernyataan itu ada benarnya, namun tidak seutuhnya benar. Karena disisi lain sumber kriminalitas adalah pengangguran. Mengapa pengangguran bisa menjadi sumber kriminalitas? 

Pertama, jika seseorang tidak kerja maka rasa suntuk terus menghantui dan  salah satu cara menghilangkannya adalah minum Tuak berlebihan, sehingga menimbulkan kerusuhan.

Kedua, jika demikian apakah pemerintah setempat memberikan solusi terhadap petani aren bila mata pencaharian mereka dimusnahkan?

Mungkin kita bisa melihat pula dari segi bisnis. Tuo Nifar tergolong murah dibanding tuak import. Tuo Nifaro kurang lebih 10-15 ribu sedangkan tuak import kurang lebih 50-150 ribu. Apakah dengan harga yang mahal maka tidak membuat peminumnya mabuk dan berbuat kriminal? Semua jenis tuak baik lokal maupun import jika diminum berlebihan maka menimbulkan rasa mabuk. Jika demikian, kita dapat menarik kesimpulan bahwa pemerintah dalam hal ini tidak adil. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2