Mohon tunggu...
Silki
Silki Mohon Tunggu... Mahasiswi

2204

Selanjutnya

Tutup

Analisis

Kondisi Agama di Kota Baratan

22 Maret 2020   22:50 Diperbarui: 22 Maret 2020   22:48 5 0 0 Mohon Tunggu...

Selama ini Baratan tidak banyak dikenal oleh orang Jember, khususnya kota jember sendiri. Ini dikarenakan Baratan hampir bersebelahan dengan perbatasan kota, yakni kota Bondowoso. 

Letak Baratan sendiri berada dibawah pegunungan Rembangan, dan Baratan termasuk salah satu dataran tinggi di Jember. Masyarakat rata-rata sudah memulai aktifitasnya mulai jam 3 pagi, karna sebagian besar penduduk di Baratan bekerja sebagai pedagang. Jadi bisa kalian dapati motor-motor sudah mulai memenuhi jalan. Selalu ada lantunan suara orang bertilawah di masjid-masjid sampai adzan subuh berkumandang.

Sedari kecil saya hidup di suatu lingkungan yang dimanah mayoritas penduduk beragama Islam, namun ada juga beberapa diantara mereka beragama lain. Menurut saya secara nyata sikap toleransi masyarakat sangat teramat tinggi kepada agama lain. 

Tidak pandang dia Kristen, tidak pandang dia Hindu dll. Kami saling menjaga toleransi antar umat beragama. Seperti misalnya ada hari raya Idul Fitri , maka orang Kristen dan Hindu pun sama-sama merayakannya dan mengucapkan "Selamat Idul Fitri, mohon maaf lahir dan batin". Anak-anak kecil bahkan mendatangi rumah mereka sambil membawa ketupat sayur, dan sebagai balasannya, mereka akan memberikan ampau kepada mereka. Mereka juga turut menyumbangkan dana apabila ada perbaikan masjid.

Orang-orang di Desa Baratan juga sering mengadakan kegiatan keagamaan seperti pengajian bapak-bapak, yang biasanya diadakan 2 kali dalam seminggu. Yakni hari rabu dan juga hari Sabtu. Kegiatannya berisi doa-doa tahlil, dan apabila ada orang meninggal, maka anggota pengajianlah yang bertanggung jawab mengurus proses pemakaman hingga selesai. Tak mau kalah, ibu-ibu pun juga mendirikan pengajian yang dilaksanakan setiap hari Selasa dan minggu, sedangkan untuk hari rabu mereka melakukan sholat bersama. Biasanya kegiatan tersebut bergiliran dari rumah 1 ke rumah yang lain, tujuannya agar saling mengerti satu sama lain. Tak luput juga setiap sore anak-anak kecil di desa Baratan berbondong-bondong pergi ke TPQ untuk belajar mengaji Dengan di dampingi seorang ustad beserta istri dan anak perempuannya yang sudah menyelesaikan study nya di pondok selama kurang lebih 6 tahun lamanya. Kegiatan mengaji dimulai dari jam setengah 4 sore sampai jam setengah 6 sore, kemudian setelah selesai mengaji, anak-anak pun menuju tempat wudhu dan antri untuk berwudhu, begitu juga orang-orang dirumah, mereka bergegas menuju masjid ketika adzan berkumandang, untuk melaksanakan sholat magrib berjamaah.

Namun Kurangnya dari desa ini ialah , tidak ada Remas dan juga karang taruna sehingga segala sesuatu hanya diurus oleh tetua-tetuanya saja, sehingga kegiatannya monoton dan tidak berkembang, bahkan bisa dibilang hampir membosankan. Biasanya di Musim kemarau juga orang-orang jadi sedikit terhambat dalam melakukan ibadah, tentu saja karna persediaan air bersih habis, sehingga masyarakat pun berbondong-bondong ke sungai untuk melakukan kegiatan MCK (mandi,cuci,kakus)

Sekian yang bisa saya tuliskan tentang kondisi sosial keagamaan di Desa Baratan. Buang sisi negatifnya dan ambil sisi positifnya, semoga bisa menjadi ilmu yang bermanfaat khususnya bagi pembaca sekalian, mohon maaf apabila banyak terdapat kesalahan dalam penulisan kata, karna sejatinya manusia tidak bisa luput dari salah.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x