Mohon tunggu...
Sigit Yudhanarto
Sigit Yudhanarto Mohon Tunggu...

Nama : Sigit Yudhanarto SE,S.Psi Tmpt Tgl Lahir : Jakarta / 4 Agustus 1972 Pekerjaan : Terapsi Psikologi Anak di PLT ADK Kemensos RI, Jak-Tim

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Ciptakan "Quality Time" Dalam keluarga Sebelum Terlambat

19 Maret 2014   04:25 Diperbarui: 24 Juni 2015   00:46 879 0 0 Mohon Tunggu...

Kesempatan atau waktu memang tidak akan bisa kembali lagi dengar format yang sama jadi kata bijak yang tepat adalah “janganlah engkau sia siakan waktu yang datang kepada mu dan sebelum terlambat jadikan setiap waktu adalah moment emas atau moment berharga yang harus bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya bersama orang-orang yang kamu cintai dan kasihi”

Kalau kita memperhatikan di TV saat ini ada sebuah iklan baru dari produk teh seduh yang ada kaitannya dengan “quality time” ini, menurut saya iklan tersebut sederhana namun sangat menyentuh dan sarat dengan pembelajaran positif, dimana ada sindiran bahwa ternyata dalam sadar atau tidak sadar kita seringkali menomor duakan yang namanya membangun “quality time” dalam keluarga. Pada awal cerita dalam iklan tersebut menggambarkan betapa sibuknya seorang bapak dan ibu karena saat di rumah pun mereka masing-masing masih mengerjakan pekerjaan kantor atau mengurusi bisnisnya sampai anaknya tidak dihiraukan saat akan membangun komunikasi atau mengajak kedua orang tuanya bermain, ironisnya si anak akhirnya bermain sendiri bersama bonekanya saja, lalu di puncak cerita dalam iklan tersebut sang ibu akhirnya tersadar dan merasa bersalah telah membiarkan anaknya bermain sendiri sementara kedua orang tuanya ada dirumah. Kemudian masih dalam iklan tersebut ada sebuat kalimat yang cukup menggugah saya yaitu ternyata diluar sana masih banyak anak-anak yang sangat membutuhkan kehangatan dan kasih sayang dari  kedua orang tuanya namun tidak bisa diwujutkan karena kedua orang tuanya sudah tidak ada atau terpisah, sementara kita yang masih mungkin mewujutkannya kerap tidak menyadari betapa pentingnya menciptkan “quality time” atau kebersamaan dalam keluarga disamping kecukupan materi untuk anak-anak kita.

Lalu bagaimana dengan anak yang orang tuanya sudah berpisah (cerai hidup) ? apakah anak tersebut tidak bisa mendapatkan manfaat dari terbentuknya “quality time” oleh kedua orang tuanya lagi ? sebagai orang tua yang bertanggung jawab terhadap perkembangan psikis anak yang pertama harus dilakukan adalah menyadari untuk harus tetap menomer satukan kebutuhan anaknya, dimana kebutuhan yang dimaksud tidak hanya berupa kebutuhan akan materi semata, tetapi yang jauh lebih penting yaitu tetap memperhatikan kebutuhan atas pertumbuhan kejiwaan atau psikis anaknya, salah satunya adalah bagaimana tetap bisa memberikan perhatian dari kedua orang tuanya (jangan sampai terputus) dan perhatian itu berupa penciptaan atau mewujutkan kualitas dari suatu pertemuan atau kulitas dari suatu kebersamaan si orang tua dengan anaknya. Jika berbicara dari hak asuh anak pastilah salah satu dari orang tua si anak tersebut tidak lagi tinggal serumah sehingga dalam menciptakan kebersamaan tidak semudah seperti keluarga yang masih utuh (orang tua dan anak tinggal serumah / tidak ada perceraian).

Bagi orang tua yang tidak tinggal serumah dengan anaknya sebenarnya tidak begitu penting kuantitas atau jumlah kali dari pertemuan dia dengan anaknya tetapi yang jauh lebih penting bagaimana ia bisa menciptakan kualitas disetiap pertuman dia dengan anaknya tersebut atau sederhananya adalah bagaimana menciptakan “quality time” dari setiap pertemuan dia dengan anaknya, yaitu dengan cara pemberian makna dari setiap pertemuan dan pembelajaran, dimana masing masing individu pastilah memiliki cara yang berbeda-beda yang disesuaikan dengan kebutuhan atau keinginan serta sifat atau karakter anak itu sendiri, misalnya pada saat pertemuan janganlah kita yang mendahului atas keinginan diri atau mengarahkan sesuatu tetapi coba gali lebih dulu apa yang diinginkan anaknya tersebut saat bertemu dengan kita (kita hanya bisa memberikan pandangan/saran jika anak tersebut memang tidak/belum memiliki ide), karena biasanya anak tersebut menginginkan “sesuatu” yang tidak atau belum didapatkan dan atau merasa masih kurang apa yang ia dapatkan selama ini dari salah satu orang tuanya, sebab memang hakekatnya peran kedua orang tuan dalam keluarga yang utuh adalah saling melengkapi dan bekerja sama atas kebutuhan anaknya sendiri (kebutuhan dari sisi materi dan sisi psikis).

Jadi pengertian “quality time” dalam keluarga tidak saja menciptakan kebersamaan dalam bingkai kesenangan semata tetapi lebih jauh dari itu bahwa menciptakan “quality time” dalam keluarga sesungguhnya bagaimana kita bisa menciptakan kebersamaan dalam bingkai pembelajaran yang tidak terlupakan, menyenangkan dan sarat dengan bekal nilai kehidupan bagi anggota keluarga terutama anak-anak kita dan yang terpenting yang namanya “quality time” jangan anda fikir bisa tergantikan dengan materi dan fasilitas sebesar apapun juga karena hal itu merupakan pemuasan kebutuhan secara psikologis seseorang bukan pemuasan kebutuhan secara fisik atau materi.

Apa manfaatnya dengan kita harus bisa menciptakan “quality time” dalam keluarga ?

1. Bisa saling berbagi, memahami dan membantu sesama anggota keluarga

2. Dapat memberikan kehangatan, kebersamaan dan cinta kasih dalam keluarga antara

anak dengan orang tua dan sebaliknya

3. Dapat menciptakan pembelajaran atau nilai positif dalam intraksi saat bertemu

4. Dapat menciptakan kenangan indah yang bernilai dan tak mudah terlupakan

5. Menjadikan salah satu faktor penunjang kesehatan jiwa (psikis) seseorang

Dan berikut ada lima tips atau cara sederhana dalam menciptakan “quality time” dalam keluarga dengan baik :

1. Sadari bahwa waktu tidak bisa terulang lagi

2. Sadari bahwa waktu memiliki batasan (baik batasan dari sisi pertemuan itu sendiri maupun batasan usia kita dan anak kita)

3. Sadari bahwa quality time tidak dibutuhkan untuk anak saja tetapi seluruh anggota keluarga dan masing-masing harus merasakan manfaat dari diciptakannya quality time tersebut

4. Setiap kesempatan bertemu jadikan moment yang menyenangkan dengan muatan

pembelajaran yang tepat tujuan (seperti ngobrol bareng, diskusi, bertukar fikiran, saling memberikan kritikan membangun sekaligus berikan saran yang membangun pula, berkebun bersama, memasak bersama, pergi bersama, belajar kedisiplinan dan masih banyak lagi)

5. Pelihara “quality time” yang sudah terbentuk agar bisa bertahan selama-lamanya dan tetap bermanfaat bagi seluruh anggota keluarga.

Jadi kesimpulan dari tips diatas adalah : SADARI (membangun konsep), LAKUKAN dan PELIHARA.

Dengan lima tips sederhana tersebut diharapkan bisa melengkapi kebutuhan setiap anggota keluarga (orang tua dan anak) dan dapat tercapainya manfaatnya, karena kebutuhan hidup setiap manusia itu tidak hanya cukup terpenuhinya sandang, pangan dan papan saja, tetapi kebutuhan rohani / psikologispun harus dipenuhinya salah satunya dengan usaha untuk menciptakan kualitas nilai kebersamaan dalam keluarga tadi, dan pewujutannya hanya dengan menciptakan dan menjaga kualitas setiap pertemuan anggota keluarga (orang tua dan anak) yang harus memuat nilai-nilai pembelajaran yang positif dan tidak mudah terlupakan. Sehingga dengan terwujutnya kesimbangan dari kebutuhan hidup seseorang (kebutuhan jasmani dan rohani) akan menentukan dan meningkatkan nilai diri individu itu sendiri. Dan apa yang kita dan anak kita dapatkan saat ini pasti akan berpengaruh dengan kehidupan selanjutnya begitu juga dalam perkembangan psikisnya. Jadi akhir tulisan saya sampaikan “ciptakan lah quality time dalam keluarga sebelum terlambat”

==========================  SELESAI   ================================

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x