Sigit Budi
Sigit Budi wiraswasta

blogger @ sigitbud.com

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Ketika Moeldoko Bertemu Pemeran Film "Dilan", Apa yang Dibicarakan?

7 Februari 2018   14:16 Diperbarui: 7 Februari 2018   17:39 1274 0 1
Ketika Moeldoko Bertemu Pemeran Film "Dilan", Apa yang Dibicarakan?
Moeldoko ber-selfie dengan influencer medsos (Dokumentasi Pribadi)

Jendral (Purn) Moeldoko diangkat menjadi Kepala Staf Kepresiden (KSP) dalam "resuffle" kabinet lalu. Secara kelembagaan, KSP tdak mengurus soal negara dan birokrasi, namun secara fungsional membangun komunikasi politik dengan publik.

Menarik sekali ketika diajak mengikuti salah salah satu sessi pertemuan Kastaf KSP dengan netizen dan influencer media sosial. Kesan seorang militer yang kaku ternyata tidak tampak ketika berhadapan generasi millenial yang sepantaran anak-anak Jend (Purn) Moeldoko ini.

Sebagai mantan pejabat tinggi negara, Panglima ABRI, wibawa dan kesan serius masih terpancar dari pembawaannya. Wajar saja, karakter itu terbentuk selama berdinas di militer yang menghabiskan waktu yang pernah dijalaninya.

Tidak lancar bahasa Indonesia, pakai bahasa Inggris jadilah (Dokumentasi Pribadi)
Tidak lancar bahasa Indonesia, pakai bahasa Inggris jadilah (Dokumentasi Pribadi)
Ternyata Kastaf sangat respek terhadap anak-anak muda, dia melakukan survei kecil tentang keinginan dan aspirasi anak-anak "zaman now". Dia mendatangi anak-anak muda yang menjadi bagian staf KSP, kebanyakan mereka pernah kerja di luar dan mapan. Kepala KSP ini terkejut ketika mendapat jawaban dari anak-anak muda itu, mengapa mau bekerja di pemerintah dengan notabene gaji kecil.

"Saya mau di sini karena saya ingin memberikan kontribusi kepada pemerintah dan negara, selama ini saya di luar hanya marah dan komplain. Posisi saya selalu berseberangan, ada kesempatan saya ingin melihat apa yang dilakukan Presiden," cerita Jend. (Purn) Moeldoko kepada tamu dari generasi milenial.

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengapresiasi anak-anak milenial yang sangat aktif memproduksi konten-konten positif melalui media sosial maupun dalam kehidupan yang nyata.

Beberapa aktivis media sosial hadir dalam acara ini antara lain Eka Gustiwana, Jesica Milla, Ayla Dimitri, Danny Syah Aryaputra, Vanesha Prescilla, Anggika Bolsterli, Melody Nurramdhani Laksani, Vikra Ijas, serta kakak beradik Andovi da Lopez dan Jovial da Lopez, dan beberapa nama lain yang sangat populer sebagai influencer, endorser, maupun aktivis media sosial.

Moeldoko memberikan gambaran bagaimana tantangan ke depan dalam dunia yang berubah sangat cepat.

"Berbagai jenis pekerjaan akan menghilang, mulai dari perbankan sampai dengan manufaktur," ujarnya. Teknologi informasi dan komunikasi yang dihadirkan oleh Revolusi Industri 4.0, lanjut Moeldoko, akan mengubah cara manusia berproduksi dan menghasilkan sesuatu.

"Generasi seperti kalian-kalian ini, akan merasakan bagaimana teknologi akan menghimpit seluruh kehidupan manusia," ujar Moeldoko mengingatkan.

Mereka yang bertahan

Akan tetapi, Kepala Staf Kepresidenan juga memberikan panduan, bagaimana menghadapi perubahan tersebut.

"Mereka yang bertahan adalah mereka yang berhasil membangun dirinya. Tidak cukup hanya itu, mereka yang berhasil adalah mereka yang berhasil membangun dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya, dengan melakukan hal-hal yang produktif," ujar pria asal Kediri tersebut.

Untuk itu, inovasi adalah salah satu jawabannya. "Saya pernah bertemu dengan seorang mahasiswa UGM yang menemukan teknologi micro bubble untuk sistem perikanan. 

Setelah berdiskusi dan dimatangkan, teknologi tersebut kini sudah bisa masuk ke skala industri, dan dapat mempercepat pertumbuhan ikan-ikan menjadi lebih cepat," ujarnya. Dengan teknologi tersebut, produksi ikan budidaya dapat ditingkatkan.

Foto bersama
Foto bersama
Oleh karena itu, Moeldoko yang didampingi oleh Deputi V Kepala Staf Kepresidenan Jaleswari Pramodhawardani menegaskan, "Tantangan nasionalisme bagi anak-anak muda ke depan bukan lagi mengangkat senjata, melainkan bagaimana ikut menyejahterakan masyarakat luas melalui inovasi dan produksi-produksi hal positif yang dapat bermanfaat bagi masyarakat luas."

Ia melanjutkan penegasannya dengan mengatakan bahwa kuncinya adalah bagaimana mendistribusikan apa yang kita punyai, apa yang kita mampu, untuk mewujudkan keadilan sosial di tengah-tengah masyarakat.

Sementara itu Jaleswari menambahkan, Kantor Staf Presiden akan terus berkolaborasi dengan anak-anak muda untuk menebarkan kebaikan dan hal-hal positif. Ia bercerita bahwa diskusi dan pertemuan semacam ini bukanlah yang pertama kali dilakukan.

"Ini sudah pertemuan ketiga, dan mudah-mudahan dengan kami memfasilitasi pertemuan semacam ini, lebih banyak anak-anak muda yang dapat terlibat dalam gerakan membangun hal-hal produktif.

Sementara itu, ditanyakan perihal kekhawatiran dan keengganan anak-anak muda untuk terlibat dalam bidang politik, Moeldoko menjawab, "Dalam politik, kita sering hanya berfokus pada risiko.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2