Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... #Jadikan pekerjaan itu seni dan hobi#Email: vicksigit@gmail.com#ASN yang dulu sempat membidangi Humas dan Media#Sekarang Membidangi Seni dan Hiburan#

#Menulis sesuai suara hati,kadang sangat kritis,tapi humanis,berdasar fakta dan realita#Kebebasan berpendapat dijamin Konstitusi#Jangan pernah membungkam#

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Menyoal Tato, Antara Seni, Budaya, Haram, Serta Identiknya dengan Kriminal

27 April 2020   20:40 Diperbarui: 27 April 2020   20:53 141 22 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyoal Tato, Antara Seni, Budaya, Haram, Serta Identiknya dengan Kriminal
Ilustrasi gambar via Bislaw.id

Tato sebagai karya seni, tradisi dan warisan budaya serta kearifan lokal yang sangat perlu dilestarikan, tetapi disatu sisi masih jadi perbedaan pandangan antara sebagai seni budaya, haram, serta identiknya dengan kriminal.


Di Indonesia, sangat minim sekali masyarakat yang memandang tato sebagai seni. Pada umumnya persepsi yang berlaku bagi masyarakat Indonesia, tato selalu saja di citrakan buruk dan negatif.

Tato seringkali di prasangkakan atau di identikan dengan pelaku premanisme, pelaku kriminal ataupun deretan identitas perilaku tanpa moral yang lainnya.

Entah kenapa bagi masyarakat, bahwa bertato itu seringkali dianggap negatif atau memiliki image dan citra yang buruk dalam kehidupan sosial masyarakat Indonesia.


Padahal sebenarnya tidaklah semua orang yang bertato itu harus selalu identik dengan citra yang buruk dan negatif, premanisme, kriminal atau penjahat.


Mungkin hal ini bisa disebabkan karena motif dan landasan tujuan dari para penggunanya ataupun dari para preman itu sendiri yang memang menggunakan tato sebagai identitasnya agar terlihat lebih sangar dan menakutkan.

Atau mungkin ada orang yang dengan sengaja bertato tapi dengan maksud untuk menobatkan dirinya sebagai jagoan dan preman yang sangat ditakuti yang kalau begini tentunya bertujuan untuk membentuk salience dalam dirinya.

Atau bisa juga dari sudut pandang masyarakat yang memang sudah terlanjur terbiasa dan terbentuk yang berprasangka dan memberi stempel negatif kepada orang-orang yang bertato.

Karena terkadang juga secara kebetulan setiap kali melihat tindakan kriminal atau tertangkapnya pelaku tindakan kriminal, para pelakunya kerapkali selalu bertato.

Bahkan kejadian tertangkapnya pelaku kriminal yang bertato ini sering juga terjadi berulang-ulang dan semakin membuat masyarakat mengasosiasikan tato dengan kejahatan dan kriminal.

Sehingga timbullah alasan yang menjadi latar belakang pengaruh sosial, pengaruh psikologis, stereotipe ataupun prasangka dalam kehidupan masyarakat dan menjadi anggapan yang beredar di dalam masyarakat bahwa tato sangat erat kaitannya atau selalu identik dengan kriminal.

Selain itu, ditambah juga bila dari sudut pandang menurut hukum agama islam, ternyata soal tato ini secara tegas diharamkan.

Seperti menurut hadits HR Bukhari, Rasulullah Muhammad SAW bersabda: 

"Allah melaknat orang-orang yang mentato dan yang minta untuk ditato."

Menurut penjelasannya kenapa sampai harus diharamkan, ini disebabkan karena tato merupakan tindakan memasukkan jarum halus dan zat-zat berwarna ke kulit.

Sebab, dalam proses membuat atau melukis tato itu adalah termasuk tindakan yang merupakan perbuatan untuk menyakiti diri sendiri dan mengubah pemberian Allah SWT.

Lebih lanjut juga dijelaskan, bahwa tato dapat merusak tubuh, tato tidak memiliki manfaat sama sekali dan tidak maslahat bagi manusia walaupun tato juga dianggap sebagai seni dan indah.

Namun kalau Berdasarkan Al-Quran 18 : 7 dan 7 : 32 disimpulkan bahwa hukum tato adalah mubah. Artinya, dalam hal ini, tak ada larangan ataupun anjuran.

Meskipun demikian, jika perbuatan merajah tubuh itu dapat membawa dampak negatif, maka hukum tato menjadi makruh atau lebih baik ditinggalkan, bahkan bisa menjadi haram.

Sehingga berlatar belakang dari seluruh penjelasan diatas, karena akibat prasangka negatif dan dari sisi hukum islam tersebut pada akhirnya dapat menimbulkan sisi dilematis serta pro dan kontra.

Bahkan akhirnya soal pandangan terhadap tato ini dapat mengekang dan membatasi kreativitas orang yang memang murni ingin menciptakan tato sebagai karya seni.

Sebenarnya bila mundur jauh kebelakang menurut sejarahnya, semenjak 5.000 tahun yang lalu, tato merupakan warisan kebudayaan manusia.


Di Nusantara sendiri sebenarnya, budaya melukis tubuh dengan tato juga di miliki oleh berbagai suku, seperti salah satunya adalah masyarakat suku Dayak yang menggunakan tato sebagai simbol strata dan kelas sosial masyarakatnya.


Jadi sebenarnya kalau dikembalikan lagi menurut sejarahnya, maka tato ini sejatinya adalah seni, sehingga yang jadi masalah itu adalah bagaimana soal praktik pengejawantahannya dan tinggal bagaimana sebenarnya menilainya dari sisi sudut pandang masing-masing saja.

Sehingga disinilah yang menjadikan alasan penulis untuk menghindari perdebatan soal haram atau tidaknya soal tato ini, sebab kalau ditilik secara umumnya menurut pandangan islam masih bisa dimubahkan dan dimakruhkan, artinya masih bisa ditolerir dengan catatan tertentu.

Tentu saja juga, selama masih boleh berpendapat, maka tidak ada salahnya juga bila penulis mengambil pembahasan dari sisi sudut pandang tato sebagai seni.


Bagi para seniman dan suku tertentu di Indonesia, tato ini merupakan bagian dari budaya dan esensi diri untuk menghargai tato sebagai seni dan mengapresiasinya, menjunjung tinggi dan menjadikannya sebagai bagian dari jiwa.


Sehingga sudut pandang tato ini, perlu juga dibedakan lagi antara orang yang memakai tato karena memang sebagai seni ataupun budaya bawaan dari lingkungan mereka seperti suku-suku tertentu.

Ataupun yang memang dengan sengaja bertato demi ingin menonjolkan sesuatu dari dalam dirinya sebagai identitas dengan niat dianggap sangar atau menakutkan, yang sudah barang tentu memiliki suatu niat dan maksud tertentu sebab tidak mungkin tato hanya berfungsi sebagai gambar saja pada dirinya sendiri.

Inilah juga yang menyebabkan prasangka oleh masyarakat pada umumnya yang menunjukkan reaksi sikap dan tingkah laku negatif terhadap orang-orang yang bertato. Prasangka ini berefek mewabah, merusak dan meluas, bahkan masyarakat semakin takut untuk dekat dengan orang bertato.


Pada prinsipnya, sejatinya orang yang bertato itu bukanlah seorang kriminal. Tetapi, karena ada yang menginformasikan dan ada yang secara sengaja menobatkan tato dipakai untuk menunjukan keangkuhan jati diri termasuk dengan tertangkapnya penjahat yang bertato.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN