Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... #Jadikan pekerjaan itu seni&hobi#

#Menulis sesuai suara hati,kadang sangat kritis,tapi humanis,berdasar fakta&realita#Kebebasan berpendapat dijamin Konstitusi#Jangan pernah membungkam#

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Kebebasan Berpendapat Mulai Terasa Tidak Bebas?

18 Januari 2020   10:04 Diperbarui: 18 Januari 2020   10:09 45 9 1 Mohon Tunggu...
Kebebasan Berpendapat Mulai Terasa Tidak Bebas?
Ilustrasi gambar | Dokumen fajar.co.id


Apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan. Dituduh subversif mengganggu keamanan. Maka hanya ada satu kata, Lawan!(Wiji Thukul).


Penggalan rangkaian kata kata puisi karya Wiji Thukul diatas, mengingatkan kepada kita bahwa kebebasan menyuarakan dan menyingkap kebenaran berdasar fakta adalah ungkapan jujur yang berasal dari hati dan nurani.

Sayangnya tidak semua orang ingin kebenaran diungkap ke permukaan. Kerapkali orang-orang yang anti kebenaran justru melakukan tindakan intimidasi, teror, kriminalisasi, premanisme ketika kebenaran harus terkuak.

Di Indonesia, kebebasan berpendapat seluruh warganegara sangat di jamin oleh konstitusi, namun kita justru pernah merasakan bagaimana kebebasan berpendapat ataupun menyampaikan aspirasi dibungkam habis pada masa rezim orde baru.

Media yang diharapkan dapat menjadi pilar ke empat demokrasi, ternyata saat itu justru tak berdaya melawan kekuatan rezim orde baru, sedikit saja media bersebrangan dengan rezim, bakal diobok obok, bahkan orang orang yang berkecimpung didalamnya ada yang hilang ditelan bumi.

Kondisi ini juga dialami Warganegara, tak berani bersuara sumbang terhadap rezim dan begitu sangat ketakutan karena bila sedikit saja berani berseberangan dengan rezim orde baru maka bisa bernasib sama, bakal hilang ditelan bumi.

Hilangnya Wiji Thukul seorang aktivis HAM dan Sastrawan yang dengan gagah berani tak kenal rasa takut yang selalu tampil heroik mengkritisi rezim orde baru, adalah salah satu bukti bagaimana kejamnya rezim orde baru. Begitu sulitnya saat itu kita berpendapat, begitu sulitnya media saat itu mengungkap fakta dan kebenaran.


Pasca berhasilnya reformasi, warganegara dan media merayakan euforia, suara suara kritis bebas diungkapkan warganegara, kebebasan pers semakin digjaya, marwah aspirasi seluruh warganegara kembali kepada konstitusi. Media hidup kembali dan menjadi pilar ke 4 demokrasi negara.


Namun sering waktu berjalan, rezim rezim  berganti, euforia itu perlahan kian sirna, ketika perlahan demi perlahan rezim rezim yang berkuasa mulai merasa alergi dengan kebebasan pers dan kebebasan berpendapat, bahkan perlahan demi perlahan mulai berlaku hingga rezim yang sekarang berkuasa.


Menurut kajian Freedom House, kebebasan berpendapat Indonesia tak pernah bebas sepenuhnya sepanjang 2015-2019. Indonesia bahkan tidak pernah mencapai angka penilaian 70 dari 100. Yang teranyar, Indonesia hanya mendapat skor 62.

Bisa diambil contoh, pengalaman pahit berbagai demo massa beberapa waktu silam yang akhirnya semakin di batasi, dan berujung pada tindak kekerasan dan pelanggaran HAM, baik pada massa pendemo maupun pers, hingga akhirnya jatuh korban jiwa.

Sebenarnya hal ini bisa jadi pertanda yang buruk bagi masa depan kebebasan berpendapat ataupun juga kebebasan pers, pasca trauma ketika kebebasan tersebut pernah dibungkam.

Kebebasan berpendapat dan kebebasan pers sangat membantu masyarakat dalam mendapatkan hak-hak publiknya seperti, partisipasi dalam politik, akses kesehatan dan pendidikan yang baik, serta menjaga kekuasaan dari prilaku menyimpang dan korupsi.

Kebebasan berpendapatan dan kebebasan pers merupakan hak asasi warga Negara. Karena merupakan pengejawantahan hak asasi manusia.

Oleh karenanya kekuatan politik atau pemerintah tentunya tidak bisa semena mena melakukan tekanan tekanan yang mengekang kebebasan berpendapat dan kebebasan pers.

Tentunya kita tidak ingin sejarah kelam kebebasan berpendapat dan kebebasan pers kembali mundur kebelakang, dan jangan sampai terulang ketika kita harus dibungkam, ini tidak boleh berlaku.

Jadi, seluruh warganegara dan media di Indonesia jangan pernah surut langkah untuk menyampaikan aspirasi, untuk berpendapat dan mengungkapkan kebenaran sesuai fakta.

Selama tidak menyalahi aturan dan sesuai dengan norma norma yang dijamin dalam konstitusi, maka kebebasan berpendapat dan kebebasan pers itu mutlak milik seluruh warganegara dan harus tetap ada tak lekang oleh waktu.

Semoga bermanfaat.

Sigit Eka Pribadi.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x