Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... Menulis untuk berbagi

Jadikan pekerjaan itu seni&hobi.

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Nyinyir dalam Politik, Kritik atau Bukan?

13 Oktober 2019   00:40 Diperbarui: 13 Oktober 2019   01:14 0 5 0 Mohon Tunggu...
Nyinyir dalam Politik, Kritik atau Bukan?
Ilustrasi Nyinyir | sumber: alamy.com

Perkembangan bentuk propaganda semakin meningkat pesat saat ini di Indonesia, berbagai bentuk propaganda banyak dilakukan oleh para elit politik dan elit pemerintah baik yang berkuasa maupun yang ingin berkuasa. Selain itu propaganda saat ini turut juga terbangun dalam sosial masyarakat.

Propaganda sendiri artinya adalah merupakan rangkaian pesan yang bertujuan untuk memengaruhi pendapat dan kelakuan masyarakat atau sekelompok orang.

Propaganda tidak menyampaikan informasi secara obyektif, tetapi memberikan informasi yang dirancang untuk memengaruhi pihak pihak.

Selain propaganda yang digaungkan pada umumnya dan juga propaganda berdasarkan data, maka di era kemajuan zaman saat ini juga banyak berubah menjadi propaganda dalam bentuk nyinyir dikalangan masyarakat.

Setiap isu dalam momen momen tertentu seperti pemilihan kepala daerah atau pemilihan presiden, atau momen lainnya selalu diangkat menjadi tema dan biang terbentuknya propaganda yang juga berdampak pada masyarakat.

Tanpa segan para elit politik dan elit pemerintah berlomba lomba menelurkan propagandanya di setiap panggung politik ataupun demokrasi yang bertujuan untuk memenangkan kontestasi dan kekuasaan.

Persoalan mengenai propaganda tersebut dapat dipahami oleh publik atau tidak, itu persoalan bagaimana nantinya saja atau itu urusan belakangan.

Karena pada akhirnya, publiklah yang akan  mengikuti dan turut terbawa dalam propaganda yang dibuat oleh para elit politik dan elit pemerintah tersebut.

Sehingga berlatar belakang berbagai alasan diatas muncullah istilah seperti; kritik, nyindir, dan nyinyir yang telah menyatu dalam dialektika dan perilaku politik di Indonesia saat ini.

Sampai saat ini jadi agak sulit membedakan antara kritik, nyindir, dan nyinyir. Semuanya sudah bukanlah hal yang tabu lagi dalam konteks propaganda dalam politik.

Kadang kala yang berlaku sindiran disebut kritik, kritik disebut nyinyir, atau nyinyir disebut kritik dan nyindir disebut nyinyir.

Seringkali terjadi pihak yang sejatinya mengkritik dianggap cuma menyinyir belaka, atau malah sebaliknya, seperti yang kerapkali ramai di media sosial, khususnya di Twitter banyak terjadi perang nyinyir, karena nyinyiran pada akhirnya dilawan dengan nyinyiran juga.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Nyinyir sebenarnya bermakna 'mengulang-ulang perintah atau permintaan'; nyenyeh; cerewet'.

Kalau kata nyinyir bermakna seperti di atas, sebenarnya tidak ada hubungannya antara kritik dan nyinyir. Akan tetapi kalau yang dimaksud nyinyir adalah cerewet masih bisa ditarik benang merahnya.

Bila merujuk pada kata cerewet maka menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia cerewet bermakna 'suka mencela (mengomel, mengata-ngatai, dsb.)'.

Jadi bila cerewet dihubungkan dengan bentuk propaganda nyinyir boleh dikata ada hubungannya karena bisa jadi maksudnya  nyinyir tersebut maksudnya digunakan untuk mencela atau mengata-ngatai tanpa memperhatikan benar atau salah yang dikatakan.

Namun yang menjadi dilematis, seiring waktu bentuk kritikan saat ini mulai ditafsirkan secara sempit oleh penguasa sebagai bentuk protes yang konstruktif saja yang hanya boleh sah berlaku.  

Padahal, kata kritik dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia juga bermakna 'mengecam', di luar ada atau tidak adanya data.

Seperti dalam kancah politik, tentunya dapat dipastikan bahwa hampir tidak ada lawan politik yang memberikan kritikan yang konstruktif kepada saingannya.

Tentunya bentuk kritikan yang diutarakan pastinya adalah bentuk propaganda yang destruktif untuk menjatuhkan lawan.

Maka berlatar dari inilah mengapa kerapkali bentuk kritikan itu dianggap tidak berdasar dan tetap akan terus dikatakan sebagai nyinyiran.

Lalu yang bagaimanakah sebenarnya yang pantas disebut kritikan?

Apakah yang murni dalam bentuk konstruktif ataukah saat ini nyinyir memang juga bagian dari kritik itu sendiri.

Sejatinya untuk mengembalikan makna yang mana kritik atau nyinyir dan nyindir adalah bagaimana seharusnya meluruskan kembali penafsiran kritik menurut sudut pandang yang luas dalam politik.

Karena bagaimana pun juga yang berlaku saat ini kritik dan nyinyir merupakan bagian yang tak terpisahkan dari strategi dan propaganda dalam mengusung kepentingan, baik itu kepentingan pribadi ataupun kepentingan politik praktis.

Fenomena dan paradigma atau bahkan stigma menyatunya kritik, nyinyir dan nyindir dalam dialektika politik saat ini sejatinya bukanlah sesuatu yang tabu dan wajar di ungkapkan sebagai propaganda.

Karena dalam dialektika perpolitikan, mengenai kritik, nyinyir dan nyindir bisa saja tepat dan bisa juga melenceng.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa sebenarnya nyinyir dapat dianggap masih merupakan bentuk ekspresi atau propaganda yang wajar saat ini berlaku.

Ini karena nyinyir kadang-kadang diperlukan sebagai pendobrak pintu pertahanan lawan politik dan diperlukan juga untuk melumpuhkan kritikan dari lawan politik.

Namun yang sangat perlu jadi catatan penting agar tidak menjadi polemik dan persoalan dibelakang hari adalah bagaimana bisa melihatnya dan membentuknya dengan cermat dan penuh kehati hatian.

Dengan cara mengutamakan tujuan dalam membentuk dan menciptakan penafsiran dan sudut pandangnya menjadi wajar dalam dialektika perpolitikan serta dapat membaca dengan seksama dan teliti bagaimana menempatkan bentuk nyinyiran dan sindiran tersebut pada situasi dan kondisi serta waktu yang tepat untuk menjadi propaganda politik yang wajat dan kritik yang benar.

Hanya berbagi.
Sigit Eka Pribadi.