Mohon tunggu...
Sigit Eka Pribadi
Sigit Eka Pribadi Mohon Tunggu... Menulis untuk berbagi

Jadikan pekerjaan itu seni&hobi.

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengapa Para "Lady Boy" Semakin Banyak?

17 Juli 2019   23:03 Diperbarui: 19 Juli 2019   07:28 582 6 1 Mohon Tunggu...
Mengapa Para "Lady Boy" Semakin Banyak?
Ilustrasi lady boy/waria | Dokumen gambar milik Brilio.net

Realita keberadaan para Lady boy atau Waria dalam hidup ini tak bisa ditampik. Bahkan perkembangannya di negara-negara dunia dinilai makin meningkat termasuk juga di Indonesia.

Di Negara Thailand misalnya para Lady Boy ini dapat ditemukan dimana-mana disetiap sudut kota di Thailand, Melansir dan merangkum berita dari theblondtravels.com.

Dinyatakan di setiap kelas di sekolah Thailand setidaknya ada satu ladyboy, ada jugadi pasar penjual buah wujud wanita cantik namun tangannya agak kasar dan suaranya rendah, namun ternyata setelah ditelisik adalah seorang ladyboy.

Para Lady boy ini biasanya memutuskan mengubah gendernya saat beranjak remaja dengan menggunakan obat hormon dapat yang dibeli tanpa resep dan tersedia di setiap apotek di Thailand. Sehingga banyak anak laki-laki usia 13 sampai 15 tahun yang mulai minum obat tanpa sepengtahuan orang tua karena ingin terlihat feminim .

Orangtua di Thailand biasanya tidak bereaksi saat anak-anak mereka mulai berperilaku seperti anak perempuan dan menganggapnya sebagai pertumbuhan yang alami.

Kemudian yang jadi persoalan bahwa di Thailand, para Lady Boy malah menjadi komersialitas karena sering diadakan festival yang melibatkan para Lady boy.

Eksistensi para Lady Boy di Thailand ditolerir keberadaannya, ini karena faktor kepercayaan agama yang di anut, yang mempercayai reinkarnasi, dinyatakan bahwa para Lady Boy ini adalah reinkarnasi dari orang orang yang ingin menebus dosanya di kehidupan keduanya.

Masyarakat di Thailand malah memperlakukannya dengan penuh belas kasih, namun tetap memberi pencerahan agar kembali ke jalan yang benar menjadi pria sejati. Itulah mengapa di Thailand para Lady Boy malah kian pesat perkembangannya.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia?

Dirangkum dari berbagai penelitian dari para pakar yang berwenang mengenai Waria atau Lady boy yang termasuk dalam komunitas LGBT dinyatakan, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab mengapa banyak pria yang menjadi Lady boy.

Faktor keluarga adalah faktor paling utama penentu seseorang pria menjadi waria. Terkait hal ini bagaimana cara orang tua yang salah dalam memperlakukan anak lelakinya seringkali terjadi.

Misalnya, memperlakukan anak laki-laki sama dengan perempuan dengan memanjakannya atau tidak adanya sikap tegas dalam memperlakukan anak. Selain itu juga kurang peka memperhatikan dan mengontrol perkembangan serta perilaku anak lelakinya yang menjurus ke feminim dan kewanita-wanitaan.

Dari penelitian oleh para ahli terhadap waria, ada pengaruh psikis yang merasa bahwa dirinya sebenarnya bukan pria namun perempuan yang sedang terjebak dalam tubuh yang salah, yang harus berada di tubuh laki-laki.

Sehingga kondisi ini mempengaruhi pola pikir mereka dalam menentukan gendernya, yang pada akhirnya mereka memutuskan menjadi wanita.

Merunut dari kondisi psikis ini, patut diruntun kembali bagaimana peran orang tua saat dahulunya sebelum jadi waria saat masa kanak kanaknya hingga menuju dewasa pasti ada yang salah dalam pola pengasuhan.

Ditambah lagi kondisi faktor ekonomi setelah lepas dari tanggung jawab orang tua juga sangat berpengaruh, mau tidak mau mereka yang tersesat dan salah jalan ini harus tetap mencari nafkah, sehingga bekerja jadi bahan hiburan dengan gaya wanita harus pun ditempuh.

Faktor lainnya adalah faktor genetik, faktor ini tidak terkait dengan faktor orang tua karena memang bawaan semenjak lahir. Faktor tersebut menyebabkan seseorang merasa bingung menentukan identitas gendernya. Apakah dirinya memang terlahir untuk menjadi seorang laki-laki atau perempuan.

Berkaitan dengan ini ada istilah interseks, di mana membuat kondisi seorang pria tidak memiliki ciri eksklusif sebagai laki-laki maupun perempuan. Ini bisa disebabkan karena memang kromosomnya berbeda dari manusia lainnya. Akhirnya memutuskan untuk memilih menjadi seorang perempuan walaupun sebenarnya adalah laki-laki.

Dalam menelisik perkembangan jumlah waria di Indonesia penulis hanya mendapat data dari laporan Kementerian Kesehatan yang dikutip dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional yang mengungkap jumlah Lelaki berhubungan Seks dengan Lelaki (LSL) alias gay sudah mencapai angka jutaan.

Berdasarkan estimasi Kemenkes pada 2012, terdapat 1.095.970 LSL baik yang tampak maupun tidak. Lebih dari lima persennya (66.180) mengidap HIV. Sementara, badan PBB memprediksi jumlah LGBT jauh lebih banyak, yakni tiga juta jiwa pada 2011.

Padahal, pada 2009 populasi gay hanya sekitar 800 ribu jiwa. Mereka berlindung di balik ratusan organisasi masyarakat yang mendukung kecenderungan untuk berhubungan seks sesama jenis.

Sampai akhir 2013 terdapat dua jaringan nasional organisasi LGBT yang menaungi 119 organisasi di 28 provinsi. Pertama, yakni Jaringan Gay, Waria, dan Laki-Laki yang Berhubungan Seks dengan Laki laki Lain Indonesia (GWLINA) didirikan pada Februari 2007.

Jaringan ini didukung organisasi internasional. Jaringan kedua, yaitu Forum LGBTIQ Indonesia, didirikan pada 2008. Jaringan ini bertujuan memajukan program hak-hak seksual yang lebih luas dan memperluas jaringan agar mencakup organisasi-organisasi lesbian, wanita biseksual, dan pria transgender.

Secara umum bisa dapat disimpulkan, setiap tahun perkembangannya menunjukan trend yang meningkat, bisa jadi di tahun 2019 ini dab tahun selanjutnya malah lebih banyak lagi.

Potensi perkembangan Waria termasuk LGBT semakin membuat rawan meningkatnya penyebaran, penularan penyakit HIV AIDS dan otomatis meningkat juga penderita ODHA.

Oleh karena itu, tentunya tidaklah mudah bagi pemerintah mengatasi permasalahan keberadaan waria atau Lady boy dan LGBT dengan segala dampaknya tersebut. Yang jelas perlu peran bersama seluruh masyarakat.

Dan yang paling utama dan penting adalah bagaimana peran orang tua yang harus selalu peka memperhatikan perkembangan anaknya sejak kanak kanak hingga beranjak remaja, karena di masa tersebutlah seorang anak sedang mencari jati dirinya.

Sigit.

Referensi : theblondtravel.com, Kemenkes RI, dan sumber lainnya.









VIDEO PILIHAN