Mohon tunggu...
Sholehudin Abdul Aziz
Sholehudin Abdul Aziz Mohon Tunggu... Seorang yang ingin selalu bahagia dengan hal hal kecil dan ingin menjadi pribadi yang bermanfaat untuk siapapun

Perjalanan hidupku tak ubahnya seperti aliran air yang mengikuti Alur Sungai. Cita-citaku hanya satu jadikan aku orang yang bermanfaat bagi orang lain. Maju Terus Pantang Mundur. Jangan Bosan Jadi Orang baik. Be The Best.

Selanjutnya

Tutup

Kotak Suara

Tamasya Al Maidah: Intimidasi dan Pesanan Politik Pilkada?

19 April 2017   13:14 Diperbarui: 19 April 2017   13:21 309 1 0 Mohon Tunggu...

2 minggu ini publik Jakarta dikenalkan dengan istilah “tamasya al maidah” yang dipopulerkan oleh para alumni aksi 212 untuk mengawal Pilkada DKI, katanya. Walau akhirnya pihak keamanan secara tegas melarang kegiatan ini tapi program ini terlanjur “ngetrend” dan mereka bersikeras melaksanakannya.

Pada hari ini, ternyata kegiatan “tamasya al maidah” tidak berjalan dengan lancar karena pihak keamanan sudah menyatakan akan bertindak tegas bila ada pengerahan massa di TPS TPS dengan dalih pengamanan jalannya pencoblosan. Polisi menyatakan bahwa mobilisasi massa di TPS TPS berpotensi menganggu pemungutan suara dan merupakan bentuk intimidasi terhadap pemilih. Namun hal ini ditanggapi berbeda oleh Ketua panitia Tamasya Al Maidah Ansufri ID Sambo, dimana ia berdalih, bahwa aksi ini hanya untuk memastikan jalannya pencoblosan berjalan adil, jujur dan demokratis serta berharap kepastian kemenangan calon mereka, selain Ahok.

Faktanya, yang saya lihat di laporan media online, “tamasya al maidah” ini terjadi di beberapa lokasi TPS saja terutama di TPS 05 wilayah Kuningan Timur. Sekelompok orang juga mendatangi TPS di wilayah Jakarta Timur. Mereka datang ke TPS di Duren Sawit, Pondok Ranggon dan Cipayung, Jakarta Timur. Namun anehnya mereka mengaku berasal dari luar DKI dan mengaku dari tim Paslon 3.

Bagi saya, kegiatan “tamasya al maidah” ini merupakan bentuk intimidasi berkedok pengamanan saja. dan dugaan kuatnya kegiatan ini merupakan pesanan politik "tidak langsung" untuk memenangkan pasangan calon tertentu.  Hal ini sangat tidak fair dan cenderung manipulatif. Bila ditelusuri lebih dalam lagi, kegiatan ini merupakan move move politik yang digerakkan oleh sekelompok tertentu untuk mememangkan salah satu pasangan calon saja. Dalam Bahasa gaul “tak usah ada dusta di antara kita” bahwa mereka partisan namun berkedok pengamanan saja.

Beruntung pihak keamanan bersikap tegas dan sigap sehingga sekitar 350 orang berhasil dicegah untuk memasuki TPS TPS dan meminta mereka untuk pulang ke daerahnya masing-masing. Lebih jauh, kondisi ini harus menjadi pembelajaran bagi kita semua bahwa pemaksaan kehendak dalam demokrasi adalah suatu yang tidak diperkenankan. Berbeda pilihan dalam demokrasi itu biasa dan bahkan wajib ada maka dari itu sikap penghargaan dan penghormatan atas perbedaan itu harus benar-benar ada dalam “dada sanubari” setiap anggota masyarakat.

Bagi saya, kegiatan ini merupakan embrio intolerensi yang menafikan kebebasan dalam berdemokrasi dan bila hal ini dibiarkan terjadi maka akan berkembang menjadi kebencian, dimana akan berujung kepada perlawanan secara nyata yang lagi lagi akan meng obrak abrik tatanan keberagaman dan kebersamaan bangsa majemuk ini. Semoga ke depan kita lebih "jujur lagi"d an "tidak ada dusta di antara kita". Mari kita junjung sportifitas. Mari menang secara bermartabat.

VIDEO PILIHAN