Mohon tunggu...
Shamar Khora
Shamar Khora Mohon Tunggu...

Referensi Pendamping, Inspiratif, Berimbang

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Natal dan Pesan Eskatologi

25 Desember 2013   02:03 Diperbarui: 24 Juni 2015   03:31 47 0 0 Mohon Tunggu...

Perayaan Natal, sekiranya mengikuti kebiasaan lama, berfokus pada peristiwa kelahiran Yesus Kristus (Isa Al Masih), Sang Juruselamat, ke dalam dunia. Kedatangan-Nya senantiasa dinanti-nantikan oleh umat manusia, sebab para nabi telah menubuatkan kelahiran itu sepanjang berabad-abad.

Sekiranya mengacu pada tradisi lama, perayaan Natal di pelbagai gereja lazimnya berkisar di seputar pemberitaan kelahiran sang bayi kudus. Kelahiran bayi Yesus sejatinya telah menggenapi rencana Allah untuk menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Dia datang untuk mengubah “takdir” kekal umat manusia. Sejak kedatangan-Nya yang pertama kali ke dalam dunia, periodisasi sejarah dunia spontan telah terbagi dua—periode sejarah dari masa sebelum kedatangan-Nya (biasa disimbolkan “SM” atau “Seb. M”, artinya periode Sebelum Masehi) dan periode sejarah sejak kedatangan-Nya yang pertama kali (biasa disimbolkan “M”, artinya di dalam tahun Masehi).

Kini, perayaan Natal umat Nasrani bukan sekadar untuk memperingati kelahiran sang bayi Juruselamat itu saja, karena telah melangkah lebih lanjut di bawah terang Eskatologi. Warisan kekal pengharapan iman umat Nasrani sejatinya berkelindan pemahaman prinsip-prinsip Eskatologi. Sebab, dengan mengacu pada rancangan keselamatan (Heilsgeschichte) yang telah direncanakan oleh Allah sejak dunia belum dijadikan, maka dari generasi ke generasi dan sepanjang berabad-abad, umat Nasrani terus-menerus menantikan penggenapan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali ke dalam dunia (the Second Coming). Pada saat kedatangan kedua kali itu, Dia bukan lagi datang sebagai seorang bayi, melainkan sebagai Sang Hakim yang berkuasa untuk menghakimi dunia!

Dalam iman Nasrani, tidak seorang pun mampu untuk membebaskan dirinya atau menyelamatkan diri sendiri. Siapa pun, sepanjang dia sebangsa manusia, pastilah dia membutuhkan Sang Juruselamat (Mesias). Natal adalah berita tentang pembebasan umat manusia dari belenggu kuasa dosa. Tentu saja, conditio sine qua non berlaku bagi dia yang percaya. Iman Nasrani meyakini, bahwa seseorang dapat menjadi percaya sejatinya itu karena dia telah memperoleh kasih karunia (anugerah) Allah.

Keselamatan kekal bukanlah soal siapa beragama apa! Slogan-slogan seperti “masyarakat agamis” ternyata sering tidak bersambung dengan realita hidup sehari-hari. Yang disebut-sebut “kesalehan” itu sering hanya sebatas di ruang lingkup pribadi. Padahal, Indonesia membutuhkan kesalehan sejati yang meruyak hingga ke seluruh ruang publik! Tetapi, ingatlah bahwa itu bukan diupayakan dengan perbuatan memaksakan kehendak pribadi/golongan sendiri kepada sesama. Namun, manakala yang sejati itu terwujud, niscaya Indonesia dapat berkeadilan, damai, dan sejahtera.

Seorang mantan ketua Mahkamah Konstitusi pernah menjawab bahwa seluruh persediaan ilmu-ilmu di gudang sudah dikeluarkan semua, tetapi tidak satu pun “manjur” untuk menyembuhkan rupa-rupa penyakit akut bangsa kita secara nasional: budaya korupsi, mentalitas terabas (kecanduan beragam praktik “akal-akalan”), dan perilaku atau karakter unmanageable (istilah yang terakhir ini, saya pinjam dari mas Budiarto Shambasy, jurnalis senior harian Kompas). Artinya, bangsa kita membutuhkan pembebasan sejati; bukan sekadar dibawa melangkah hanya sampai di depan pintu gerbang kemerdekaan!

Dalam iman Nasrani, Yesus Kristus (Isa Al Masih) pernah mengatakan—jauh-jauh hari sebelum Dia akan datang kembali sebagai Hakim Tertinggi—bahwa Dia adalah PINTU dan JALAN keselamatan bagi dunia. Natal senantiasa mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati itu tidak dapat lepas dari penyerahan total hidup kita sepenuhnya kepada Sang Juruselamat. Sembari kita tetap berkarya di tengah dunia, kita diingatkan juga untuk senantiasa bertekun dalam menantikan penggenapan pengharapan iman kita.

Selamat Natal!

***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x