Shalahuddin Ahmad
Shalahuddin Ahmad profesional

Alumni ITB, Mantan Country Director dari sebuah perusahaan global, dan berkantor di sebuah kota tepi Black Sea. Menulis sebagai rasa tanggung jawab sosial untuk sharing, edukasi, dan menguji pemikiran sendiri serta dapatkan feedback dari komunitas. Aktif di Quora dan FB di waktu senggangnya.

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Artikel Utama

PT Pos Indonesia, Bagaimana Kabarmu Kini?

19 Desember 2016   12:48 Diperbarui: 19 Desember 2016   13:36 624 4 6
PT Pos Indonesia, Bagaimana Kabarmu Kini?
Sumber ilustrasi: bisnis.com

PT Pos Indonesia merupakan transformasi dari perusahaan negara Pos dan Giro yang terkenal dengan nuansa warna oranye pada kantor dan logonya. Perusahaan ini sudah berdiri lama dan sepertinya bahkan sudah ada sebelum Indonesia merdeka dan dalam pengelolaan kolonial Belanda.

Perusahaan ini sempat mengalami kejayaan di zaman Orba. Ketika zaman berubah dan teknologi elektronik merambah, maka perusahaan ini sangat terpukul. Orang sudah jarang menggunakan komunikasi surat dan lebih sering menggunakan email. Pada saat lebaran dan berbagai perayaan, kartu ucapan selamat sudah diganti dengan kiriman animasi di Whatsapp, Telegram, email dan berbagai messenger lainnya.

Entah ini disebabkan oleh perencana strategis di PT Pos tak sanggup membuat rencana strategis ataukah para top management dan perencananya kurang visioner sehingga PT Pos tampak gagap dan tak sanggup cepat beradaptasi dengan perubahan yang begitu cepat.

Diakui PT Pos Indonesia menanggung beban berat warisan orde baru untuk membuka kantor cabang di tingkat kecamatan di seluruh penjuru Indonesia. Ini adalah beban operasi berat karena tak semua cabang di tingkat kecamatan tersebut sanggup mendapatkan revenue melebihi biaya operasinya, bahkan untuk membayar gaji karyawannya pun harus nombok tak sesuai dengan pendapatannya.

Meskipun demikian PT Pos sebaiknya jeli dan cepat melakukan gelombang transformasi baru. Kebutuhan layanan logistik masih tetap tinggi dan akan selalu ada. Saya sendiri banyak menggunakan jasa layanan logistik swasta sekedar untuk mengirimkan dokumen dari kantor ke rekan bisnis karena cara itu praktis, tak perlu mengantar langsung, bebas biaya tol, biaya parkir, dan hemat waktu. Dengan modal delapan ribu rupiah, dokumen sudah sampai keesokan hari, dibandingkan dengan mengantar langsung yang paling tidak membutuhkan biaya dua puluh lima ribu dan waktu yang banyak terbuang.

Saya begitu senang ketika melihat ada konter pos dibuka tak jauh dari rumah saya. Meskipun hanya seukuran warung kios, tapi itu akan sangat membantu lebih menghemat waktu saya lagi, meskipun layanan logistik swasta sekarang sudah menggunakan layanan antar jemput paket. Saya menyediakan waktu untuk mampir menanyakan informasi dan membeli perangko.

Saya disambut petugas yang tampak dingin dan kurang bersahabat Tanpa memandang wajah saya, ia menjawab tarif perangko untuk surat biasa, surat kilat, dan biaya untuk surat kilat khusus. Ketika akhirnya saya tanyakan, di mana saya bisa temukan kotak pos terdekat untuk mengirim surat saya, saya kaget ketika petugas menjawab tidak tahu. Kalau begitu apakah di kantor ini ada lubang untuk memasukkan surat yang akan saya kirim? Petugas kembali menjawab tidak ada. Akhirnya, saya pun mengatakan, maaf, tak jadi beli perangkonya, mau digunakan untuk apa kalau tak bisa temukan kotak suratnya.

Pekerjaan besar PT Pos Indonesia adalah memperbaiki kualitas layanan konter-konternya dengan menempatkan orang-orang yang bermental baik dan berorientasi pelayanan. Dengan model pelayanan buruk seperti ini, sayapun yang punya semangat menggunakan jasa pos, menjadi ciut dan akhirnyakembali menggunakan jasa logistik swasta untuk keperluan mengirim dokumen saya.