Mohon tunggu...
Shalahuddin Ahmad
Shalahuddin Ahmad Mohon Tunggu...

Alumni ITB, Mantan Country Director dari sebuah perusahaan global, dan berkantor di sebuah kota tepi Black Sea. Menulis sebagai rasa tanggung jawab sosial untuk sharing, edukasi, dan menguji pemikiran sendiri serta dapatkan feedback dari komunitas. Aktif di Quora dan FB di waktu senggangnya.

Selanjutnya

Tutup

Politik

Vonis Ahok: Dua Tahun untuk Puaskan Teman Ahok

9 Mei 2017   23:10 Diperbarui: 9 Mei 2017   23:27 700 2 4 Mohon Tunggu...

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi tulisan Erika Avalokita dengan judul "Vonis Ahok : Dua Tahun Untuk Puaskan Rakyat".

Bagi saya kasus ini sudah sangat menyeret energi bangsa ini. Semua orang capek dan lelah untuk kasus yang sangat mudah, sangat simple, disaksikan banyak orang, dan punya bukti yang lebih dari cukup.

Betapa tidak, Ahok adalah penganut Kristiani, mengapa dia harus membahas isi kitab dari agama yang bukan agama yang dianutnya ? Apalagi apa yang dikatakan ahok juga ingin menyatakan bahwa satu ayat itu tidak ada relevan dengan cara mengatakan jangan mau dibodohi pakai surat Al-Maidah ayat 51.

Betul yang dikatakan Erika bahwa kasus penistaan bukanlah kasus pertama yang terjadi di negeri ini. Tapi ingat bahwa kasus-kasus lainnya para tersangka kebanyakan langsung ditahan, sedangkan dikasus ini sampai menjadi terdakwa pun Ahok masih bebas kampanye dan menjabat sebagai gubernur DKI.

Berbagai gerakan massa ummat Islam itu adalah untuk mengawal kasus ini agar tidak dimanipulasi dan mendapat perlakuan berbeda. Arswendo langsung ditahan begitu kasusnya merebak, sedangkan Ahok tidak. Inilah yang membuat ummat Islam merancang aksi massa sampai beberapa kali.

Andaikan polisi langsung menahan Ahok, saya haqqul yakin tak akan ada gerakan massa baik 212 sampai terakhir kemarin gerakan 55 yang dilakukan oleh ummat Islam. Tuntutan aksi massa jelas, tegakkan keadilan, semua harus diperlakukan sama.

Apalagi kejaksaan nampaknya tidak menjalankan fungsinya dengan maksimal. Surat dakwaan yang harus dibacakan sebelum pilkada minta dimundurkan dan setelah dimundurkan juga hanya berisi hukuman percobaan.

Bandingkan dengan Arswendo Atmowiloto, yang dituduh menista Nabi Besar Muhammad SAW dan divonis sekitar 5 tahun penjara. Ahok menista kitab suci Al-Quran yang dalam urutan keimanan menempati urutan ke-3 padahal Nabi dan Rasul itu menempati urutan ke-4. Dengan demikian maka penistaan Ahok lebih dahsyat dari penistaan yang dilakukan Arswendo dan selayaknya dituntut dengan hukuman yang lebih berat.

Erika mengatakan adanya tekanan massa pada kasus itu, yang sangat tak masuk akal, mengingat rumput pun tak ditekan ketika melakukan berbagai aksi. Jika hakim dalam tekanan massa maka pulang tinggal pakai Barracuda dan aman sampai di rumah. Beberapa lama kemudian orang sudah akan melupakan dia. Yang justru harus dikuatirkan adalah tekanan pemerintah, seperti yg disinyalir dilakukan terhadap jaksa. Pemerintah bisa menekan dengan mudah dengan cara menekan jaksa yang memang ada dalam jajaran eksekutif.

Kalau Erika bicara supremasi hukum, dimana supremasi hukum ketika Ahok terdakwa dan tak ditahan sedangkan Arswendo tersangka dan dia ditahan ? Dimana supremasi hukum ketika Arswendo dituntuthukuman 5 tahun dan ahok hanya dituntut hukuman percobaan ?

Benar anda harus belajar tentang yudikatif dan reformasi.  Yudikatif adalah kekuasaan terpisah, dan ketika anda mengatakan mereka dalam tekanan massa berarti anda sudah tak yakin dengan independensi Yudikatif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN