Mohon tunggu...
setyagi agus murwono
setyagi agus murwono Mohon Tunggu... maju bersama

laki-laki

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Ken Arok Pembuat Sejarah

18 Juni 2021   16:02 Diperbarui: 18 Juni 2021   16:32 55 1 0 Mohon Tunggu...

KEN AROK PEMBUAT SEJARAH

Halaman 15

Kata guru, Mpu Purwanatha seorang yang sakti dan orangnya sangat baik, kata Patra. Mudah-mudahan kita dapat mencapai sana kakang. Ya mudah-mudahan, kata Patra pelan. Nah itu adi Ranu, sungai itu perbatasan antara Kediri dan Tumapel. Kalau kita nanti dapat menyebrangi sungai itu kita sudah berada di wilayah Tumapel. "Ayo kakang mumpung hari belum gelap," ajak Ranu. Mereka melangkah semakin cepat agar cepat mencapai sungai yang ditunjukkan Patra.

Nah kita sampai juga di tepian sungai ini kakang. Bersyukur adi, kita tinggal menyebrang sungai yang tidak terlalu lebar ini. Ketika Patra dan Ranu bersiap untuk menceburkan diri ke sungai, tiba-tiba lengan mereka ditarik kuat-kuat oleh orang. Sambil tertawa orang itu menggelandang Patra dan Ranu, ke tepi sungai lagi. Ternyata orang itu tidak sendiri, ada lima orang  temannya menunggu di atas kuda.

"Kalian mau kemana, pengkianat," tanya orang itu. Setelah mereka dapat melihat dengan jelas pakaian orang-orang itu, Patra dan Ranu tahu bahwa mereka adalah prajurit Kediri. "Kalian mau ke Tumapel ya," tanya prajurit itu dengan kasar. "Tidak tuan, kami hanya akan berkunjung ke saudara kami yang sedang sakit," jawab Patra takut. "Kalian jangan berbohong, kalian pasti akan mengungsi ke Tumapel," bentak prajurit kediri.

"Benar tuan kami akan berkunjung ke saudara kami," jawab Patra. Tiba-tiba satu tendangan mengena perut Patra. Walaupun tendangan itu tidak keras, tapi membuat perut Patra mual dan mau muntah. Kalian masih mau berbohong, kalian mau menyebrangi sungai ini dan itu berarti kalian mau mengungsi ke Tumapel, bentak prajurit itu.

Ranu ketakutan sekali, tetapi dia tidak dapat melihat Patra diperlakukan kasar oleh prajurit Kediri. Ketika prajurit yang satunya lagi melangkah mendekati Patra dan akan menendang Patra lagi, maka Ranu diam-diam mengambil batu dan dilemparkan sekuat tenaganya batu itu kearah kaki prajurit. Prajurit itu mengaduh kesakitan. Maka Ranulah yang jadi bulan-bulanan dipukuli oleh prajurit Kediri.

Patra melihat Ranu di tendang, di pukuli, walaupun perutnya masih mual. Langsung menerjang prajurit-prajurit itu. Prajurit Kediri itu hampir jatuh kena terjangan Patra. Tapi perlawanan Patra dan Ranu tidak berarti sama sekali. Kalian tidak boleh ke Tumapel, kalian harus kembali, bentak prajurit itu.

Sekarang Patra dan Ranu tersungkur berdekatan. Patra memberi kode pada Ranu, sambil mengumpulkan tenaga yang tersisa Patra sama Ranu, meloncat dan berlari kesungai. Salah satu prajurit mengejar Patra dan Ranu dengan pedang di tangan. Walaupun Patra dan Ranu berlari secepat-cepatnya, tetapi masih kalah cepat dengan lari kuda. Prajurit diatas kuda itu siap dengan pedangnya, hendak melukai Patra agar tidak bisa lari lagi.

Begitu pedang itu sudah dekat di punggung Patra, tiba-tiba pedang itu terpental dan lepas dari tangan prajurit Kediri itu. Prajurit yang masih diatas kuda itu mengaduh tangannya kesakitan. Gila pekerjaan siapa ini, kenapa tiba-tiba pedangku dapat terlepas, pikir prajurit yang mengejar Patra dan Ranu. "He ...kenapa pedangmu kamu lepaskan," kata prajurit yang lain. Apa kamu tidak tega untuk melukai pengkianat itu. Kalau kamu tidak tega biar aku saja yang mengerjakannya.

Lalu prajurit yang itu langsung melangkahkan kudanya menuju Patra dan Ranu dengan pedang teracung. Kalian memang harus diberi pelajaran, agar kalian tahu siapa diri kalian itu. Begitu prajurit yang masih berada diatas kuda itu mendekat ke Patra dan Ranu. Tiba-tiba kuda yang dinaiki prajurit itu, berontak dan tidak terkendali dan akibatnya prajurit di atas kuda itu jatuh terlempar dan langsung pingsan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x