Mohon tunggu...
septiambar
septiambar Mohon Tunggu... Penulis - Penulis, Penggiat Parenting dan Pekerja Sosial

Penulis, Penggiat Parenting dan Pekerja sosial

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Teror Petrus dan Penyayatan, Siapa Sutradaranya?

29 April 2016   12:02 Diperbarui: 29 April 2016   21:51 976 5 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Teror Petrus dan Penyayatan, Siapa Sutradaranya?
1147316tangan-terluka780x390-5722ead2d092730a0569db04.jpg

www.griyawisata.com

Tiga pekan ini wilayah Magelang dan Jogja dikejutkan kejadian penembakan dan penyayatan. Pelaku tergolong sadis dan nekat, karena mereka beraksi di kawasan yang ramai dan banyak orang. Korban berasal dari berbagai umur, dari usia SD hingga dewasa, dan semuanya adalah perempuan. Sempat beredar kabar ada korban satu-satunya laki-laki karena menurut pihak berwenang itu adalah korban salah sasaran. Kasus penembakan dan penyayatan ini hampir bersamaan waktunya, hanya berbeda wilayah. Peristiwa ini menjadi sejarah buruk sebab kasus serupa sebelumnya sempat terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Semisal peristiwa pembunuhan warga yang dicap sebagai dukun santet di Jawa Timur atau sejarah PETRUS tahun 1982-1985 yang menghebohkan dunia.

Mari sedikit menyimak apa sebenarnya yang terjadi?

Magelang dan Yogyakarta adalah wilayah yang sepanjang sejarah terkenal aman dan tertib. Sedikit sekali berita kerusuhan dan gesekan di tengah masyarakat. Meskipun mungkin saja banyak hal yang tidak terekspos media sehingga khalayak ramai tidak mengetahui benarnya. Munculnya kasus penembakan misterius di Magelang contohnya. Sejak tiga minggu belakangan warga Magelang merasa sangat ketakutan dan gelisah. Sudah 13 korban yang menjadi korban penembakan pelaku tidak dikenal. Hampir seluruh kejadian berlangsung di tempat terbuka dan banyak orang dan korban semua didominasi perempuan.

Serupa di wilayah Jogja, peristiwa penyayatan orang tak dikenal terjadi dan menurut kabar sudah melukai 3 korban dan mirip dengan peristiwa di Magelang, semua adalah perempuan. Peristiwa penyayatan ini terjadi di wilayah lingkup Kota Gede Yogyakarta. Seperti kejadian dengan korban anak SD yang sedang naik sepeda bersama teman-temannya. Menurut korban saat dia tersadar ada bagian tubuhnya yang luka, dia teringat ada dua orang berboncengan sepeda motor melewati rombongan korban dengan teman-temannya. Kebetulan korban bersepeda paling pinggir dekat jalan. 

Saat peristiwa itu pelaku seperti sengaja mendekati korban dengan kecepatan sepeda motor yang stabil dan tidak terkesan mencurigakan. Mengenaskannya saat teman-temannya berteriak melihat ada darah di baju sekolahnya dengan baju yang sudah sobek seperti tersayat. Baru menyadari ternyata tangannya sudah terluka dan segera dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan perawatan. Menurut kabar luka sayat itu dalam dan panjang hingga butuh jahitan sekitar 25 jahitan. Untuk dua peristiwa serupa dikabarkan korban adalah mahasiswa salah satu Perguruan Tinggi Swasta di Jogja.

Dua teror masyarakat ini tentu mengejutkan banyak pihak. Ada yang mengungkapkan bahwa aksi teror ini seberannya adalah upaya pengalihan isu. Entah apa tujuannya yang jelas sebagai warga masyarakat yang tinggal di Jogja merasa sangat gelisah dan was-was. Bagaimana jika anggota keluarga yang setiap hari harus beraktivitas di luar dengan risiko menjadi korban penembakan dan penyayatan. Sebenarnya pihak berwajib sudah berupaya untuk melakukan pengejaran terhadap pelaku, tetapi hingga pekan ketiga ini konon kabarnya belum juga tahu dan tertangkap pelakunya. Ataukah memang peristiwa ini sudah disiapkan jauh-jauh hari dengan skenario yang matang? Lalu siapa yang membuat skenarionya? Atau siapa sutradara besarnya?

Seperti sebuah film, seluruh kejadian baik waktu, korban, alat yang digunakan, dan teknis pelaku sudah melalui tahap seleksi dan audisi. Seperti kedua peristiwa di Magelang dan di Jogja rasa-rasanya memiliki kemiripan seperti waktu peristiwa, teror yang dibuat dengan sasaran acak, korban hampir semua perempuan, dan motif pelaku yang samar dan tidak diketahui. Ironisnya lagi hingga hari ini sudah hampir satu bulan pelaku masih bebas berkeliaran. Bahkan semalam menurut kabar di Magelang pelaku melakukan teror serupa, dan pasti jatuh korban. Meskipun kondisi wilayah sudah dijaga ketat oleh aparat.

Berkaca pada kedua peristiwa tersebut, kita berkesimpulan bahwa kondisi Indonesia sudah darutat aman. Gejolak politik, ekonomi, sosial budaya memengaruhi seluruh sendi kehidupan masyarakatnya. Tidak lagi ada rasa aman, kesenjangan semakin menonjol dan tajam, politik kotor menjadi andalan, keteladanan pemimpin pun sudah mulai hilang. Indonesia berangsur terbunuh secara berlahan, krisis multidimensi dirasa sangat sulit untuk dihadapi. Perang kepentingan oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab sering kita temui, mereka bahkan tanpa malu mengorbankan orang lain demi mencapai tujuannya.

Peristiwa penembakan dan penyayatan menjadi sinyal waspada untuk masyarakat khususnya wilayah Magelang dan Jogja. Waspada bahwa banyak konflik kepentingan oleh pihak-pihak tertentu, waspada bahwa gejolak berkehidupan masyarakat sedang membabi buta, waspada bahwa akan muncul teror-teror baru yang mengganggu stabilitas suatu wilayah. Entahlah apakah peristiwa penembakan dan penyayatan memang murni tindak kriminal pelaku kejahatan ataukah memang ada sutradara mahir di belakangnya? Sutradara yang menyuguhkan film thriller dengan durasi yang sudah diperhitungkan? Dengan suguhan adegan yang membuat meringis penontonnya? Semoga rentetan peristiwa ini berakhir bahagia, happy ending. Pelaku kejahatan tertangkap dan dapat dijatuhi hukuman setimpal terlebih semoga ini hanya murni kejahatan bukan sebagai SKENARIO KEJAHATAN.

Allahualambisowab..

Salam hangat

Septi Ambar

Warga Jogja yang resah

Mohon tunggu...
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x
LAPORKAN KONTEN
Alasan