Mohon tunggu...
Selvia Indrayani
Selvia Indrayani Mohon Tunggu... Guru, penulis, wirausaha, beauty consultant.

Selvia Indrayani merupakan salah seorang pengajar di salah satu sekolah di ibu kota. Kegemarannya memasak dan menulis ditekuni sejak masih muda. Berbagai hasil tulisannya dibukukan ke dalam antalogi cerpen dan antalogi puisi.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Absen Belanja Lebaran

7 Mei 2021   19:55 Diperbarui: 7 Mei 2021   20:02 271 3 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Absen Belanja Lebaran
ilustrasi-dokpri

"Mbok, kapan aku ditukokke baju anyar?" (Bu, kapan aku dibelikan baju baru?")
"Mengko nak Simbok wes ono dhuwit, yo, Le. Iso madhang wae wes sukur." (Nanti kalau Ibu sudah ada uang ya, Nak. Bisa makan saja sudah bersyukur.")

 "Bodo kuwi sing anyar ora gur klambine, tapi ati sing anyar luweh penting." (Lebaran itu yang baru bukan hanya bajunya, tetapi hati baru lebih penting.)

Mbok Tuginem, seorang buruh cuci gosok yang mengandalkan tenaganya untuk mendapatkan rupiah. Dengan dua anak yang masih duduk di bangku SD hanya bisa pasrah terhadap keadaan. Pasrah tetapi bukan berarti diam. Modal mengisi kampung tengah baginya dan kedua anaknya hanyalah tenaga. Siapa lagi yang akan berjuang untuk buah hatinya jika suami tercinta telah tiada.

Sejak pandemi melanda negeri ini, Mbok Tuginem makin sedikit bekerja. Orang mulai takut untuk menggunakan tenaganya. Bisa makan seadanya, nasi, kecap, dan telur ceplok itu sudah luar biasa. Kadang-kadang telur itu harus didadar agar terbagi rata dan ada rasa. Tempe dan tahu juga sudah lumayan harganya. Saat orang lain ribut harga cabai naik, Mbok Tuginem hanya bisa mendengar. Asalkan ada beras, garam, dan kecap, cukup sudah untuk mengisi kampung tengah bersama anak-anaknya.

Hati Mbok Tuginem sebenarnya miris saat anaknya bertanya baju baru. Baginya, baju baru itu hanya bayangan semu. Bisa bertemu nasi sehari tiga kali juga sudah disyukuri. Apa saja lauknya, yang penting bisa untuk energi.

Jangankan untuk membeli baju lebaran, membeli sandal baru karena yang lama putus saja harus nyicil. Sudahlah, hidup yang penting cukup dan bisa memenuhi kebutuhan pokok dulu.

Ramadan kali ini rasanya lebih luar biasa. Kalau hanya puasa menahan lapar, rasanya Mbok Tuginem dan anak-anaknya sudah biasa. Kali ini saat anak mulai besar, Mbok Tuginem melihat anak lain seumuran dengan anaknya mulai dibelanjakan pakaian. Yu Siti, tetangga sebelah rumahnya sudah membelikan kemeja koko buat Ali putra sulungnya.

            "Yu, kowe gak tuku klambi kanggo anakmu?" (Mbak, kamu tidak membeli baju untuk anakmu?")

"Aku absen dhisik, Yu Siti. Mengko blonjo klambi nak wes perlu wae." ("Saya absen dulu, Mbak Siti. Nanti belanja baju lebaran kalau sudah perlu saja."

"Yowes, mengko nak arep tuku klambi ngomong aku yo! Aku nduwe kenalan neng pasar. Murah tapi apik klambine." ("Ya sudah, nanti jika akan membeli baju beritahu aku, ya! Aku punya kenalan di pasar, Murah tetapi bagus bajunya.")

"Suwun, Yu." (Terima kasih, Mbak.")

Belanja menjelang lebaran dilakukan oleh banyak orang, termasuk Yu Siti. Ada yang berbelanja makanan, pakaian, dan perlengkapan rumah lain agar tampak baru.

Ada benarnya juga memang harus berbelanja menjelang lebaran. Enak kan kalau suasana lebaran, hari yang fitri dan serba baru. Pastinya para pedagang juga senang karena mendapatkan rezeki. Roda pergerakan ekonomi, pasti berputar dengan adanya yang berbelanja. Benar juga apa kata Bu Menteri Sri Mulyani. Tuginem hanya manggut-manggut mengingat perkataan bu menteri.

"Maafkan aku Bu Menteri, aku absen belanja baju lebaran dulu ya. Mau di pasar atau online, tetap aja aku absen. Aku dan anak-anakku akan pakai baju yang masih baik saja di hari lebaran,"kata Tuginem lirih dengan tatapan menerawang.

VIDEO PILIHAN