selestin nisfu
selestin nisfu Epidemiologi Kesehatan

on learning process. love every little things to write in.

Selanjutnya

Tutup

Cerita Ramlan

"Testimoni" Ramadhan Institute

14 Juni 2018   08:55 Diperbarui: 14 Juni 2018   23:32 167 0 0
"Testimoni" Ramadhan Institute
doc pribadi : selestinisfu

Kau mengangkatku tingi

Kau membentangkan sayapku

Dan menerbangkanku ke langit

Aku merasa begitu hidup

Seakan jiwaku tumbuh subur di cahayamu

Tapi betapa aku berharap kau akan selalu

Di sini bersamaku sepanjang tahun

Ramadhan tercinta, betapa aku berharap kau selalu dekat

(Ramadhan, Maher Zain)

Ada perasaan yang berbeda dari lagu Maher Zain diatas, lagu yang didengar saat awal Ramadhan begitu membahagiakan, semangat menyambut kedatangan Bulan Ramadhan. Rasanya baru kemarin. Sekarang didengarkan, perasaan sedih dan haru justru yang tertinggal.

Sedalam itu dan setepat itu makna lagu ini menjabarkan kondisi Ramadhan.

Baiklah, hari ini saya akan menuliskan perasaan hati untuk Ramadhan. Sebulan bersama nya.

Dan besok akan segera berpisah.

Ada teman saya yang mengingatkan dengan sepenggal hadist ini di lini sosial medianya, "Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mensyukuri yang banyak" HR. Ahmad 4/278

Barangkali, saya harus mensyukuri waktu yang diberikan selama Ramadhan ini. Meskipun sedikit, dengan harapan di bulan selanjutnya Allah swt akan tetap menjaga spirit Ramadhan ini. Semoga kita semua menjadi hamba yang juga senantiasa bersyukur.

Semoga kita semua kembali menjadi manusia yang suci secara lahir dan batin. 

Melihat fenomena dan menilai sifat dasar manusia. Sebenarnya setiap manusia mendambakan dan merindukan kedamaian. 

Kita sepakat bukan? Ketika kita berada di satu frekuensi waktu dan kondisi yang memaksa kita untuk A*, dan ketika mayoritas melaksanakan A, kita turut terpacu untuk bisa melaksanakan kegiatan A juga? Dan ada perasaan yang secara universal kita rasakan dari dampak kegiatan A. Perasaan yang menimbulkan kecintaan dan rasa tidak rela bila berpisah dengannya? Perasaan itu adalah rasa damai dan berpasrah kepada Allah swt.

Bagaimana dengan membawa A terus hadir di kehidupan kita? Biarpun setelah ini tidak ada lagi waktu dan kondisi yang memaksa kita semua untuk satu frekuensi. Sebulan kemarin di Ramadhan ini, "rasa damai" kita telah dibangunkan, rasa  yang mungkin sempat tertidur terganti dengan nafsu dunia yang kita ciptakan sendiri.

Mengapa saya mengatakan rasa itu telah dibangunkan?

Salah satu contohnya, bukankan kita turut tersentuh mendengarkan lagu "Deen Assalam" lagu yang mendadak ada di playlist kita sepanjang Ramadhan ini, yang bermakna begitu dalam mengajak untuk berperilaku dan bertutur kata yang baik dengan cinta dan senyuman. Islam, dan agama perdamaian. 

Contoh lainnya, perilaku dan kegiatan ingin berbagi yang lebih tinggi, sifat saling mengasihi saat sahur dan berbuka. Itu bentuk rasa damai kita yang telah kembali bangun.

Lalu mengapa tidak kita benar - benar bawa saja A ke kehidupan selanjutnya? Bukankah cita - cita dasar kita adalah "menginginkan rasa damai", meskipun mungkin setan akan kembali di lepas dan mengganggu, semoga kita tetap teguh dengan spirit dari Ramadhan.

*A disini adalah kegiatan positif yang wajib kita laksanakan di Bulan Ramadhan. Kegiatan yang secara tidak langsung berdampak ke segala aspek kehidupan. 

Belum usai disitu, pesan peninggalan Ramadhan yang lainnya.

Ketika esok hari menjelang Idul Fitri. 

Bangun pagi dan mempersiapkan kebutuhan solat Ied, mungkin ada seselip haru di sudut mata, saya mengingat sudut haru terakhir di mata ibu, dua tahun lalu. Ibu membangunkan kami dengan caranya, menunggu di depan pintu rumah usai kami sholat Ied. Kali ini air mata tidak lagi bersemayam di sudut matanya. Tapi sudah memenuhi ruang mata.

Begitu tulus ibu memeluk saya, dan bilang "Maafin ibu yaa, pasti ibu banyak salah sama kamu. Anak ibu kenapa sudah besar ya?"

Bagaimana? saya tidak pernah menebak dan menduga, itu idul fitri terakhir yang bisa kami jalani bersama. Saya tidak pernah tahu, kalau bentuk pelukan dan ucapan pertama kali yang ia keluarkan, adalah terakhir kali saya dengar. Harusnya, saya terlebih dahulu bukan? yang segera memeluknya dan lebih dulu berkata hal itu? Seolah ibu ingin menjadi paling awal memohon maaf, dan paling awal mendahului kami menghadap sang Pencipta. Sebagai pengingat kami, bahwa yang hidup akan mati.

Kita tidak pernah tahu usia seseorang, begitupun saat berjabat tangan erat esok di hari raya, kita tidak pernah tahu kalau itu mungkin menjadi hari terakhir jabatan tangan kita di Bulan Ramadhan.  Semoga ketulusan bermaafan besok, mampu menghapus dosa - dosa kita, dan menambah amalan kita.

Baiklah, saya penulis yang masih belajar. Manusia biasa yang tidak luput dari khilaf dan dosa. Yang jujur masih mudah terjerat dengan nafsu dunia pribadi. Yang entah sengaja atau tidak, secara langsung atau tidak, nafsu dunia saya tersebut telah melukai, menyakiti, menyinggung kalian semua. Baik di dunia nyata atau maya. Saya mengharapkan dibukakan pintu maaf yang sebesar - besarnya.

Apabila ada kesalahan, mohon ingatkan dan dimaafkan. 

Selamat mengilhami spirit Ramadhan, dan selamat berkumpul bersama keluarga bagi yang berkesempatan. Dan bagi yang tidak, doa dalam jarak tidak akan terputus. Saling mendoakan keluarga untuk kebaikan.

Semoga Ramadhan selanjutnya kita diberikan kesempatan berjumpa kembali... Demikian testimoni saya untuk masa sebulan yang ibarat sedang bersekolah kembali. Menggali spirit bersama dan membangunkan rasa yang sempat tertidur.


Selamat menjelang malam kemenangan.