Selamet HARIADI
Selamet HARIADI wiraswasta

HARIADI - Domisili Jawa Timur. Manusia yang ingin SELALU menulis segala sesuatu yang BERMANFAAT. \r\n\r\nReseacher-ONLINE Marketing STRATEGIST.\r\n \r\nSuka Mencari Hal baru serta Sharing segala yang BERMANFA'AT.\r\n\r\nMari Bersahabat! \r\nFollow @seHARIADI di Twitter.\r\n\r\nWeblog: www.SelametHariadi.com

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan Pilihan

Pilu THR Guru Honorer

6 Juni 2018   22:36 Diperbarui: 6 Juni 2018   22:51 946 1 10
Pilu THR Guru Honorer
Pilu Guru Honorer (dok.republika)

Pilu Guru Honorer, Gaji Telat Apalagi THR?

Pilunya THR Guru Honorer. Jika THR bagi Guru yang menjadi pegawai negeri sipil menganggapnya sebagai angina baru yang menyejukkan. Berbeda dengan guru honorer yang menganggapnya sebagai angina lalu saja. Gaji telat bisa jadi makanan guru honorer. Terlebih dengan THR yang biasanya disebut gaji ke-13 ini.

Gaji Telat dan dipotong (dok.detik)
Gaji Telat dan dipotong (dok.detik)
Gaji Telat dan dipotong

Guru Honorer harus menghadapi berbagai tantangan dalam menjalani pekerjaannya. Salah satunya adalah gaji telat, ada pula yang dibayar sebagian dulu kemudian dibayar lengkap. Itupun ada yang hampir kepembayaran gaji berikutnya.

Besaran gaji yang diterima pun sebenarnya kurang pantas disematkan bagi pahlawan tanpa tanda jasa ini. terlebih dibandingkan mereka yang mendapat jatas sertifikasi guru atau mereka guru-guru pegawai negeri yang lagi hangat diperbincangkan karena dapat perhatian lebih dari pemerintah.

Kepiluan ini kadang ditambah dengan dipotongnya gaji mereka. Sudah gaji tak seberapa yang telat, dipotong pula. Seperti jatuh dari tangga kemudian tertimpa tangga tersebut.  Begitu lengkap. Disinilah nilai keikhlasan sebenarnya diuji, Tuhan membalas di sisi lainnya.

Pilu Guru Honorer (dok.cnnindonesia)
Pilu Guru Honorer (dok.cnnindonesia)
Pilu Guru Honorer, Gaji Telat Apalagi THR?

Seperti kita ketahui bersama, guru sangat berjasa bagi pendidikan sebagian mereka yang sukses. Namun perhargaan terhadapguru terlihat kurang meski ini terus diperbaiki. Masih banyak Guru Honorer di negeri ini yang gaji yang didapatnya tak sesuai waktu hingga besarannya.

Padahal kewajiban telah ditunaikan, namun hak-nyaakan gaji perlu kesabaran menunggu. Ini bisa saja kita lihat di berbagai sekolah, khususnya memang yang swasta. Selain berjuang memenuhi gaji guru, sekolah-sekolah swasta yang belum mapan manajemennya biasanya pula berjuang akan memenuhi kebutuhan operasional sekolah.

Bila Gaji telat dan kurang sesuai mengintari Guru Honorer, lalau bagaimana dengan THR atau Tunjangan Hari Raya? Jika sebagian besar guru yang telah menjadi pegawai negeri dengan suka cita menyambut keputusan gaji atau THR tahun ini yang naik. Maka berbeda dengan mereka Guru Honorer.

Berharap adanya THR yang senilai guru "resmi"  seperti mimpi di waktu pagi. Kebahagian mendapatkan haknya sesuai waktu merupakan anugerah . THR masih hal kedua selepas gaji yang dinanti tiap bulannya. Adapun THR akan lebih menyenangkan mereka.

Status sebagai guru honorer membuat para guru ini jika pun mendapat THR, jumlah nominalnya belum bisa dikatapan memang pantas. Ada sekolah yang memberi THr berupa makanan berupa parsel, namun Guru Honorer kebanyakannya masih pada uang mentahnya saja dapipada barang berupa makanan.

Masih beruntung mereka yang dapat THR namun masih kurang, dibandingkan mereka guru honorer yang tak dapat THR atau bila pun dapat konversinya kurang sesuai. Beginilah sistem pendidikan Indonesia yang perlu gerakan untuk lebih memperhatikan nasib guru.

Di sisi lain, Pemerintah melalui kementerian dalam negeri, mengingatkan pemerintah daerah untuk tidak membayarkan tunjangan hari raya (THR) kepada pegawai honorer. Pemerintah perlu memperhatikan pekerja honorer seperti guru honorer ini.  Hak THR seperti pekerja lainnya perlu diwujudkan dengan selayaknya sesuai kebutuhan.

 [selamet hariadi]

Bacaan BERMANFAAT lainnya: