Mohon tunggu...
Sebastianus KiaSuban
Sebastianus KiaSuban Mohon Tunggu... ASN

ASN

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Risalah Hari

4 Juli 2019   13:06 Diperbarui: 4 Juli 2019   13:12 0 1 0 Mohon Tunggu...
Risalah Hari
img-20190627-124856-5d1d96390d8230719273e212.jpg

Senin, 1 Juli 2019

Hari masih pagi. Cuaca membuat kulit sedikit kedinginan. Mentari datang menyapa seperti biasa, sementara merayap, mendaki di langit  Adonara yang kokoh menjulang. Kupastikan hari ini, di awal Juli 2019, adalah perjalananku ke Nusa Solor, pulau dari bentukan wadas yang kokoh namun eksotis. Di Solor, rencananya saya akan menemui sejumlah desa nelayan tuk pendataan rumah tangga nelayan demi kepentingan pemutakhiran data nelayan pada setiap tahunnya

                                                                                               Dokpri

Kupacu sepeda motor ke pelabuhan Larantuka, dan di sana KM Kodi Dore, perahu motor berukuran 10 GT, siap melayari laut mengantar kami para penumpnag hingga tempat tujuan.

Melintasi laut memang selalu menyimpan dan menyisakan pengalaman yang selalu membekas, bagiku, dan barangkali juga kebanyakan orang. Di lautan yang teduh dan bergelombang, kita bisa memaknai hidup dan diri kita, betapa agung karya sang Pencipta. Di laut juga, kita bisa bercermin diri, tentang tapak waktu yang sudah terlewati, hari, bulan dan untaian beribu hingga jutaan kesempatan yang sudah kita bingkai dalam kisah sejarah perjalanan waktu hidup kita. Di sana, kita bisa belajar banyak hal, dari tedunya laut di kala pagi menyapa,  ataupun dari desiran gelombang yang menyapu wajah tatkala angin laut menerpa, lalu pada gulungan gelombang yang datang dan pergi, semua ini membawa kita pada sebuah kesadaran  bahwa cerita hidup memang kadang ibarat  irama laut, kadang senang kadang sebaliknya. Lalu darinya, masa depan akan kita rajut untuk semua rencana di hari depan.

Begitupun kali ini, dari atas kapal motor saya merasakan getaran itu. Getaran yang selalu hadir saat bersua dengan laut, begitu akrabnya, layaknya seorang sahabat sejati.

img-20190627-084459-5d1d9693097f366e7e391492.jpg
img-20190627-084459-5d1d9693097f366e7e391492.jpg
                                                                                                Dokpri, dari atas Km Kodi Dore ke Solor

Sekitar pukul 9.30, kami tiba dan sandar di pelabuhan Podor-Solor. Panas mulai terasa, matahari seperti dekat sekali denganku. Tapi cuaca panas tak mengapa. Segera ku jelajah tanah Solor dari Podor yang agak lengang. Melewati jalan di sepanjang pantai, berbentengkan batu wadas dan pohon bakau yang rindang, menjadikan Solor pagi itu bak negeri impianku, sepotong surga kecil yang jatuh di timur nusantara. Palagi ketika ombak pecah menghujam wadas, maka suaranya menggelegar ramaikan suasana , hentakan diam alam sekitar. Bocah cilik bermain bola, ketawa lepas menikmati liburan sekolah dengan riang sebelum nantinya aktifitas belajar memanggil kembali ke sekolah. Ibu-ibu sibuk membersihkan ikan tangkapan sang suami, ataupun putra kesayangan mereka. Ada yang mengeringkannya dengan beralaskan jaring ikan yang sudah mulai koyak. Sesekali, ada dendang syair merdu yang meluncur dari suara mereka tuk sejenak hiburi hati, nyanyikan balada laut bersama keluarga nelayan. Sementara itu, bapak-bapak tak mau lepaskan sebatang rokok yang setia menempel di bibir hitam karena sudah lama menjadi pencandu rokok, dan mengepulah asap rokok dari balai -- balai kursi berbahan bambu beratapkan daun kelapa di sepanjang jalan. Tak ketinggalan, secangkir kopi hadir sebagai teman ngobrol. Semua ini di lakukan demi rehat sejenak setelah sebelumnya bersama malam merenda nasib sebagai nelayan jaring di sekitar perairan Solor yang ramah untuk ikan -- ikan tangkapan.   Menyaksikan semua itu, aku hanya terpana, mengelus dada, batinkan syukur dari dalam dada, mata berkaca saksikan pementasan drama hidup di bumi Solor, bumi cendana warisan masa lalu. Risalah hari yang sungguh tergambar hidup dalam memori ingatanku. Solor sejauh sepeda motor yang kupacu,  sungguh pesona khasanahmu menggetarkanku bertubi- tubi.

Tibalah aku di desa pertama, Lohayong I. Sangat bersyukur bisa datang ke desa ini. Lohayong tempo dulu masyur namanya, hingga dibangunlah sebuah benteng Portugis, benteng Lohayong. Ini menandakan bahwa dulu, di Solor pernah ada sebuah era keemasan tercipta. Waktu itu, harum aroma cendana dari rahim solor, memikat penjelajah kolonial portugis untuk kemudian mengeksploitasinya dalam misi dagang mereka. Setelah mengeruk rahim solor, misi inipun pergi menyisakan benteng sebagai peninggalannya, tanpa pohon cendana, kecuali nama. Di kantor desa, saya mendapatkan data nelayan dari aparat setempat. Berdiskusi dan bertukar informasi, berbagi pengetahuan sebagai oleh --oleh perjalanan dan setelah itu menuju Lamakera, desa Watobuku, di tepi laut Sawu, timur pulau ini.

Lamakera, desa nelayan, masyur namanya karena ada sebab. Dari tempat ini, riwayat penangkapan mamalia laut seperti Paus dan Pari dapat terekam. Wilayah Selatan Solor, merupakan daerah migrasi mamalia di maksud. Posisi Solor sungguh istimewa kerena bisa dilewati jenis mamalia langka ini. Masyarakat Lamakera terkenal sebagai pemburu mamalia laut yang terkenal tangguh. Alam yang keras, di atas wadas kokoh yang menghiasi pantai dan bersusun di desanya, disinilah mereka dilahirkan dan dibesarkan. Kisah penangkapan mamalia itu terlahir karena alam Lamakera tak mampu memberi kehidupan dari darat, apa yang dapat tumbuh di atas batu wadas ? Pilihan satu-satunya adalah menjadi nelayan. Menjadi nelayan di daerah ini, harus tahan uji, karena di sana laut Sawu, Selatan pulau Solor terkenal ganas karena berbatasan langsung dengan samudra Hindia.

img-20190627-124902-5d1d96c2097f365db61d5764.jpg
img-20190627-124902-5d1d96c2097f365db61d5764.jpg
                                                                                               Dokpri, periran solor Lamakera

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN