Mohon tunggu...
Akhmad Saefudin
Akhmad Saefudin Mohon Tunggu... An Amateur Writer

Penikmat tulisan bagus yang masih saja malas belajar menulis bagus......

Selanjutnya

Tutup

Kisahuntukramadan Pilihan

Sesekali, Rasakanlah Sensasi Bersedekah Spontan

14 Mei 2019   22:39 Diperbarui: 14 Mei 2019   22:45 0 13 2 Mohon Tunggu...
Sesekali, Rasakanlah Sensasi Bersedekah Spontan
http://www.sesawi.net/ 

SIKAP peduli, memberi, berbagi, sebaiknya tak perlu dibatasi dengan kekhawatiran. Begitu wejangan Emak sejak dulu. Jangan berkalkulasi saat memberi, serahkan skenario selanjutnya pada Allah. "Kalau kamu terlalu banyak mikir saat akan memberi, niat baikmu akan terbatasi. Soal hasil pemberianmu ternyata kurang bermanfaat, disalagunakan, tak tepat sasaran, itu urusan sg gawe urip," tukas Emak.

Ya begitulah Emak, generasi masa lalu yang cara pandangnya soal hidup dan menghidupi tak terpengaruh pasang surut zaman. Bahkan kini, saat aktivitas meminta-minta konon menjadi profesi, dikoordinir dan sebagainya, Emak tak peduli. Emak juga tak hirau, apakah yang diberi itu benar-benar miskin ataukah hanya bermental miskin.

"Gusti Allah mboten sare, tetap nyatet amalmu, Lek. Masalah pengemis ternyata lebih kaya dari Emakmu, itu urusan dia dengan Allah, gak usah ikut campur urusane Gusti Allah," ucapnya dengan urat dahi yang berkontraksi.

Dalam soal mendidik keikhlasan, mungkin aku memilih mengamini petuah Emak. coba bayangkan saat kawan kita dengan gestur memelas meminta bantuan pinjaman uang. Karena sedang ada dan sanggup, kadang kita berikan uang untuknya dengan cuma-cuma. Tetapi esok atau lusa kita dibukakan mata bahwa uang itu ternyata dipakai untuk sesuatu yang tak penting, tak urgen. Di situlah hati saya semisal luka yang dibasuh alkohol; pedih gaes.

Tetapi  dalam versi Emak, respon kita itu berbanding lurus dengan kualitas keikhlasan. sebab, pedih itu berarti sulit move on dari ingatan telah memberi. Sementara menurut Imam Ali, pemberian yang masih dingat-ingat patut diduga kurang ikhlas. Pada soalan ini, sekali lagi aku sepakat-bulat dengan prinsip kekeh Emak.

Tapi aku juga beradu keyakinan dengan Emak, utamanya soal nilai dan reward kebaikan di hadapan Tuhan. Bagiku, yang sok-sokan anak sekolahan, semakin sulit sebuah kebaikan kita ikhtiarkan, maka semakin bernilai di hadapan Allah. "Bukankah Allah lebih melihat proses ketimbang hasil, Mak? Seorang kere yang mensedekahkan uang 10 ribu yang diperolehnya dengan membanting tulang nilainya akan lebih tinggi dibanding donasi dstu juts rupiahnya si kaya untuk pembangunan masjid," kilahku.

seorang kaya yang memberikan santunan untuk keluarga miskin untuk memperpanjang hidup, itu bagus. Tetapi akan lebih bagus kalau dia tarik salah satu anak dari orang tua yang miskin itu untuk dirawat dan disekolahkan, sehingga rantai kemiskinan diharapkan terputus dari keluarga itu. "Kan tidak mudah, Mak. orang kaya, berlimpah harta, biasa hidup nyaman, tiba-tiba membagi kebahagiaan itu dengan seorang anak miskin di rumah besarnya, merawat seperti merawat anak-anaknya. efeknya akan jauh lebih hebat, Mak,"

Emak memilih irit bicara merespon analisaku. Kubilang, daripada menghabiskan uang untuk menyantuni anak-anak di jalanan, lebih baik berikan ke yang jelas-jelas butuh.

"Yo wis, Emak sepakat sama pendapat kamu soal mengangkat anak. Tapi tidak soal sedekah di jalanan. Lek, mau bantu panti asuhan atau sedekah ke pengamen, intinya yang penting peduli. Kamu tidak pernah tahu, mana dari sedekahmu yang kelak benar-benar menjadi penghantar ke surga. Siapa tahu, dalam senyum anak jalanan itu rahmat Allah terbuka untukmu," jelas Emak.

Menurut Emak, segala hal yang dilakukan terpola, pasti akan mengundang kejenuhan. itu sebabnya butuh alternatif, butuh rekreasi, butuh refreshing, butuh menyegarkan pikiran dan laku. "Kalau kamu rutin berdonasi untuk masjid, panti asuhan, dan lainnya, suatu waktu kamu akan nganggap biasa dan tidak penting. Makanya, sesekali rasakan membantu, memberi dengan spontan, sensasine bedo, lek," sambung Emak.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x