Jakarta highlight

Gue Bicara soal Pasukan Oranye (Part 1)

12 Agustus 2017   17:35 Diperbarui: 12 Agustus 2017   17:57 409 0 0

Pukul 05.00 WIB Jakarta masih padam. Udara pun nikmat dihirup dalam-dalam tanpa khawatir senyawa tak bersahabat ikut masuk kedalam rongga hitam berbulu ini (hidung -red). Dan Sang Fajar pun sudah nampak pelan-pelan, tapi orang-orang baik itu sudah harus berada di lapangan untuk bekerja. Menyiapkan segala peralatan dan perlengkapan untuk menuntaskan tugas sebagai pelayan masyarakat. Mereka adalah orang penting. Kok bisa? Iya, karena meraka yang memastikan lingkungan di seluruh kelurahan di wilayah DKI Jakarta itu bersih dan asri untuk dipandang khalayak. Jadi, berhenti membatasi definisi orang penting hanya untuk orang-orang berduit dan parlente. Baik, mari kita belajar dari pasukan oranye ini. Check it brad!

Pasukan oranye DKI Jakarta mulai dikenal lebih dekat oleh warganya. Kedekatan ini dimulai pada tahun 2015, dimana saat itu dikeluarkannya Peraturan Gubernur Nomor 169 Tahun 2015 mengenai permintaan gubernur untuk segera dibentuk pasukan oranye atau istilah resminya Penanganan Prasarana dan Sarana Umum Tingkat Kelurahan dan biasa disebut PPSU. Dibentuknya PPSU tidak lain adalah bentuk jawaban daripada permasalahan lingkungan yang dialami DKI Jakarta. Persamasalahan seperti seringkali banyak tumpukan sampah di tempat yang tidak sepatutnya, kemudian sarana taman yang sudah kehilangan ketertarikan dari warga sekitarnya dan satu lagi perilaku vandalisme anak muda Jakarta di tembok-tembok jalan. Saluran air penuh dengan sampah-sampah plastik yang berkolaborasi cukup ciamik dengan sisa-sisa makanan seperti bekas cilok, minuman kemasan dan sahabat-sahabatnya. Menarik memang, katanya kota besar tapi perilakunya ternyata masih membuang sampah tidak pada tempatnya. Tanpa harus menunjuk hidung siapa yang membuangnya, lebih baik bersemoga. Ya..semoga PPSU tetap mendapatkan simpati warga Jakarta.

Pasukan oranye ini memang bisa dikatakan tidak hanya disematkan untuk PPSU Kelurahan saja tetapi juga disematkan bagi suku dinas kebersihan pemerintah provinsi DKI Jakarta. Tapi, karena masyarakat lebih dekat dengan PPSU Kelurahan sehingga merekalah yang lebih mendapatkan perhatian. Hal ini disebabkan juga oleh faktor wilayah yang menjadi penuntasan tugas PPSU yang sering berinteraksi dengan, karena mereka pun bekerja atas dasar pengaduan/pengajuan dari masyarakat melalui aplikasi clue. Hebatnya PPSU ini adalah fast responterhadap aduan masyarakat. Jalan berlubang sedikit saja minimal 4 hari sudah rapi kembali. Tapi, karakteristik lubangnya pun menggunakan syarat dan ketentuan berlaku. Jadi, misal lubang sumur yang di adukan oleh masyarakat ya nanti dulu, brad!

Oke kita kembali ke jalan yang benar sekarang. Pasukan oranye ini bekerja kurang lebih 7 s.d 8 jam sehari, dengan waktu istirahat satu jam. Tetapi, jika ada keadaan yang mendesak seperti pengajuan masyarakat yang meminta tolong sesuatu misalnya, mereka selalu ready and standby. Keren kan? Iya, karena mereka tulus menjalani pekerjaan ini. Karena mereka meyakini pekerjaan mereka itu membawa manfaat nyata bagi lingkungan sekitar. Tahu passion? Iya, bisa dibilang mungkin menjadi pasukan oranye sudah menjadi passion mereka. Emang apa itu passion? Sederhananya, ketika elu ngelakuin sesuatu dan itu membuat lu semakin berdaya, itu passion lu!

Pasukan oranye ini diberikan tugas per zona. Jumlah zonanya tergantung luas wilayah dan kebutuhan. Semakin luas wilayahnya maka jumlah personil ikut bertambah. Penambahan personil ini biasa dilakukan setahun sekali. Tingkat pendidikan mereka rata-rata bangku Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama, tetapi ada juga yang Strata Satu atau Sarjana. Usia mereka juga beragam, mulai dari yang 'bocah' sampai yang 'babe'. Kolaborasi lintas generasi yang sangat baik, dimana Si Babe kadang mengeluarkan kejenakaannya dan Si Bocah kadang mengeluarkan banyolan khas zamannya. Tidak ada jarak yang cukup serius karena meraka meyakini pekerjaan mereka untuk kebaikan dan kebermanfaatan orang banyak. Menjadi seorang pasukan oranye juga pekerjaan mulia.

Mereka juga memiliki waktu untuk piket dengan pembagian hari masing-masing zona satu hari piket. Biasanya mereka mengcover target-target kerja yang perlu dituntaskan. Dalam peraturan gubernur juga jelas diterangkan demikian. Orientasi PPSU adalah bagaimana memberikan pelayanan prima bagi masyarakat terhadap masalah di lingkungannya. Termasuk ketika penertiban bangunan liar dan penertiban kost-kost mereka di ikut sertakan dalam satuan tim, tidak lain untuk menjaga lingkungan tetap nyaman untuk dihuni. Pasukan oranye juga diberikan jaminan bagi dirinya dan keluarganya melalui BPJS Ketenagakerjaan. Dalam bekerja mereka turut dilengkapi dengan personal protective equipment (ppe) atau mudahnya disebut Alat Pelindung Diri (APD). Tidak lupa gaji mereka pun tidak seperti dahulu, gaji mereka standard UMP (Upah Minimum Provinsi) sebesar 3 juta-an lebih sedikit. Gaji yang layak diberikan kepada pasukan oranye atas dedikasinya terhadap lingkungan. Bersyukur mereka saat ini diperhatikan lebih.

Pembelajaran pertama yang bisa diambil dari pasukan oranye ini adalah tentang ketulusan dan dedikasi terhadap lingkungan sekitarnya. Saya mencoba ikut dalam beberapa kesempatan bersama meraka. Saya tidak menemukan wajah yang murung, justru saya lebih melihatnya kumpulan kejenakaan khas orang jakarta. Jika ada ketegasan pun dikemas dengan cukup baik oleh pimpinan daripada pasukan oranye ini. Mungkin pekerjaan mereka melelahkan karena harus selalu sigap terhadap tugas untuk melayani aduan masyarakat. Dan bagi masyarakat DKI Jakarta, jangan lupa menghargai kontribusi mereka bagi lingkungan. Memelihara dan menjaga lingkungan adalah tanggungjawab bersama masyarakat Jakarta. Pola pikir yang mengatakan,"ah udah ngapain repot-repot. Orang udah ada yang bersihin. Kan dia digaji juga" atau ada lagi seperti ini,"Mereka kan tugasnya emang disuruh begitu. Ngapain peduli-peduli amat. Nanti juga bersih sendiri". Saran guekalau ketemu orang seperti ini bilang aje... 

Pa-Le-Lu

Afan Merah                                                                                          

Jakarta, 12 Agustus 2017