Mohon tunggu...
Satria Zulfikar Rasyid
Satria Zulfikar Rasyid Mohon Tunggu...

Seorang mahasiswa juara bertahan di kampus! Bertahan gak wisuda-wisuda.. mau wisuda malah didepak!! pindah lagi ke kampus lain.. Saat ini bekerja di Pers Kampus. Jabatan Pemred Justibelen 2015-2016 Forjust FH-Unram Blog pribadi: https://satriazr.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Cetak Dibunuh Online, Online Dibunuh Hoax

19 Februari 2017   01:11 Diperbarui: 19 Februari 2017   14:03 825 10 4 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Cetak Dibunuh Online, Online Dibunuh Hoax
ilustrasi koran (riauonline.com)

Perkembangan informasi berbasis internet membuat perusahaan surat kabar cetak harap-harap cemas. Setelah berpikir lama, mau tidak mau mengikuti atau lebih tepatnya ditarik globalisasi menuju media berbasis daring (online).

Ini merupakan tantangan baru. Hadirnya media online untuk menjawab kebutuhan masyarakat akan informasi yang sifatnya cepat dan singkat. Meskipun tantangannya merusak brand media yang selama ini dibangun. Sajian koran yang menghadirkan akurasi yang cermat, berbasis data yang lengkap, dan mendalam, dapat saja dirusak dengan versi online di tubuh media itu sendiri.

Beberapa orang yang konsen di bidang jurnalisme menyayangkan kehadiran online. Selain akan membunuh cetak, hadirnya online dapat juga merusak brand yang selama ini dibangun. Bre Redana dan Andreas Harsono merupakan sedikit orang yang mengkhawatirkan eksistensinya online.

Misalnya majalah atau koran Tempo, media yang sifatnya investigatif dan indepth news ini, sedikit demi sedikit kebanggaan masyarakat mulai luntur dengan hadirnya Tempo.co. Sajian berita yang sifatnya cepat dan praktis ini, memilih untuk meninggalkan investigatif dan berita mendalamnya.

Andakata media daringnya tidak menggunakan brand yang ada pada koran atau majalah, tentu tidak masalah. Namun streotipe masyarakat yang lebih cendrung mengonsumsi online akan beranggapan apa yang diberitakan online sama seperti apa yang diberitakan koran maupun majalah. Padahal hal tersebut berbeda.

Masyarakat tentu diuntungkan dengan berita yang praktis dan cepat ini. Tapi tanpa sadar justru akan merusak basis membaca masyarakat Indonesia. Ketika zaman Orde Lama memperkenalkan buku, di zaman Orde Baru justru buku bacaan dimusnahkan. Saat Orde Reformasi, kembali memperkenalkan buku yang selalu terancam peredaraanya sejak rezim Soeharto. Namun geliat masuknya teknologi berbasis internet mengharuskan buku bacaan menemukan rival yang tangguh.

Sifat praktisnya media online merusak basis membaca masyarakat. Ketika masyarakat menemukan kenikmatan membaca media online yang sifatnya praktis dan singkat, tentu minat membaca buku berkurang. Masyarakat akan malas membaca buku yang sifatnya panjang dan memakan waktu itu. Di sinilah saya katakan merusak basis membaca yang belum sempat terbangun ini.

Perbedaan online dan cetak tentu ada pada kelengkapan sajian beritanya. Online menekankan kecepatan dan kecermatan, koran menekankan kualitas, data, kecermatan, dan investigatif yang menarik untuk dilahap. Meskipun beberapa media online telah tumbuh dengan basis datanya yang kuat, seperti Tirto.id.

Namanya praktis tentu memiliki efek samping. Sama halnya dengan mengonsumsi makanan praktis atau cepat saji. Seiring waktu akan membuat tubuh berlemak. Ilustrasi ini pas untuk disematkan pada media berbasis daring.

Banyak orang mengejek perusahaan pers yang memiliki media online dengan kalimat: “Mensubsidikan orang yang akan membunuhmu!” Mengapa demikian? Karena saat ini beberapa media yang memiliki koran dan online, masih memberi subsidi pada online. Karena pemasukan atau keuntungan online belum sebesar keuntungan cetak.

Bagaimana dengan Media Lokal?

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN