Mohon tunggu...
Sarkoro Doso Budiatmoko
Sarkoro Doso Budiatmoko Mohon Tunggu... Penikmat bacaan

Bersyukur selalu.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Memandang Kamala Harris pada Hari Ibu

23 Desember 2020   13:45 Diperbarui: 23 Desember 2020   13:49 238 5 0 Mohon Tunggu...

Awalnya banyak orang yang tidak kenal siapa Kamala Harris. Sampai pada suatu hari di bulan Nopember 2020, namanya menggema ke seluruh penjuru dunia. Hari saat dia meraih suara terbanyak dalam pemilihan Presiden AS. Kamala Harris telah memenangkan pilpres dan menjadi Wakil Presiden ke 49 mendampingi Presiden ke 46, Joe Biden.

Joe Biden bersama Kamala Harris akan memimpin Negara besar itu menggantikan Donald Trump, mulai 21 Januari 2021. Dan, Kamala Harris yang berkulit berwarna itu menjadi wanita pertama yang menduduki posisi Wapres di Negara besar itu. 

Betapa terhormat, terpandang, diperhitungkan dan membanggakannya posisi Wakil Presiden di AS. Maka, setelah terpilihnya Kamala Harris, kalau banyak ibu-ibu ikut merasa bangga dan berbahagia adalah sesuatu yang wajar dan lumrah saja. Paling tidak, misalnya, bahagia karena merasa sebagai sesama wanita, sesama ibu dari anak-anak. Atau alasan lain seperti menyukai daya juangnya, kecantikannya, buah pikiran-pikirannya dan kecerdasannya. Bisa juga menaruh simpati dan hormat pada perjuangan ibundanya. 

Ibunya, bernama Shyamala Gopalan adalah imigran berdarah India yang juga seorang single parent. Tekadnya yang kuat telah berhasil membesarkan dua anak perempuannya. Salah satunya, Kamala Harris yang telah menjadi wanita sangat membanggakan. 

Sebagai seorang ibu, siapapun, tentu sangat bersyukur kalau anak yang dikandungnya, dilahirkannya, disusuinya, diasuhnya, dibimbingnya, dididiknya, diajarnya, bisa tumbuh dan berkembang menjadi orang yang  terpandang dan diperhitungkan. Apalagi ditambah dengan tingkat intelektual tinggi, wawasan luas, karir cemerlang, pandai berorganisasi, bijak dalam pengambilan keputusan, piawai dalam berkomunikasi, dan berpandangan jauh ke depan. 

Kamala Harris ibarat benih unggul yang tumbuh dan berkembang di sebuah cawan penuh nutrisi dan lingkungan yang mendukung untuk mengantarnya menjadi orang kuat. Ibunya berperan vital mewadahi tempat yang memungkinkan anak perempuannya itu tumbuh optimal. 

Ibunya yang lain, yaitu negaranya, AS, sering dipandang sebagai tempat yang cocok bagi siapapun yang ingin maju. Pandangan seperti itu membuat AS seperti gula yang dikerubuti imigran dari berbagai penjuru dunia.  Maka dari itu AS pun dipenuhi orang-orang yang saling bersaing dan berlomba untuk menjadi manusia paling maju. Persaingan yang terjadi pasti sangat ketat dan penuh tekanan. Semua berusaha menjadi yang terbaik dan gagal berarti menjadi pecundang. 

Di Negara semaju dan seliberal AS, siapapun orangnya, apalagi sebagai imigran dan bukan bagian dari mayoritas, bukan perkara mudah untuk menjadi orang maju dan diperhitungkan. Siapapun dia harus memiliki keistimewaan lebih dan benar-benar tangguh. 

Kamala Harris pada dasarnya juga seorang wanita biasa yang kalau hidup di Inggris, tidak akan bisa menggantikan Ratu Elisabet. Kalau hidup di Indonesia tidak akan pernah bisa menjadi Sultan. Bahkan, sepertinya, dia pun tidak akan bisa naik menjadi ketua umum partai politik karena dia bukan pendiri partai, bukan anak pendiri partai dan bukan pula pemilik partai politik. 

Dia hidup di masyarakat terbuka yang memungkinkan bukan siapa-siapa menjadi siapa. Atmosfir kebebasan dan kesamaan peluang bagi semua itulah sepertinya yang menempa dan mengembangkan siapapun, termasuk dia, menjadi tangguh. 

Ketangguhan seseorang pun semakin diuji dengan kenyataan bahwa tidak semua yang ada dan berasal dari AS itu baik. Masalah ras, misalnya, seperti api dalam sekam yang kapan saja bisa memantik kobaran api yang membara. Longgarnya persyaratan untuk memiliki senjata api juga sering memicu tindak kriminal yang mengerikan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x