Mohon tunggu...
Sarah Simanjuntak
Sarah Simanjuntak Mohon Tunggu...

a mother and a wife.. who is eager to develop herselves to be better.. and share to the world the good things she knew

Selanjutnya

Tutup

Kuliner

Bolehkah Anak Balita Mengkonsumsi Madu?

24 Februari 2011   20:59 Diperbarui: 26 Juni 2015   08:18 0 0 1 Mohon Tunggu...

Pemberian madu pada bayi dan balita memang masih kontroversial dibicarakan saat ini. Sebagai seorang ibu yang memiliki anak usia balita, saya merasa peduli untuk mencari tahu permasalahan ini agar tidak melakukan treatment yang salah pada Shallom dan agar tidak memberikan sharing pengalaman yang menyesatkan pada teman-teman, keluarga maupun tetangga ketika membahas seputar anak dan kesehatannya. Hasil mencari tahu tersebut menghasilkan informasi yang sangat melegakan untuk tidak khawatir memberikan madu pada anak. Ketika masih bayi (klasifikasi bayi adalah anak berusia 0 sampai 1 tahun), khususnya setelah Shallom berhenti minum ASI, dia jadi gampang sekali sakit. Demam, flu, pilek, batuk, mencret bahkan alergi sehingga harus mengkonsumsi susu kedelai dan berpantang makan makanan yang mengandung kaldu daging sapi dan makanan laut. Saya sempat stress mengingat harga susu kedelai dua kali lipat dari susu formula biasa. Belum lagi ASI saya sudah tidak keluar lagi. Bukan karena saya tidak ingin memberi ASI ekslusif pada Shallom hingga dia berumur 2 tahun. Tapi memang tepat ketika umur Sha 6 bulan, ASI-ku sudah tidak mau keluar lagi bahkan tanpa proses bengkak, meriang dan demam seperti yang sering dialami oleh ibu-ibu yang ingin menghentikan pemberian ASI bagi anaknya. They just STOP at all tanpa tedeng aling-aling. Namun walaupun saya hanya dapat memberi Sha ASI selama 6 bulan, saya tetap menyarankan teman-teman yang ASI-nya masih berproduksi dengan baik untuk sebaiknya tetap member bayinya ASI Ekslusif hingga 2 tahun sehingga daya tahan tubuhnya cukup terlindungi. Terbukti setelah Shallom berhenti ASI, dia jadi mudah sakit. Mengenai berpantang makanan yang dianjurkan dokter untuk Shallom, yang paling mengkhawatirkan saya adalah banyaknya pantangan makanan akan menyusahkan Sha dikemudian hari. Apalagi makanan laut itu mengandung banyak protein dan menurut penelitian protein itu baik untuk pertumbuhan otaknya. Memang sih protein tidak hanya didapat dari makanan laut. Tapi protein dari makanan laut adalah bersifat rendah akan lemak jenuh dan satu sumber protein yang sempurna. Sebagian orang memang mencemaskan pencemaran pada produk hasil laut sehingga menghindari memakanan makanan hasil laut. Namun, meningkatkan konsumsi makanan hasil laut, manfaatnya lebih banyak dibandingkan resikonya. Para ahli kesehatan di seluruh dunia merekomendasikan untuk memakan sedikitnya dua porsi (150 gram) ikan tiap minggu. Back to Madu, walaupun sebenarnya pemberian madu disarankan untuk anak diatas 1 tahun, karena kondisi Sha yang gampang sekali sakit dan kekhawatiran saya akan konsumsi obat kimia yang sudah harus ditelan Shallom sedari umurnya 6 bulan membuat saya bertekad bulat memberi Shallom madu di usianya 8 bulan. Saat itu saya berfikir, kalaupun memberikan madu akan memberi efek samping yang tidak baik tapi pastinya resiko itu lebih kecil ketimbang meminum obat-obatan kimia atau tanpa pengobatan sama sekali. Dan terbukti, setelah saya memberikan Shallom satu sendok madu sebanyak 2 kali sehari yang diencerkan dengan air putih terlebih dahulu, dia sangat jarang sakit lagi, nafsu makannya pun meningkat walau disaat tertentu seperti sedang tumbuh gigi nafsu makannya berkurang. Daya tahan tubuh Sha menjadi meningkat! Namun saya tetap menyarankan agar pemberian madu pada anak sebaiknya ketika sudah berumur diatas 1 tahun karena setelah melewati usia tersebut, saluran cerna bayi sudah cukup matang dan bakteri tidak bisa tumbuhberkembang di sana. Dan JANGAN berikan madu untuk orang dewasa pada anak-anak TAPI berikanlah MADU KHUSUS UNTUK ANAK (HONEY FOR KIDS) karena DIRACIK KHUSUS dengan komposisi yang tepat untuk usia anak. Karena saya bekerja di IPB, perguruan tinggi yang berbasis penelitian dan salah satu produk unggulannya adalah madu, saya merasa sangat beruntung bisa mendapatkan produk dan informasi yang langsung dari sumbernya. Karena langsung dari produsennya, informasi yang saya terima lebih akurat untuk menguatkan informasi yang sudah saya kumpulkan melalui internet. Beruntung IPB punya produk MADU KHUSU UNTUK ANAK ini. Saya juga ikut senang karena dua tetanggaku mengaku setelah minum Honey for Kids yang kuberikan selain daya tahan tubuh anaknya menjadi lebih kuat, anaknya juga lebih lahap makannya dan tidurnya lebih nyenyak. Sharing ini saya berikan bukan semata-mata karena saya ingin berbisnis madu. Tapi dilandasi dengan keinginan untuk berbagi sebagai sesama ibu. Jika memang dapat memberi sedikit tambahan itu hanyalah BONUS. ( * Big Smile ) Ketika “belanja” madu untuk Shallom, saya juga melihat madu untuk orang dewasa dengan beragam jenis seperti Madu Kapuk Randu, Karet, Rambutan, Hutan, Klengkeng, Jambu Mete, Kopi, Mangga, Mahoni, Durian, Kaliandra, bahkan Madu Royal Jelly ( madu+royal+jelly), Madu Herbal plus (madu+royal jelly+pollen+ zaitun+jinten hitam), Madu Pollen ( madu+pollen), Madu Super (madu+pollen+royal jelly), ataupun Madu Super Special (madu super+rempah). Sempat bingung memilihnya dan saya putuskan membeli Madu Kapuk Randu. Tidak ada alasan khusus memilih madu itu saat itu. Saya hanya berfikir, soal manfaat madu, rasanya saya tidak perlu pemaparan panjang lagi karena ada berjuta manfaat madu yang teman-teman sudah tahu dan bisa disearching di internet. Jadi jenis apapun, yang penting adalah mengkonsumsinya secara rutin. Saya dan suami pun mengkonsumsinya dengan cara yang sama seperti untuk Shallom yaitu dengan mencampurkannya pada air putih, diminum satu sendok sehari sekali. Boleh saja sehari 2 kali, namun karena hanya untuk menambah daya tahan tubuh, kami hanya konsumsi sekali sehari. Toh dari lauk-pauk, sayuran dan buah yang dikonsumsi pada saat makan, banyak vitamin zat gizi yang sudah didapatkan.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x