Mohon tunggu...
Santi Titik Lestari
Santi Titik Lestari Mohon Tunggu... Mari menulis!!

Menulis untuk mengawetkan ide dan berbagi ....

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Menghargai Anak yang Bernegosiasi

31 Mei 2019   23:46 Diperbarui: 31 Mei 2019   23:50 0 1 0 Mohon Tunggu...


Mengamati percakapan seorang anak menolong kita menemukan "keajaiban-keajaiban" kecil di dalamnya. Ketika anak berbicara, amatilah cara dia menyampaikan maksudnya. Sering kali, anak kecil memang menyampaikan maksudnya dengan lugas. Namun, kadang kala, seorang anak menyampaikan keinginannya dengan keterampilan khusus, saya menamainya dengan keahlian bernegosiasi. Tidak terlalu ribet penyampaiannya, tetapi ada tahap-tahap kelihaian berbicara yang muncul melalui kalimat-kalimat yang digunakan.

Negosiasi berarti proses tawar-menawar dengan jalan berunding untuk mencapai kesepakatan bersama antara satu pihak (kelompok atau organisasi) dan pihak (kelompok atau organisasi) yang lain (KBBI V). Proses ini pun "secara tidak sadar" dialami oleh seorang anak, termasuk anak balita, ketika mereka mengajukan sesuatu kepada orang tuanya.

Penyebab Anak Bernegosiasi

Proses tawar-menawar (negosiasi) terjadi ketika ada ketidakseimbangan antara keinginan dengan respons yang diterima. Seorang anak akan mengambil proses ini ketika dia tahu bahwa keinginannya kemungkinan besar tidak akan dikabulkan oleh orang tuanya. Pengetahuan ini dia peroleh berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, terutama ketika dia keinginan-keinginannya tidak dikabulkan.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah, terjadi percakapan sederhana, tetapi membuat saya terperangah.

Anak: "Ma, aku mau ice cream." (Saat itu, anak saya sedang dalam kondisi batuk)
Saya: "'Kan kamu lagi batuk."
Anak: "Sudah sembuh kok, Ma."

Saya hanya diam. Anak saya bisa menebak, ketika saya diam, itu berarti ada sesuatu yang tidak menyenangkan bagi saya. Lalu, dia bicara lagi.

Anak: "Batukku tinggal sedikit, Ma."
Saya: "Biar sembuh dulu."
Anak: "Sudah sembuh kok, Ma, sekarang. Tadi di sekolah juga tidak batuk."

Saya diam. Bukan karena saya tidak mau menjawab, tetapi saya ingin tahu apa reaksinya kemudian. Setelah beberapa saat.

Anak: "Ma, hari ini beli ice cream. Besok, tidak usah beli."
Saya: "Kenapa besok tidak usah beli?"
Anak: "'Kan hari ini mau beli."
Saya: "Siapa yang mau beli? Mama nggak beli."
Anak: "Mama beliin aku. Besok, nggak usah beli."

Anak saya berusia 5 tahun, dan yang menarik dalam percakapannya ialah keterampilan dalam bernegosiasi, termasuk alasan-alasan yang dipilihnya pun beraneka.

Merespons Negosiasi Anak

Ketika seorang anak melakukan negosiasi dengan kita, sebagai orang tua, kita jangan meremehkannya atau tidak menghargai perkataannya. Menurut saya, ketika anak melakukan negosiasi, dia sedang memperjuangkan pendapatnya, keinginannya, dan itu pantas untuk dihargai. Seorang anak yang mau bernegosiasi berarti memiliki rasa antusias akan apa yang diinginkannya.

Bayangkan jika seorang anak tidak memiliki rasa antusias akan apa yang dia inginkan. Tentu, hidupnya akan selalu berada di bawah tekanan orang lain, tidak berani mengungkapkan pendapat/ide, hidupnya tertekan, dan tidak ada perubahan baik yang signifikan dalam kehidupannya.

Karena itu, marilah kita pun melatih diri untuk bisa menghargai anak-anak ketika mereka berbicara. Ketika mereka bernegosiasi pun, usahakan kita bisa mendengarkan perkataan mereka sampai tuntas.

Tantangan bagi Orang Tua

Dunia ini makin lama makin sibuk. Saking sibuknya, kadang kita sulit untuk menyediakan waktu dan diri kita, terutama telinga, untuk mendengarkan orang lain dengan saksama. Kehidupan yang serba cepat, serba betul, dan minim perhatian sering kali membuat orang tua menjadi sulit untuk mendengarkan perkataan anak.

Dalam merespons seorang anak, terutama ketika mereka melakukan negosiasi, orang tua harus bisa membuat margin (batas-batas) dalam pikirannya. Persiapkan pikiran kita dengan beberapa alternatif jawaban supaya kita bisa menjawab mereka dengan tepat. Sebab, ketika orang tua tidak siap menghadapi anak yang melakukan negosiasi, biasanya orang tua akan mengambil langkah instan berupa langsung mengabulkan keinginan anak (tanpa pikir panjang), marah-marah/membentak anak, dan menjawab anak sekadarnya (sering kali hal ini akan membuat anak kecewa dan marah).

Menanamkan Nilai-Nilai Hidup

Sekalipun sebagai orang tua kita memiliki otoritas/wewenang untuk mengabulkan/tidak mengabulkan keinginan anak kita, kita tetap harus bijaksana dalam memutuskannya. Jika dalam proses negosiasi akhirnya kita mengabulkan keinginan anak, kita tetap harus mempertahankan nilai-nilai hidup yang baik dalam memutuskannya. Tidak selalu keinginan anak yang kita kabulkan adalah sesuatu yang berdampak baik baginya. Mungkin, bisa juga malah sesuatu yang membuatnya terlena, menjadi manja, dan kurang memedulikan keadaan sekitar.

Karena itu, setiap orang tua juga harus membekali dirinya dengan nilai-nilai hidup yang baik. Dengan demikian, ketika mengerjakan tanggung jawabnya sebagai orang tua, kita bisa mengarahkan dan mendidik anak kita dengan yakin. Seorang anak yang melakukan negosiasi dapat kita tanggapi dengan sikap yang "terbuka", rasa antusias, dan jawaban yang tepat untuk mengarahkan anak mengambil pilihan yang baik dan berguna bagi hidupnya.








KONTEN MENARIK LAINNYA
x