Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Independent Blogger

blogger harus punya dedikasi dan harga diri. bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Janda Lebih Buruk Ketimbang Duda?

8 Mei 2018   11:50 Diperbarui: 9 Mei 2018   04:13 347 1 2
Janda Lebih Buruk Ketimbang Duda?
https://wallpapers-hd-wide.com

Oh... Fatimah lime taon jadi jande

Banyaklah orang yang sayang tergile-gile

Oh... Fatimah lime taon jadi jande

Nyabaklah roang yang sayang tekenan jiwe


Fatimeh dari cibulan

Parasnya cantik bukan buatan

Dimana-mana jadi rebutan

Tapi sayang mate duitan

...

(Fatimah - Pancaran Sinar Petromak/PSP)

Sekilas sepenggal lirik lagu diatas merupakan bagian pembuka dari awal lagu Fatimah oleh grup orkes moral PSP. Lagu ini pun seingat Penulis pernah menjadi pembuka dalam sinetron berjudul sama "Fatimah" yang tayang di stasiun televisi ANTV pada pertengahan tahun 90-an dimana salah satu tokoh diperankan oleh artis Yurike Prastika. Sinetron yang dibalut komedi ini menceritakan kisah kehidupan seorang janda bernama "Fatimah" beranak satu dalam lingkup sosial. Sayangnya dokumentasi prihal sinetron ini sulit sekali ditemukan.

Terlepas dari materi sinetron, apa yang Penulis ingin bahas ialah mengenai pandangan negatif yang lekat kepada kaum wanita dengan status janda. Sebagaimana artikel Penulis sebelumnya yang berjudul "Jurang Nestapa Si Pelakor", salah satu komentar Kompasianer Riza Hariati yang menginformasikan ibarat pepatah sudah jatuh tertimpa tangga, wanita-wanita yang bercerai justru dijauhi kerabat-kerabatnya para istri yang bersuami dikarenakan mereka khawatir suaminya direbut.

Tentu ini menjadi menarik manakala persepsi kaum wanita sebagai pelakor lebih kuat ketimbang kaum pria sebagai pebinor. Lantas pertanyaannya adalah mengapa kondisi ini bisa terjadi dimana kaum wanita (status) janda dipersepsikan lebih buruk ketimbang kaum pria (status) duda? Apakah para pria yang menjadi duda pernah mengalami dijauhi oleh kerabat-kerabatnya dikarenakan mereka khawatir istrinya direbut?

Konteks utama yang perlu kita perhatikan dalam kasus ini ialah wanita status janda akibat perceraian, tak sedikit wanita-wanita yang bercerai dan menjadi janda dilegitimasikan sebagai sosok yang tidak baik. Mereka cenderung diposisikan sebagai mantan istri yang tidak patuh pada suami, pembangkang, dan tidak cakap menjadi sosok ibu rumah tangga. 

Anggapan miring tersebut seolah membaur dengan pandangan-pandangan miring dalam kehidupan sosial terhadap kaum wanita yang inkonsisten, labil, tukang gosip, dan kaum yang lemah. Padahal banyak keunggulan yang kaum wanita miliki seperti, mereka memiliki intelektual lebih tinggi ketimbang kaum pria, mereka lebih peka terhadap masalah, mereka telaten, dan lain-lain sebagainya.

Ya pandangan-pandangan miring tersebut seolah menggeneralisir bahwa kualitas dari kaum wanita sama buruknya, jadi mafhun bilamana penilaian sepihak terlontar tanpa mengetahui pasti atau mengenal baik karakter yang bersangkutan. Publik atau masyarakat sekitar hanya sepintas mengetahui seluk beluk rumah tangga terkait dari kabar selentingan, kecenderungan istri yang minim sosialisasi dengan warga sekitar ketimbang sang suami menambah asumsi perceraian bahwa kesemua kesalahan tertuju kepada sang istri. 

Alhasil tak mengherankan apabila image buruk (bahkan persepsi dari kaum wanita sendiri) telah melekat lebih dahulu terhadap kaum wanita yang mengalami perceraian. Seolah tidak ada keadilan, pembelaan-pembelaan yang mereka ucapkan dinilai sebagai alasan pembenaran. Meminimalisir imbas yang mungkin terjadi, mereka hanya dapat diam menerima stigma negatif dan berharap keadaan membaik hingga kebenaran menunjukkan jati dirinya.

Padahal jika mau jujur-jujuran tak sedikit pula kaum pria yang tidak cakap menjadi pemimpin/suami/kepala rumahtangga dan tidak pandai menjaga dirinya. Namun disebabkan kaum pria memiliki wibawa, kodrat yang lebih tinggi ketimbang kaum wanita, kemampanan, kekayaan, hingga jabatan seolah menciptakan tameng pada diri mereka dan memantulkan segala bentuk kekurangannya kepada kaum wanita yaitu si istri.

Berbicara mengenai berkeluarga maka semua tertuju kepada sinkronisasi antara suami dan istri dalam membina rumah tangga. Apabila terjadi perceraian tentu tidak elok bilamana langsung menyimpulkan bahwa kesalahan berada pada salah satu pihak, ihwal dari sebuah perceraian berarti menunjukkan ada masalah internal (sekalipun disebabkan oleh pelakor/pebinor) yang perlu diselesaikan antara suami istri, bukan malah menyudahi permasalahan dengan cara bubar. Demikian artikel Penulis, mohon maaf bilamana ada kekurangan dikarenakan kekurangan milik Penulis pribadi. Terima kasih.