Reno Dwiheryana
Reno Dwiheryana Independent Blogger

bersyukur seminim apapun keadaan. umur kian bertambah, jatah hidup di dunia semakin berkurang. mati-matian manusia demi dunia, akan tetapi dunia tidak manusia bawa mati. sebanyak apapun harta manusia tidak akan mencukupi hidup yang singkat ini.

Selanjutnya

Tutup

Muda Pilihan

Menjadi Entrepreneur Fintech, Kenapa Tidak?

8 Desember 2017   07:34 Diperbarui: 8 Desember 2017   08:37 772 5 4
Menjadi Entrepreneur Fintech, Kenapa Tidak?
Entrepreneur (Sumber : belimitless.com)

Sebelum masuk ke materi utama, mari pertama-tama kita terlebih dahulu membahas apa yang dimaksud dengan "Entrepreneur"? Ada 2 hal yang kiranya perlu ditelaah yaitu prihal entrepreneur dan entrepreneurship. Entrepreneur secara sederhana apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia berarti kewirausahaan atau orang yang menjalankan usaha, sedangkan entrepreneurship adalah proses  baik merencanakan, membuat, dan menjalankan sebuah usaha atau bisnis.

Berbicara mengenai Entrepreneur, dikutip dari siaran pers Kementerian Koperasi dan Usaha (11/3/2017) bahwa ratio wirausaha Indonesia yang pada 2013/2014 lalu masih 1,67 persen kini, berdasarkan data Badan Pusat Statistik sudah naik menjadi 3,1 persen. Menkop dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga mengatakan menurut BPS tahun 2016 Indonesia dengan jumlah populasi penduduk sekitar 252 juta jiwa, jumlah wirausaha non pertanian yang menetap mencapai 7,8 juta orang atau 3,1 persen.

Nilai 3,1 persen itu masih lebih rendah dibandingkan dengan negara lain seperti Malaysia 5 persen, China 10 persen, Singapura 7 persen, Jepang 11 persen maupun AS yang 12 persen. Walau demikian tingkat kewirausahaan Indonesia telah melampaui 2 persen dari populasi penduduk, sebagai syarat minimal suatu masyarakat akan sejahtera.

Bertumbuhnya wirausaha tak lepas dari peran masyarakat bersama pemerintah, serta tidak luput pula hadirnya dukungan pihak swasta dan kalangan mahasiswa atau universitas. Dalam acara Gerakan Kewirausahaan Nasional (GKN) 2017 dan penyerahan penghargaan para pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2016, di Graha Widya Wisuda Institut Pertanian Bogor (IPB), Menkop berpesan pada pengusaha muda untuk menjadi social entrepreneur, yang tidak mengejar keuntungan semata namun juga bermanfaat bagi lingkungan sekitar.

Selaras dengan maksud tujuan Gerakan Kewirausahaan Nasional, di pertengahan tahun sebelumnya 2016 Kementerian Komunikasi dan Informatika bersama dengan KIBAR secara resmi telah meluncurkan Gerakan Nasional 1000 Startup Digital. Tujuan dari gerakan ini yaitu untuk melahirkan entrepreneur baru yang akan menjadi awal untuk menciptakan masa depan ekonomi digital Indonesia. Hal ini dilatarbelakangi oleh perkembangan industri digital seperti e-commerce yang terjadi saat seperti sekarang.

Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan industri digital sebagai ranah potensial untuk menyumbang Gross Domestic Product Indonesia. Menurutnya, jika target nilai e-commerce di tahun 2020 tercapai hingga Rp130 Miliar maka nilai GDP menjadi 9%. Nilai tersebut baru dilihat dari sisi e-commerce, sedangkan ranah ekonomi digital tidak hanya sekadar e-commerce. Masih banyak industri kreatif lainnya seperti industri games dan perfilman yang disokong oleh Badan Ekonomi Kreatif. Di akhir sambutannya Menteri Kominfo Rudiantara menegaskan bahwa Gerakan Nasional 1000 Startup Digital ini adalah milik bersama, dan semua pihak dapat berkontribusi.

Dari materi pembuka diatas, apakah anda sudah mendapatkan gambaran mengenai entrepreneur?

Masuk ke dalam materi pembahasan bahwa menjadi seorang entrepreneur selain wajib dibekali kepribadian (interpersonal) yang matang, relasi yang luas, juga memiliki kemampuan salah satunya pandai dalam melihat peluang bisnis, mengapa? Dalam dunia bisnis atau usaha apakah itu bentuknya (terlepas dari bisnis yang digeluti sama jenisnya) pasti memiliki segmen pasar dan kabar baiknya di Indonesia peluang tersebut terbuka luas dimana populasi di Indonesia sangatlah besar dan masih begitu banyak potensi yang dapat digali.

Kemudian menjadi entrepreneur wajib mempunyai wawasan yang luas terhadap faktor-faktor lain penunjang usahanya seperti situasi bisnis, perkembangan teknologi, dasar hukum prihal usaha yang digelutinya, dan tidak lupa pula karena dunia usaha berkaitan erat dengan pelanggan maka dengan kata lain entrepreneur wajib berorientasi pada kepuasan pelanggan (customer satisfaction - experience and trust).

Hal-hal tersebutlah yang tergambarkan dari dua narasumber yang hadir dalam acara workshop Entrepreneurshare (7/12/2017) yang diadakan oleh Bank Danamon dengan tema "Fintech (Financial Technology) Solusi Literasi di Era Digital yaitu Adrian Gunadi (Investree) dan Marshall Pribadi (Privi.id). Mereka diundang untuk memberikan pencerahan berikut berbagi pengalaman selaku entrepreneur dalam bidang start up digital fintech.

Layaknya Andrian Gunadi dimana memiliki pengalaman selama 20 tahun di dunia perbankan, kenyamanan hidup yang ia raih selama itu tak membuat niatnya urung menjadi seorang entrepreneur. Ia dapat melihat peluang dari dunia perbankan saat ini dimana bisnis simpan pinjam punya potensi untuk dikembangkan.

Akhirnya pada 2016 lalu, ia memenuhi nazarnya untuk membuat sebuah start up digital simpan pinjam bernama Investree. Sebagaimana situasi kondisi data perbankan saat ini bahwa persentase cakupan nasabah baik yang memiliki rekening bank dan yang tidak cukuplah besar. Uniknya baik kedua belah pihak memiliki problematika yang sama yaitu prihal peminjaman modal usaha ke Bank, khususnya bagi mereka yang baru merintis dunia usaha maupun penggiat Usaha Kecil Menengah.

Sebagai start up bidang fintech maka Investree hadir sebagai solusi bagi mereka yang terkendala proses perbankan, dengan cara mempertemukan pihak peminjam dan si pemohon pinjaman. Tak tanggung-tanggung sudah tak terhitung dana pinjaman yang ia salurkan dan sudah begitu banyak orang yang terbantukan dengan hadirnya start up yang ia kembangkan tersebut.

Bertajuk sebagai sebuah aplikasi berbasis teknologi maka sudah menjadi tanggungjawab dari Investree untuk mengakomodir segala aspek penunjang bisnis tersebut, termasuk keamanan data pelanggan, mempersiapkan perangkat maupun piranti teknologi yang dibutuhkan, dasar hukum bentuk usaha, serta bermitra dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Kominfo untuk dapat bersama mengawasi ekosistem bisnis agar tetap sehat.

Lain halnya dengan Marshal Pribadi, pemuda yang genap berusia 27 tahun ini telah merambah sebagai entrepreneur bidang fintech dengan mengembangkan piranti lunak berupa otorisasi tanda tangan digital bernama Privi.id di tahun 2016. Sebagaimana salah satu gambaran akan berkembangnya teknologi dalam industri bisnis yaitu lahirnya era digitalisasi yang berdampak pada pengurangan penggunaan materi kertas (paperless).

Prihal tanda tangan digital ini memang belum marak di Indonesia, akan tetapi secara penerapan tanda tangan digital sudah diaplikasikan di banyak negara-negara maju. Sistematis dari tanda tangan digital sendiri adalah mempermudah otorisasi yang bersifat konvesional menjadi digital. Tanda tangan digital berbeda layaknya personalisasi yang umum dimana saat ini akun email maupun nomor selular menjadi landasan pondasi ketika seseorang mengotorisasi sebuah aplikasi akan data dirinya.

Tanda tangan digital tidak hanya sekedar guratan tanda tangan digital pada layar namun dibaliknya menekankan privasi terhadap kepemilikikan otoritasi seseorang dengan tingkat keamanan dan validasi lebih modern. Dengan tanda tangan digital maka proses alur otorisasi dokumen dapat dilakukan kapan dan dimana saja serta valid, juga dapat menekan cost (biaya) yang dikeluarkan perusahaan.

Sekilas diatas merupakan gambaran akan entrepreneurship dalam financial technology, bahwasanya dunia usaha tidak lepas dari perkembangan teknologi dan masih terbuka lebar untuk dikembangkan. Kita telah masuk ke era digital dan selayaknya kita sadar untuk meningkatkan potensi dalam diri yaitu dengan memanfaatkan teknologi demi kemajuan. 

Di sisi lain prihal entrepreneur yaitu turut andil membantu negara dari sisi pemasukan tetapi juga membuka lapangan pekerjaan. Semoga akan lahir entrepreneur-entrepreneur muda dan sukses kedepannya, serta entrepreneur menjadi pilar materi pembelajaran yang masuk ke ranah bangku-bangku sekolah, sehingga generasi-generasi Indonesia di masa depan memiliki bekal dan cikal bakal sebagai entrepreneur yang membanggakan.