Wong Sadli
Wong Sadli

life peace full, we love u full...

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Kok Limbah (Kantong) Plastik Adalah Ancaman, bukan Peluang Bisnis ?

5 Maret 2019   17:18 Diperbarui: 5 Maret 2019   17:27 148 0 0

Mengapa pemerintahan saat ini begitu concern terhadap kantong plastik bahkan diterapkan kantong plastik berbayar digelar per 1 maret 2019 lalu, tentu ada alasan yang tidak sederhana dan tujuan ekonomis semata dibalik permberlakkuan tersebut, sebagian kita sebagai masyarakat awan pasti yg sudah terbiasa mengunakan wadah ini dalam membawa belanjaan tentunya akan parno dengan kebijakan baru pemerintah ini.

Perlu diketahui bahwa sebelum negara kita menerapkan peraturan diet kantong plastik atau kantong plastik berbayar ini sebelumnya sudah ada beberapa negara yang lebih dahulu menerapkannya, diantaranya adalah Irlandia, Denmark, Scotlandia, Jerman, Afrika, USA, Prancis, Bangladesh, Australia, Mecxico, dan Italia.

Coba kita lihat ada ancaman apa dibalik kantong plastik ini terhadap masa depan kehidupan kita dimuka bumi ini, dan tahukah bahwa negara kita ini merupakan penyumbang no 2 terbesar di dunia, ya dunia internasional prestasi kita dalam membuang sampah plastik ke laut cukup "bagus", ini disampaikan oleh seorang mentri kelautan yang terkenal dengan hobbinya menenggelamkan kapal asing yang suka mencuri ikan dilaut indonesia.

Ya menteri susi pujiatuti, disampaikan bu susi, bahwa berdasarkan Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/ tahun dimana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.

Terus masalahnya apa bila kantong plastik (limbah plastik ) tersebut sudah dibuang ke laut atau kebumi kita ini? toh selesai, oh tidak sesederhana itu, disinilah masalah akan mulai terlihat pada 10 tahun atau 20 tahun kedepan kalo tidak dari sekarang kita mulai concern atas potensi masalah dari limbah berbahan plastik ini.

Karena butuh waktu ratusan tahun untuk mengurai sampah plastik yang sudah dibuang ke bumi/laut tersebut belum lagi masalah yang muncul bila penguraian ditanah tersebut tidak alami karena ada bahan dari limbah plastik  yang dapat merusak rantai makanan ekosistem yang ada didalam tanah dan bila sampah tersebut dibakarpun memberikan efek yang tidak baik bagi kesehatan bagi mahluk hidup disekitarnya, terutama bagi manusia yang secara tidak sengaja / sadar atau tidak menghirup udara dari hasil pembakaran tersebut bisa memberikan efek berupa, kanker, pembengkakan hati, dan gangguan sistem syaraf.

Belum lagi kalo limbah sampah plastik tersebut dibuang ke selokan atau parit yang dapat menyebabkan tersebumbatnya saluran air dilingkungan sekitar kita, yang berakibat terjadinya banjir makin besar, juga plastik yang sulit terurai tersebut bila ada air mengenang menjadi penampung sumber jentik-jentik nyamuk yang dapat mengancam dari segi lain berkembangnya virus DBD dan malaria atau sejenisnya.

Maka, perlunya sosialisasi dan kesadaran yang cukup masif dari seluruh warga masyarakat mulai dari provinsi, kabupaten, kota, kecamatan, lurah dan desa atas besarnya ancaman dimasa depan dari pengunaan kantong plastik yang menjadi limbah baik didarat, laut ataupun dibuang kekali/sungai untuk saat ini dan apalagi masa depan bagi generasi penerus kita, bayangkan apakah pantai-pantai akan masih indah seperti saat ini airnya, bila 70% isinya adalah limbah sampah yang banyak adalah kantong plastik yang sulit terurai hingga ratusan tahun tersebut, dan tiap hari berpuluh bahkan ratus ton terus bertambah dan tidak berbanding dengan yang terurai atau yang berkurang.

Kata menteri Siti Nurbaya, bahwa ada 3 kalangan industri penyumbang terbesar dari hadirnya limbah plastik ini, Pertama, industri manufaktur yang memproduksi aneka produk dengan kemasan berbahan plastik, seperti Unilever. Kedua, industri retail yang mencakup super market besar seperti Carrefour dan Hypermart, hingga Indomart dan Alfamart.

"Sperti Unilever itu memproduksi shampo, sabun dan lain sebagainya dengan kemasan dari plastik. Orang belanja di supermarket juga kemudian dibawa dengan kantong plastik sekali pakai. Nah ini, ke depan mereka semua harus memikirkan bahan yang bisa didaur ulang dan ramah lingkungan," ujar Nurbaya.

Industri berikutnya adalah yang bergerak di sektor restoran dan perhotelan. Khusus sektor ini berharap para pengelola restoran dan hotel dapat memulainya dengan tidak menyediakan sedotan plastik untuk minuman yang mereka hidangkan. Ia merujuk sebuah survei bahwa penggunaan sedotan plastik di Indonesia setiap harinya mencapai belasan juta batang. Kenyataan ini sangat memprihatinkan karena meskipun terlihat kecil dan disepelekan. "Jumlah sebanyak itu bila dideretkan panjangnya bisa setara jarak antara Jakarta dan Meksiko, Mengerikan sekali," ujarnya.

Sejauh ini dia menyebut ada sebuah restoran cepat saji yang sejak tahun lalu secara swakarsa memprakarsai gerakan tanpa sedotan plastik di gerai-gerainya. Ternyata upaya mereka kemudian ditiru oleh manajamen-manajamen restoran serupa di Hong Kong, Cina, dan negara lainnya. Mulai hari ini hingga sepuluh tahun ke depan, bila ketiga sector industri tersebut bersedia mengikuti peta jalan yang disiapkan, produksi sampah plastik akan berkurang hingga 70 persen.

Selain perlu adanya kesadaran juga perlu ada cara lain bagaimana ancaman limbah ini menjadi salah satu keuntungan ekonomis bagi masyarakat kita kedepannya, misal sampah plastik tersebut bisa di recycle kembali menjadi barang atau souvenir yang bernilai ekonomis atau diolah menjadi bahan dasar yang diperlukan oleh industri-indutri yang mengunakan bahan dasar dari plastik tersebut, maka perlu juga kita mengenali beberapa jenis dari plastik ini, sbb :

1.  PET atau PETE (politilena terephthalate). Pendaurulangan tipe 1 paling sering digunakan untuk botol minuman ringan, botol air mineral, botol bir plastik, stoples selai kacang plastik, botol bumbu salad, dan minyak sayur, serta nampan makanan. Jika didaur ulang, maka plastik ini dibuat menjadi bahan kain polar fleece, tas sandang, furnitur, karpet, dan wadah minuman baru. 

2. HDPE (Politilena berkepadatan tinggi). Pendaurulangan tipe 2 digunakan untuk teko susu dan jus, botol produk pembersih, wadah yoghurt, kantung plastik sampah, dan pelapis kotak serealia. Didaur ulang kembali menjadi botol, pulpen, dan bahan-bahan bangunan. 

3.  V (Vinil) atau PVC. Pendaurulangan tipe 3 ditemukan pada botol pembersih kaca, botol sabun cuci dan botol sampo, juga plastik kemasan makanan bening, siding (bahan pelapis untuk bangunan luar agar tahan cuaca), jendela, pipa, dan perlengkapan medis. Kadang-kadang didaur ulang oleh pembuat papan plastik menjadi bahan-bahan bangunan.

4. LDPE (Politilena berkepadatan rendah). Carilah Pendaurulangan tipe 4 pada botol pencet dan kantung belanja plastik, kantung pakaian dry clean, atau kantung roti. Didaur ulang menjadi pelapis tempat sampah, amplop, dan papan plastik. 

5. PP (polipropilena). Pendaurulangan tipe 5 berasal dari sedotan, wadah yoghurt, botol sirup, botol kecap, botol pil, dan tutup botol. Diubah menjadi garu, sapu, baterai, dan nampan. 

6. PS (polistirena). Pendaurulangan tipe 6 digunakan untuk piring dan mangkuk sekali pakai, wadah cakram padat (CD), tempat karton telur, wadah makanan untuk dibawa pulang, dan botol aspirin. Didaur ulang menjadi kemasan busa, penyekat, tempat karton telur, dan wadah makanan untuk dibawa pulang kembali. 

7. Aneka ragam plastik. Pendaurulangan tipe 7 mencakup botol air isi ulang, bahan-bahan 'antipeluru', kacamata, wadah DVD, wadah iPod, dan nilon. Tidak sering didaur ulang, namun kadang-kadang diubah menjadi papan plastik.