Mohon tunggu...
Abdul Madjid
Abdul Madjid Mohon Tunggu... Wartawan dan penulis

Di hadapan Tuhan aku hanya sebutir debu yang tak berarti. Wartawan yg tak henti belajar, dan seorang hamba Tuhan yang penuh dosa.

Selanjutnya

Tutup

Keamanan

Tiga Serangkai Kepala Besi dan Seruan People Power

16 Mei 2019   09:00 Diperbarui: 16 Mei 2019   09:17 0 0 0 Mohon Tunggu...

Ketika masih bocah di era 70-an, saya sangat gemar membaca komik silat. Salah satu serial yang saya suka adalah Pendekar Sungai Ular karya Man. Dalam komik tersebut ada tiga tokoh jahat yang asangat anti kemapakan. Tokoh ini berjuluk "Tiga Serangkai Kepala Besi". Ketiganya terkenal sangat jahat, selalu bikin rusuh dan reseh. Mereka tidak menyukaian kehidupan damai. 

Ada saja ulah mereka yang menggegerkan dan selalu menelan korban. Setiap yang menentang sepak terjang mereka, pasti mati. Hanya satu tokoh yang sanggup mengalahkan dan memusnahkan "Tiga Serangkai Kepala Besi", yakni pendekar pengembara Mandala si Pendekar Sungai Ular.

Di zaman kekinian, di dunia nyata Indonesia, muncul pula tiga sosok tokoh, yang bila dilihat dari tingkah-pola dan ucapan-ucapannya, dapat dikatakan mereka anti-kemapanan. Paling tidak dalam lima tahun terakhir, ketiga tokoh ini selalu saja bikin gerah jagat perpolitikan nasional. Mereka sangat anti-Pemerintah, setidaknya pada presiden yang sedang memerintah. Yang satu selalu meneriakkan bahwa Pemeritahah dalam hal ini Presiden Jokowi anti-Islam, yang satu menuduh Presiden antek Asing dan Aseng, yang seorang lagi tak henti-henti menghebuskan bahwa komunis sudah bangkit sejak Jokowi jadi presiden.

Ketiga tokoh itu tak lain adalah Eggi Sujana, Amin Rais, dan Kivlan Zen. Apakah mereka ini jelmaan "Tiga Serangkai Kepala Besi" di komik Siluman Sungai Ular? Enahlah.

Di puncak teriakan mereka yang penuh hasutan mengajak rakyat dan umat memusuhi pemerintah selama lima tahun terus-menerus, pasca Pilpres 2019 yang memenangkan Jokowi, ketiganya satu suara seakan orang yang sedang koor, menyerukan "People Power" untuk mengeliminasi hasil Pilpres, yang kita tahu berlangsung demokratis dan sesuai koridor hukum.

Ketiga tokoh ini bila ditelisik secara lebih dalam, bukanlah tokoh yang mampu menggerakkan massa. Mereka tidak punya kekuatan di akar rumput. Yang bisa mereka lakukan hanyalah jadi penumpang "kendaraan" yang siap berangkat. Ingat pada tahun 1998, ketika aksi reformasi yang dimotori PDI Perjuangan dan aktivis pro-demokrasi sudah "matang", Amin Rais tampil di panggung mengambil alih "mikropon" perjuangan menumangkan rezim Soeharto. Jadilah dia seolah-olah pemimpin reformasi.

Hal seperti itu tampaknya yang ingin dilakukannya sekarang. Dia bersama sejawatnya Eggy Sujana dan Kivlan Zen ingin memanipulasi massa pendukung Prabowo Subianto untuk bergerak menentang hasil perhitungan suara KPU. Jika ajakannya itu berhasil, maka dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi menimpa bangsa ini. Kekacauan. Bentrok akan terjadi dimana-mana, perpecahan, dan berakhir dengan perang saudara. Naudzubila suma naudzubilah.

Melihat dari kemungkinan terburuk tersebut, saya jadi bertanya-tanya tentang kapasitas ketiga tokoh tersebut sebagai Patriot dan punya niat baik terhadap bangsa ini. Kalaulah demi menegakkan keadilan (menurut versi mereka), terlalu besar pengorbanannya jika harus ditebus dengan perpecahan dan pertumpahan darah.

Semoga "Tiga Serangkai Kepala Besi" tidak benar-benar bermetamorfosis dan muncul di jagat Indonesia ini.