Mohon tunggu...
Abdul Madjid
Abdul Madjid Mohon Tunggu... Wartawan dan penulis

Di hadapan Tuhan aku hanya sebutir debu yang tak berarti. Wartawan yg tak henti belajar, dan seorang hamba Tuhan yang penuh dosa.

Selanjutnya

Tutup

Hobi Pilihan

Menulis Buku Ternyata Menyenangkan

2 April 2019   09:29 Diperbarui: 2 April 2019   09:31 0 4 1 Mohon Tunggu...

Angan-angan ingin menulis buku sudah lama sekali menggelayut di kepala, sejak bertahun-tahun lalu. Seorang senior saya pernah mengatakan bahwa puncak karir seorang wartawan adalah menulis buku. 

Dulu, ketika masih menjadi wartawan muda, mendengar kata-kata senior saya tersebut, kepala rasanya berdenyut, seakan ada puluhan bintang, planet, petir dan lain-lain simpang-siur di kepala. 

Berat banget membayangkan menulis sebuah buku yang tebalnya berpuluh-puluh halaman. Saat itu saya masih wartawan muda, setiap hari hanya dituntut menulis dua berita, yang panjangnya hanya tiga kolom.

Ketika usia semakin tua, aktivitas di lapangan pun berkurang karena fisik sudah tidak mendukung lagi. Barulah terpikir menjadi penulis buku. Awalnya ragu-ragu, mungkinkah saya mampu? 

Tetapi, seiring berjalannya waktu, saya pun terus mengumpulkan berbagai referensi teknik dan cara menulis buku. Berbagai buku karya sastrawan, novelis, cerpenis, sampai buku kalangan intelektual saya baca. Tak lupa pula browsing di internet, ternyata banyak yang dengan sukarela berbagai pengalaman menulis.

Kemudian hari saya mendapat bahan lengkap tentang kisah seorang tokoh masa lalu di salah satu daerah di Sumatera Selatan. Bahan tersebut masih mentah, berupa kumpulan data dan catatan-catatan cerita rakyat. 

Sang pengumpul data sudah meninggal. Seseorang, famili dekat pemilik data tersebut memberikan bahan mentah itu kepada saya. Dia minta saya menuliskan sebuah buku dari bahan tersebut. Saya langsung meyatakan bersedia.

Setelah saya pelajari dengan seksama, saya baca berulang-ulang. Kemudian, saya mulai mereka-reka buku seperti apa kira-kira yang bakal saya tulis? Berbulan-bulan saya mempelajari naskah tersebut. Saya baca lagi dan lagi untuk menemukan benang merahnya. Akhirnya saya pun berhasil.

Namanya juga bahan mentah, masih perlu diolah agar matang dan siap saji. Bahan yang hanya beberapa halaman folio itu harus saya jadikan buku. Perlu kerja keras, mengurai kalimat merangkai kata agar jadi cerita. Harus pandai pula berimajinasi membayangkan situasi masa lampau, dan mendeskripsikannya melalui kalimat-kalimat yang gampang dipahami.

Mengotak-atik naskah mentah,mengedit dan mengurainya ternyata merupakan kegiatan yang menyenangkan. Ada sensasi yang membuat syaraf-syaraf terpacu bekerja, adrenalin pun terstimulasi. 

Hati senang pikiran pun tenang. Pengalaman mengedit berita ketika masih redaktur sebuah surat kabar harian ternyata cukup membantu pekerjaan saya menulis buku. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2