Mohon tunggu...
Muhammad Hasan
Muhammad Hasan Mohon Tunggu... Mahasiswa

Menjadi orang yang berguna

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Penodaan dan Pelecehan Agama

24 Mei 2019   16:15 Diperbarui: 24 Mei 2019   16:18 0 1 0 Mohon Tunggu...

Di zaman sekarang, penodaan dan pelecehan agama marak terjadi, di dalam negeri maupun di luar negeri. Entah dalam politik maupin akibat gerakan-gerakan aliran yang keras meneror agama-agama yang ada di dunia. Karena kesalahpahaman yang berujung akibat yang tak pernah berakhir. Oleh karena itu, kita perlu menelaah dalam Al - Qur'an tentang penodaan dan pelecehan agama.

"Dan kalau Allah mengehendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan-(Nya). Dan Kami tidak menjadikan engkau pemeliharaan bagi mereka; dan engkau sekali-kali bukanlah pemelihara bagi mereka." (Q.S. Al-An'am:107.)

Memang Kami tahu dan menyaksikan, bahwa mereka mengganggumu bahkan mempersekutukan Allah, tetapi sebenarnya jika Allah menghendaki, maka tentu mereka tidak akan mengganggumu, dan juga kalau Allah menghendaki mereka beriman kepada-Nya niscaya, sejak semula mereka tidak menjadikan engkau hai Nabi Muhammad pengawas bagi mereka; dan engkau sekali-kali atas kemauan sendiri bukan pemelihara mereka.Firman-Nya: jika Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mempersekutukan Allah, tidak dapat dijadikan dalih oleh siapapun bahwa dalam hal keimanan dan kekufuran mereka berada dalam lingkungan kehendak mutlak Allah, sehingga menjadikan mereka bebas dari tanggung jawab.

Penggalan ayat ini lebih banyak dimaksudkan untuk menghibur Rasul saw yang sangat sedih dengan kedurhakaan mereka. Untuk itu Allah menyatakan bahwa sebenarnya Allah kuasa menjadikan mereka beriman dan taat dengan cara-cara tertentu, misalnya dengan mencabut hak pilih mereka, sehingga mereka langsung dapat percaya atau menghidangkan hal-hal yang luar biasa, atau mencabut ciri-ciri kemanusiaan mereka sehingga setiap orang tidak mempunyai pilihan kecuali percaya dan bertakwa. 

  Allah swt berkuasa melakukan itu semua, tetapi ini tidak dikehendaki-Nya, karena Dia bermaksud menguji manusia dan mengundang mereka agar beriman melalui kesadaran serta berdasar bukti-bukti yang mereka yakini lagi memuaskan jiwa mereka. Dari sini Dia mengutus para rasul untuk mengajak, menasehati dan menjelaskan ajaran; bukan untuk memaksa, menindas, atau memerkosa pikiran nurani manusia.

Makna inilah yang dimaksud oleh penggalan ayat di atas, karena itu pula Al-Qur'an antara lain menegaskan bahwa: "Orang-orang yang mempersekutukan Tuhan, akan mengatakan: 'Jika Allah menghendaki, niscaya kami tidak mempersekutukan-Nya dan tidak (pula) bapak-bapak kami. Dan tidak juga kami mengharamkan barang sesuatu apapun'. Demikian pulalah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan siksaan Kami. Katakanlah: 'Adakah kamu mempunyai sesuatu pengetahuan sehingga dapat kamu mengemukakannya kepada Kami? Kamu tidak mengikuti kecuali persangkaan belaka, dan kamu tidak lain hanya berdusta". (QS. Al-An'am [6]: 148).

 Ayat ini menggabungkan kata () hafizh dan kata()  wakil. Keduanya memiliki makna memiliki makna yang mirip tetapi mengandung perbedaan. Muhammad Sayyid Thanthawi menilai bahwa hafidz mengandung arti mengawasi untuk memberi sanksi dan ganjaran, sedang wakil berarti mengatur urusan mereka dan mengelolanya. Nabi tidak berfungsi demikian terhadap mereka tetapi fungsi beliau hanya menyampaikan.

 Thahir Ibn Asyur memahami kata hafidzh dalam arti pengawas dalam rangka menjadikan mereka beriman. Tulisnya tentang makna ayat ii: "Hai Muhammad jangan risaukan keberpalingan mereka dari ajakan dan ketiadaan sambutan mereka atas da'wahmu, karena tiada tanggung jawab atasmu dalam hal itu. Adapun wakil maka ini pun - tulisnya -- mengandung makna yang sama. Hanya saja ia dapat berarti engkau tidak mewakili Kami (Allah) menghadapi mereka". Dengan demikian penggalan itu merupakan mengahadapi mereka. Dengan demikian penggalan itu merupakan penyempurnaan dari penggalan lalu yang menyatakan "Kami tidak menjadikan engkau pengawas bagi mereka".

 Penggalan ayat di atas dapat juga berarti "engkau tidak mewakili mereka dalam mengurus kemaslahatan mereka". Dan ini merupakan penegasan yang lebih menyeluruh tentang tiadanya tanggung jawab Nabi saw. Atas tingkah laku mereka.

Thabathaba'i menulis bahwa agaknya yang dimaksud dengan hafidzh adalah yang bertanggung jawab menangani urusan mereka menyangkut kehidupan, perkembangan dan pertumbuhan, rezeki dan sebagainya.

 Sedang wakil adalah yang bertanggung jawab menangani urusan pekerjaan mereka menyangkut perolehan manfaat atau penghindaran mudharat yang dapat menyangkut perolehan manfaat atau penghindaran mudharat yang dapat tertuju atau menimpa siapa yang diwakili. Dengan demikian, maksud ayat ini menurut Thabathaba'i adalah: "Bukan terpulang kepadamu Hai Nabi Muhammad saw. Urusan kehidupan duniawi mereka, tidak juga kehidupan beragama mereka, sehingga dengan demikian penolakan mereka tidak perlu menyedihkanmu".

Betapa pun perbedaan pendapat di atas, yang jelas kata wakil dapat merupakan penugasan dari pihak lain atau kehendak sendiri, sedang hafidzh merupakan penugasan dari Allah dengan adanya kata yang mendahuluinya yaitu menjadikan engkau. Sayyid Quthub mengomentari ayat di atas bahwa penggalan terakhir ayat ini memberi tuntunan kepada Rasul saw. Dalam menentukan lapangan yang hendaknya menjadi perhatian dan aktivitas beliau, serta menentukan pula lapangan tersebut untuk para khalifah dan penganjur agamanya diseluruh penjuru dunia dan setiap generasi. Penganjur agama -- tulis Sayyid Quthub -- tidak boleh menggantungkan hati, harapan dan aktivitasnya kepada mereka yang berpaling dan menentang dakwah, yang hatinya tidak terbuka untuk menyambut bukti-bukti kebenaran serta ajakan iman.

Penganjur agama seharusnya memusatkan hatinya dan mengarahkan harapan dan aktivitasnya kepada mereka yang mendengar dan memperkenankan. Mereka itu sangat membutuhkan pembinaan kepribadian mereka secara utuh sesuai dengan prinsip ajaran yang mereka anut, yaitu prinsip akidah. Mereka membutuhkan adanya gambaran yang utuh serta mendalam tentang eksitensi wujud dan hidup atas dasar akidah itu. Mereka membutuhkan pembinaan akhlak dan tingkah laku. Mereka membutuhkan pembinaan masyarakat mereka yang kecil atas dasar prinsip itu juga. Ini semua memerlukan tenaga dan perhatian dalam mengerjakan.

Adapun mereka yang berada pada sisi yang bertentangan, maka yang wajar buat mereka adalah pengabaian dan ketidakpedulian setelah dakwah disampaikan. Ketika kebenaran tumbuh berkembang Allah swt. Menerapkan sunnah/ketentuan-Nya dalam kehidupan bermasyarakat, dan ketika itu Dia akan "melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap".

Adalah menjadikan kewajiban untuk memunculkan hak dalam bentuknya yang benar dan sempurna, sedang kebathilan, maka itu mudah dan usianya pun tidak panjang. Sayyid Quthub menutup keterangannya bahwa walaupun Rasul saw. Diperintah untuk mengabaikan orang-orang musyrik tetapi ayat berikut tetap mengarahkan kaum mukmin agar pengabaian itu dilakukan secara sopan dan terhormat serta keseluruhan yang sesuai dengan kedudukan orang-orang mukmin.

"Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, maka (akibatnya) mereka akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami perindah bagi setiap umat amal mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan". (Q.S. Al-An'am:108.)

Setelah memberi petunjuk kepada Nabi saw. Sebagai pemimpin umat sehingga otomatis termasuk juga kaum muslim, kini bimbingan secara khusus ditujukan kepada kaum muslim. Bimbingan ini menyangkut larangan mencaci tuhan-tuhan mereka yang boleh jadi dilakukan oleh kaum muslim, terdorong oleh emosi menghadapi gangguan kaum musyrik atau ketidaktahuan mereka. Hal ini tidak mungkin akan terjadi dari Nabi Muhammad saw. Yang sangat luhur budi pekertinya lagi bukan seorang pemaki dan pencerca.

 Karena itu redaksi ayat ini hanya ditujukan kepada jamaah kaum muslim memaki sembahan-sembahan seperti berhala-berhala yang mereka sembah selain Allah, karena jika kamu memakinya maka akibatnya mereka akan memaki pula Allah dengan melampaui batas atau secara tergesa-gesa tanpa berfikir dan tanpa pengetahuan.

 Apa yang dapat mereka lakukan dari cacian itu sama dengan apa yang telah dilakukan oleh kaum musyrik yang lain sepanjang masa, karena demikianlah Kami memperindah bagi setiap umat, amal buruk mereka akibat kebejatan budi mereka dan akibat godaan setan terhadap mereka. Tetapi jangan duga mereka akan lepas dari tanggung jawab, karena kemudian, yakni nanti setelah datang waktu yang ditentukan, yang boleh jadi kamu anggap lama -- sebagaimana dipahami dari kata () tsumma -- kepada Tuhan merekalah yang sampai saat ini masih terus memelihara mereka, kembali mereka, yakni pada akhirnya mereka pasti kembali kepada Allah swt. Lalu tanpa waktu yang lama, Dia yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui itu memberitakan kepada mereka apa yang dahulu terus menerus mereka kerjakan, sehingga dengan pemberitaan itu mereka disiksa dan sadar bahwa mereka memang wajar mendapat balasan yang setimpal.

Kata () tasubbu, terambil dari kata () sabba yaitu ucapan yang mengandung makna penghinaan terhadap sesuatu, atau pernisbahan suatu kekurangan atau aib terhadapnya, baik hal itu benar demikian, lebih-lebih jika tidak benar. Sementara ulama menggaris bawahi bahwa bukan termasuk dalam pengertian kata ini, mempersalahkan satu pendapat atau perbuatan, juga tidak termasuk penilaian sesat terhadap satu agama, bila penilaian itu bersumber dari penganut agama lain. Pendapat terakhir ini tentu saja benar, selama tidak menimbulkan dampak negatif dalam masyarakat.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4