Salim Rahmatullah
Salim Rahmatullah pelajar/mahasiswa

Scholarship Hunter I Soc-Environment Campaigner I HIMMAH NW I Blogger I Traveller and so on.

Selanjutnya

Tutup

Ceritaramlan

Safari Takjil Kareem, Obat Rindu Takjil Favorit

17 Mei 2018   23:01 Diperbarui: 17 Mei 2018   23:13 566 1 0
Safari Takjil Kareem, Obat Rindu Takjil Favorit
Sumber Foto: Hasil Editan Pribadi

Jadi anak rantau senang- senang susah, ya memang seperti itulah kehidupan. Senangnya saat bebas mengatur kehidupan, dan berburu hal- hal baru yang tidak ada di kampung halaman. Sementara sedihnya, saat momen- momen keluarga tidak dapat dihadiri, pernikahanlah, sunatan ponakanlah, ada keluarga yang meninggal, dan puasa sendiri di rantauan.

Tolong garis bawahi ya puasa sendiri di rantauan . inilah yang dirasakan Kareem, hari- hari yang lalu, Kareem boleh tertawa sumringah dengan berbagai aktiftitasnya di rantauan. Sekarang, saat ramadhan tiba, kegalauan menyelimuti Kareem, buka puasa sendiri, makan sahur sendiri, lauknya juga tidak variatif, semakin membuatnya merinduuuu.

Tidak hanya merindu keluarga, tapi rindu makanan spesial yang selalu menjadi menu berbuka di kampung halaman. Di balik rindu yang teramat sangat, Kareem berfikir untuk menghindar dari kegalauan dan rindu, ia pun beralih untuk mengeksplor berbagai menu takjil di rantauan, bukan di para pedagang musiman yang berada di sepanjang jalan, tapi di berbagai Rumah Tuhan yang ada di tanah rantauan.

For your Information, Kareem anak rantau dari Lombok sana. Jadi  menu favorit bukanya tidak jauh- jauh dari ketupat disirami gulai, yang dalam bahasa lokalnya palalah. Palalah dibuat dari santan kelapa dengan bumbu berkelas, meski mirip- mirip opor ayam sih, tapi bumbu rahasia keluarga Kareem, menjadi bumbu yang membuat palalah itu berbeda dan satu- satunya di dunia. Sembari ditambah minuman "cawu", bisa disebut es kelapa, cuma dibuat istimewa, karena selalu ada tetesan cinta, wkwwkkwk. untuk cawu, bisalah diganti dengan es kelapa.

Okay, bersama anak rantau yang lain, sebut saja Bro Royen, Kareem singgah dari satu masjid ke masjid lainnya. Dari persinggahan ini, ada keseruan tersendiri yang didapatkan mereka, bukan dari menu buka setiap masjid, karena ternyata menu buka masjid- masjid di tanah rantau sama saja; kolak, buah, gorengan, teh, bedanya hanya pada penyajian, ritual sebelum buka, dan kuantitasnya saja.

Keseruan yang didapatkan adalah mengetahui alam sekitar tempat kosan mereka, masuk gang kecil, ketemu para warga yang asyik menyiapkan buka di gang- gang kecil, sesekali ketemu cewek shalehah. Sebelumnya Kareem tidak pernah demikian, karena memang tiap tahun ia selalu pindah- pindah kosan, dan hanya tahu jalan raya sebagai jalan pergi dan pulang.  Walhasil ia pun tahu gang mana yang harus sering- sering dilewati untuk bertemu cewek- cewek salehah. Wkwkwkkww.

Hal lainnya adalah tentu ibadah mengunjungi rumah Tuhan, Kareem bisa punya banyak referensi masjid untuk  shalat jumat. Tidak kalah pentingnya, Kareem jadi tahu mana masjid yang membutuhkan bantuan untuk pembangunan, hingga ia bisa mengkontribusikan seribu dua ribu miliknya ke masjid yang lebih membutuhkan.

Di balik itu semua, perjalanan safari takjil Kareem membekas pada dirinya, rasa syukur tak terhingga kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, karena ternyata di balik hotel- hotel yang menjulang tinggi, residen- residen mewah, masih banyak warga- warga kota yang kehidupannya melarat dan tak sebagus nasib Kareem. Itu Kareem temukan saat menyusuri gang- gang kecil, jalan pintas menuju masjid yang tersebar di berbagai penjuru kosan Kareem.

Alhamdulillah summa Alhamdulillah, ucap Kareem bersyukur. Kegalauan dan kerinduannya pun terobati dengan kesyukuran yang dilakukan Kareem. Safari Takjil, niat ingin mengobati rindu dengan takjil, malah diobati dengan kerasnya realitas kehidupan kota.