Mohon tunggu...
Safira Ummah
Safira Ummah Mohon Tunggu... Mahasiswi Fakultas Pertanian Universitas Jember

Open-Minded

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

PENINGKATAN EKSPOR DI PASAR GLOBAL PERTANIAN SAAT PANDEMI COVID-19

27 Mei 2020   19:44 Diperbarui: 28 Mei 2020   07:11 99 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
PENINGKATAN EKSPOR DI PASAR GLOBAL PERTANIAN SAAT PANDEMI COVID-19
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam pelepasan Ekspor Komoditas Pertanian di sembilan pintu utama pengiriman (30/4) . Foto: Kementan

           

Pandemi Covid-19 (Corona Virus Disease 2019) yang hingga kini tak kunjung usai tentu telah berimplikasi ke banyak sektor, tak terkecuali pada sektor pertanian. Sektor pertanian merupakan kunci dalam menjamin ketahanan pangan nasional, apalagi dalam kondisi yang menunjukkan ketidakpastian seperti saat ini. Kita semua tahu bahwasanya kondisi seperti sekarang bisa saja menyebabkan terjadiya krisis pangan, sehingga akan dapat mengancam ketahanan pangan nasional. FAO (Food and Agriculture Organization) sebagai organisasi multinasional di bawah naungan PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa) telah memberikan peringatan bahwa di era pandemi Covid-19 akan berpotensi terjadi kelangkaan atau bahkan krisis pangan dunia. Permasalahan tersebut mengindikasikan bahwa terjadinya krisis pangan akan berkaitan dengan ketersediaan pasokan bahan pangan dan juga pada peningkatan harga yang tentunya akan merugikan banyak pihak. Permasalahan tersebut yang membuat kegiatan pertanian mustahil untuk dihentikan di tengah pandemi Covid-19. Perlu ada kebijakan serius dalam menjaga keberlangsungan sektor pertanian di tengah pandemi Covid-19 guna menjadikan pertanian sebagai pemenang sehingga akan terwujud ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan.

Berlangsungnya pandemi Covid-19 telah menuntut pemerintah supaya tidak hanya terfokus dalam mengatasi permasalah penyebaran virus corona, melainkan juga dalam mengatasi persoalan ketersediaan bahan pangan. Tentu saja hal itu perlu dilakukan supaya kita semua tidak lagi menghadapi masalah baru setelah berakhirnya pandemi Covid-19. Berbicara mengenai ketersediaan bahan pangan seperti yang kita ketahui bersama, bahwa selama ini Indonesia yang dikatakan sebagai negara agraris ternyata sudah terjebak dalam perangkap pangan (food trap). Miris sekali memang saat kita sudah mengetahui bahwa Indonesia memiliki potensi yang sangat tinggi di sektor pertanian, tetapi malah mengidap penyakit  food trap yang semakin mengakar kuat dan membuat bangsa kita menjadi bergantung dalam persoalan produksi/penyediaan, perdagangan, distribusi dan konsumsi pangan. Penyakit itu tentu tidak terlepas dari bayang-bayang kapitalisme global dan kebijakan pertanian di Indonesia yang dianggap terlampau liberal, sehingga menyebabkan kecenderungan dinamika pasar global produk-produk pertanian dan pangan semakin tidak terelakkan.

Kecenderungan pasar global pertanian telah membuat ketergantungan impor bagi Indonesia sehingga akan menghambat pembangun kedaulatan pangan. Impor produk-produk pertanian selama ini terkesan seperti instrumen yang telah mengalahkan produk dalam negeri. Penyakit kronis tersebut harus diobati dengan segara dan pengobatan yang bisa diberikan, yaitu melalui adanya sebuah kebijakan yang bisa menjadikan pertanian dan pangan sebagai kepentingan nasional sehingga akan membuat aturan main menjadi jelas dan lugas. Selama ini pemerintah hanya terfokuskan pada revitalisasi riset dan kurang memprioritaskan masalah-masalah lain yang lebih krusial. Indonesia harus bisa keluar dari perangkap pangan maka semua masalah krusial harus segera diatasi, pemerintah harus bisa berpihak pada petani dengan mensejahterakannya karena petani memegang peran penting sebagai produsen bahan pangan. Pemerintah harusnya juga bisa membuat aksesibilitas berjalan secara efesien dan berkeadilan serta diperlukan peningkatan distribusi. Persoalan yang tak kalah penting, yaitu pemerintah harusnya bisa mendeversifikasikan bahan pangan secara tepat kepada masyarakat dan kenyatannya selama ini semua masalah krusial tersebut belum dijadikan prioritas oleh pengambil kebijakan.

Pemerintah dalam mengatasi persoalan kecenderungan pasar global pertanian di tengah pandemi Covid-19 yang juga dihadapkan pada tantangan terjadinya krisis pangan, telah memutuskan untuk mengurangi ketergantungan impor. Instruksi tersebut dibuat dengan melihat ke depannya akan ada kemungkinan negara-negara yang selama ini mengimpor kebutuhan pangan ke Indonesia tidak bisa memenuhinya, sehingga adanya instruksi tersebut bertujuan untuk menjaga rantai pasokan pangan nasional. Pertimbangan lainnya juga diperhitungkan seperti adanya tantangan dalam alur logistik yang akan memperlambat perdagangan internasional dan rantai pasokan pangan sebagai suatu dampak dari adanya penerapan kebijakan lockdown oleh negara-negara pengimpor kebutuhan pangan di Indonesia. Usaha dalam mengurangi ketergantungan impor terus dilakukan seperti dari adanya tantangan yang telah menghambat importasi malah dijadikan sebagai peluang bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, melalui adanya produksi protein hewani yang akan bisa mensubstitusi kebutuhan daging sapi impor. Kecenderungan pasar global pertanian di era pandemi Covid-19 justru memberikan peluang bagi Indonesia untuk bisa meningkatkan ekspor komoditas pertanian. Semua itu juga dapat terjadi beriringan dengan peningkatan kesadaran akan pentingnya penerapan gaya hidup sehat, sehingga beberapa produk pertanian seperti buah-buahan,sayuran, dan apotik hidup telah mengalami lonjakan penjualan.

International Monetary Fund (IMF) sebagai organisasi internasional telah memperkirakan bahwa, ekonomi global pada tahun 2020 akan mengalami penurunan tajam dan diperkirakan jatuh ke dalam pertumbuhan negatif sebagai akibat dari adanya pandemi Covid-19. Kesulitan yang terjadi di era pandemi Covid-19 memang telah memberikan efek negatif bagi perekonomian global, permasalahan tersebut telah membuat banyak negara di dunia memiliki kecenderungan menahan stok pangan. Terjadinya hal itu harusnya bisa dimanfaatkan sebagai sebuah momentum menuju ketahanan, kemandirian dan kedaulatan pangan bagi Indonesia. Kecenderungan pasar global pertanian di tengah pandemi Covid-19 bisa menjadi tantangan sekaligus ancaman, akan tetapi yang telah dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) saat ini justru telah berhasil meningkatkan ekspor komoditas pertanian. Performa ekspor di tengah pandemi Covid-19 ternyata memberikan signal positif, hal itu tentu saja tidak terlepas dari adanya usaha Kementan yang memberikan sistem pelayanan yang baik kepada petani dan eksportir. Kementan terus berupaya untuk mendorong tumbuhnya hilirisasi produk pertanian dan membangun pertanian yang berorientasi ekspor. Dilansir dari laman Kompas.com (30/4/2020), “Berdasarkan catatan Kementerian Pertanian (Kementan), peningkatan komoditas hortikultura sebesar 30 persen, perkebunan 26 persen, peternakan 16 persen, dan tanaman pangan 14 persen.” Peningkatan produksi tersebut dapat terjadi karena Kementan fokus pada peningkatan produksi dan nilai tambah sehingga ekspor yang dilakukan tidak lagi berbentuk barang mentah, minimal berupa setengah jadi atau bahan jadi. Indonesia selama ini mengekspor produk dalam bentuk bahan mentah dan hal itu tidak akan memberikan keuntungan yang tinggi karena yang terjadi Indonesia malah akan kehilangan nilai tambah produk, maka perlu dilakukan pengiriman produk dalam bentuk setengah jadi atau bahan jadi demi pengembangan investasi usaha pengolahan (Pratiwi dkk, 2017).

Kementan terus berupaya untuk menggenjot produksinya di sektor pertanian bahkan bertekad untuk dapat terus meningkatkan eskpor produk-produk pertanian di tengah pandemi Covid-19. Ekspor produk pertanian di tengah pandemi Covid-19 ternyata telah berhasil mengalami peningkatan. Ekspor yang menunjukkan peningkatan telah membuat Indonesia mengalami surplus perdagangan produk pertanian, maka melalui hal tersebut akan memberikan peluang dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dilansari dari laman Kumparan.com, “Kenaikan di sektor pertanian total ekspor Indonesia secara kumulatif mencapai 53, 95 miliar USD atau naik sebesar 0,44 persen (yoy),” ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto melalui keterangan tertulis, Sabtu (16/5). Kementan juga terus berupaya dalam mendorong ekspor melalui sebuah terobosan yang nantinya akan membuat biaya produksi menjadi lebih efesien, akan ada pemanfaatan teknologi di hilir seoptimal mungkin, memperkuat kerjasama antara produsen hulu dan eksportir, serta daya saing melalui modernisasi. Peningkatan nilai ekspor produk pertanian di tengah pandemi Covid-19 terbukti telah terjadi, seperti di Sulawesi Utara yang nilai ekspornya berhasil meningkat sebesar 176 persen. Dilansir dari laman Kompas.com (21/4/2020), “Pasalnya, petani Sulawesi Utara (Sulut) telah menghasilkan produk pertanian yang akan diekspor sebanyak 12.192 ton ke 11 negara dengan nilai Rp 124,7 miliar.” Kementan dalam menangkap peluang ekspor pertanian di tengah pandemi Covid-19 telah menyiapkan suatu strategi untuk dapat menjadikan pertanian sebagai sektor yang tangguh meski diterpa oleh krisis, dalam usahanya Kementan tidak akan hanya terfokus pada peningkatan produksi melainkan juga mencari alternatif pasar tujuan ekspor sebagai suatu antisipasi terjadinya penurunan permintaan ekspor komoditas pertanian di Indonesia. Upaya lain yang juga dilakukan oleh Kementan, yaitu meningkatkan lobi perdagangan dan tarif bea masuk di negara yang bermitra, serta pemanfaatan perwakilan Indonesia di luar negeri untuk mempercepat berjalannya kerja sama yang sudah terjalin dan untuk pengembangan kesepakatan baru. Kementan juga akan berupaya meningkatkan konsumsi domestik serta pelayanan jaringan informasi dan komunikasi harus ditingkatkan seoptimal mungkin. Terjadinya pandemi Covid-19 yang telah melumpuhkan banyak sektor nyatanya tetap membuat sektor pertanian sebagai suatu sektor andalan yang dapat menjadi solusi pasti dalam mencegah krisis darurat corona, sehingga kecenderungan pasar global pertanian di tengah pandemi Covid-19 justru memberikan peluang bagi Indonesia untuk meningkatkan eskpor produk pertanian di keempat subsektor unggulan seperti, perkebunan, tanaman pangan, hrotikultura dan peternakan.

VIDEO PILIHAN