Mr Sae
Mr Sae profesional

Aktivis Kemasyarakatan dan Pemerhati Kebijakan

Selanjutnya

Tutup

Hijau

Sejahterakah Petani Saat Ini?

13 Juli 2017   15:23 Diperbarui: 13 Juli 2017   16:08 79 0 0
Sejahterakah Petani Saat Ini?
8651488396-140a97be53-b-57f5a990979373c508e3d502-596738919f4fe43ec6107942.jpg

Kesejahteraan petani adalah tujuan utama dari langkah-langkah dalam pencapaian pembangunan pertanian selain upaya pemenuhan kebutuhan berbagai jenis pangan untuk konsumsi masyarakat secara meyeluruh. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan berkordinasi dengan Kementerian terkait sudah melakukan berbagai terobosan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani baik melalui kebijakan input produksi (isentif faktor-faktor produksi) dan output (perbaikan jangkauan/akses pasar dan harga) dengan dukungan penguatan kelembagaan petani.

Program dan kegiatan yang ditempuh oleh Kementerian Pertanian salah satunya adalah pencapaian swasembada sebagai syarat terciptanya kedaulatan pangan dengan target jangka panjang yaitu pada tahun 2045 Indonesia menjadi lumbung pangan dunia. Swasembada pangan yang dicanangkan efektif pada tahun 2015 awal fokus terhadap beberapa komoditas utama dan strategis yang menjadi gejolak sepanjang tahun dan menjadi sumber inflasi, yaitu padi, jagung, kedelai, cabai, bawang merah, tebu dan daging.

Perkembangan sektor pertanian 3 tahun terakhir mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang membanggakan terutama dari aspek pencapaian produksi beberapa komoditas utama yaitu padi, jagung, cabai dan bawang merah dari 7 komoditas lainya yaitu kedelai, daging dan gula. Misalnya untuk komoditas padi pada tahun 2014 capaian produksi nasional sebesar 70,8 juta ton dan pada tahun 2016 menjadi 79,1 ton, komoditas jagung pada tahun 2014 produksi mencapai 19,0 juta ton kemudian pada tahun 2016 mencapai 23,2 juta ton, komoditas bawang merah pada tahun 2014 produksinya mencapai 1,2 juta ton dan pada tahun 2016 mencapai 1,3 juta ton demikian halnya dengan komoditas cabai merah dari capaian 2014 1,915 juta ton meningkat menjadi 1,918 juta ton.

Dampak dari pertumbuhan produksi tersebut memberikan pengaruh terhadap pendapatan petani secara nasional melalui peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) dan indikator lainnya. NTP nasional Juni 2017 sebesar 100,53 atau naik 0,38 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Kenaikan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik sebesar 0,60 persen lebih besar dari kenaikan Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib)  sebesar0,22 persen. Pada Juni 2017, NTP Provinsi Banten mengalami kenaikan tertinggi (1,34 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya. 

Sebaliknya, NTP Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengalami penurunan terbesar (1,42 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Pada Juni 2017 terjadi inflasi perdesaan di Indonesia sebesar 0,22 persen disebabkan oleh naiknya enam dari tujuh kelompok penyusun indeks konsumsi rumah tangga. Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Juni 2017 sebesar 109,59 atau naik 0,41 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya (Badan Pusat Statistik, 2017)

Peningkatan tersebut secara agregat memang kurang signifikan pengaruhnya terhadap daya beli masyarakat perdesaan khsusunya, namun secara umum pasar tidak mengalami gejolak akibat dari kelangkaan bahan pangan pokok. Setidaknya angka tersebut sebagai realita dan obyektivitas dari hasil yang dicapai melalui berbagai pendekatan dalam mengenjot produksi dengan dukungan anggaran yang sangat besar. Salah satu kunci penting berjalannya target swasembada tersebut adalah komitmen seluruh pihak terutama pemerintah dengan melibatkan aparat keamanan menjadi bagian dari sistem swasembada melalui kegiatan upaya khusus (UPSUS).

Memang dilapangan menunjukkan belum secara keseluruhan provinsi dan wilayah memaksimalkan capaian produksinya karena berbagai kendala teknis dan non teknis yang terjadi, namun setidaknya di tahun 2017-2019 capaian swasembada semakin progresif dan kokoh sebagai pondasi lumbung pangan dunia. Dibutuhkan kerja keras dan inovasi tinggi dalam mencapai hal tersebut karena pada sisi lain tantangan eksternal (perubahan iklim) adalah tantangan besar selaian tantangan internal yaitu kinerja petani dan aparat yang belum maksimal.