Mr Sae
Mr Sae profesional

Aktivis Kemasyarakatan dan Pemerhati Kebijakan

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi

Kerja Keras Kementan untuk Dunia

4 Januari 2018   16:34 Diperbarui: 4 Januari 2018   16:45 575 0 0
Kerja Keras Kementan untuk Dunia
sumber foto: mysultra.com

Akhir tahun 2017 dan tahun-tahun sebelumnya adalah tahun dimana tradisi impor beras dilakukan oleh pemerintah, namun pada tahun 2017 hal tersebut tidak terjadi yaitu off import. Mengapa hal ini bisa terjadi?publik mempertanyakan hal tersebut, namun Kementerian Pertanian telah memberikan jawaban dan solusinya yaitu terjadi panen raya serentak dan dalam jumlah besar disetiap sentra produksi padi di Indonesia mulai dari Sabang hingga Merauke. Banyak pihak yang tidak percaya tentang hal ini karena tidak sebagaimana lazimnya panen raya terjadi dipenghujung tahun. 

Ini merupakan bagian penting dari hasil kerja keras pemerintah melalui Kementerian Pertanian dibawah komando Menteri Amran Sualaiman melaui program upaya khususu (UPSUS) padi, jagung dan kedelai (Pajale). Seluruh pihak terlibat dalam program nasional ini, mulai dari pemerintah tingkat pusat, provinsi, kabupaten, kecamatan hingga aparat keamanan serta keterlibatan organisasi-organisasi petani. 

Tujuan utama dari UPSUS adalah untuk menggenjot capaian produksi melampui kebutuhan nasional atau surplus yang berorientasi pada ekspor. UPSUS bukanlah pekerjaan mudah, selain dihadapkan pada aspek teknis juga dihadapkan pada aspek non teknis terutama upaya memaksimalkan kinerja petani disepanjang musim dalam pantauan dan pendampingan pemerintah.

Target swasembada yang kemudian mengarah pada kedaulatan pangan yang dicanangkan Menteri Pertanian retorika dan akhir taun 2017 telah terbukti. Sejak 2016, Indonesia tidak impor beras medium dan cabai segar. Sementara pada 2015, Indonesia masih impor 1,5 juta ton, sehingga bisa menghemat devisa Rp 8,1 triliun. Pada 2016, Indonesia mampu menurunkan impor jagung 61 persen dan pada 2017 Indonesia tidak impor jagung untuk pakan ternak, sehingga menghemat devisa Rp 10,6 triliun.

Capain Produksi

indikasi produksi pangan. Pada 2015, mengatu pada angka tetap (atap) yang dilansir Badan Pusat Statistik (BPS), produksi padi mencapai 75,55 juta ton gabah kering giling (GKG). Kenaikan produksi karena naiknya luas panen seluas 0.51 juta hektare (3,71%) dan kenaikan produktivitas 1,45 kuintal/ha (2,82%). Di Pulau jawa naik 1,83 juta ton dan di luar Jawa 2,88 juta ton.Angka tersebut tidak saja lebih tinggi dari target dalam Rencana Strategis 2015-2019 yang menulis 73,40 juta ton GKG untuk 2015. namun juga produksi paling tinggi dalam 10 tahun terakhir. 

Apabila melihat capaian produksi 2010-2014 di era pemerintahan Soesilo Bambang Yudhoyono-Boediono, capaian itu memang patut diapresiasi. Pada 2010, produksi hanya 66,47 juta ton GKG, pada 2011 sebesar 65,76 juta ton GKG, 2012 sebesar 69,06 juta ton GKG, 2013 sebesar 71.28 juta ton GKG, dan 2014 sebesar 70,25 juta ton GKG.Kenaikan produksi pada 2015 tersebut diyakini akan berlanjut pada tahun ini. Fenomena La Nina yang terjadi sejumlah sentra padi di Tanah Air justru menjadi berkah bagi Tanaman pangan terutama padi karena areal tanam menjadi lebih luas. 

Kementerian Pertanian (Kementan) memasang target produksi padi tahun ini sebesar 75,13 juta ton GKG, sebelumnya dalam Rencana Strategis 2015-2018 dipatok 76,20 juta ton GKG. Sepanjang Januari-Juli 2016, produksi padi telah tembus 51,69 juta ton GKG.

Permasalahan dan Langkah Penyelesaian

Capaian pembangunan pangan dan pertanian di atas bukan tidak menghadapi kendala dan permasalahan. Salah satu permasalahan yang memerlukan upaya khusus untuk memecahkannya adalah serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT), di antaranya tikus, wereng batang cokelat.Selain itu, dampak dari perubahan iklim dan lingkungan menyebabkan meningkatnya luas penyebaran dan intensitas serangan OPT yang harus diantisipasi sejak dini agar tidak berakibat fatal terhadap capaian produksi pangan strategis. 

Langkah untuk mengantisipasi dan menangani serangan OPT, antara lain penyediaan dan penyaluran bantuan input produksi petani yang gagal panen akibat puso, pemberian asuransi pertanian, perluasan penggunaan inovasi teknologi budidaya tanaman yang adaptif terhadap perubahan iklim dan serangan OPT.

Pengakuan Dunia

Keberhasilan program pertanian saat ini, telah mampu meningkatkan Ketahanan Pangan Indonesia dibanding negara lain. Dalam data The Economist Intelligence Unit yang menunjukkan indeks Ketahanan Pangan global atau Global Food Security Index (GFSI) tahun 2016, posisi Indonesia meningkat dari peringkat ke 74 menjadi ke 71 dari 113 negara. Pencapaian tersebut mengindikasikan perhatian besar yang diberikan pemerintah di sektor pertanian, termasuk pemberdayaan petani. Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami perubahan terbesar pada indeks keseluruhan (2.7). Terobosan dan kesuksesan dalam membangun lumbung pangan tersebut tidak hanya memberikan dampak domestik namun juga memberikan kemanfaatan terhadap kebutuhan pangan dunia.