Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Keamanan Pilihan

Trump Nyaris Melakukan Kejahatan Perang di Iran

9 Januari 2020   12:48 Diperbarui: 9 Januari 2020   12:55 499 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Trump Nyaris Melakukan Kejahatan Perang di Iran
Trump menyatakan Iran sudah menarik diri dari konflik militer (doc.France 24)

Serangan rudal Iran yang menyasar pangkalan udara Ain al-Assad di Provinsi Anbar dan sebuah fasilitas militer dekat bandara Erbil, kedua titik itu sebagaimana dikonfirmasi oleh Pentagon merupakan basis pasukan AS di Irak,  pada Rabu (8/1) dinihari lalu dinyatakan Iran merupakan aksi balasan atas pembunuhan yang dilakukan AS terhadap komandan pasukan elit mereka Jenderal Qassem Soleimani lima hari sebelumnya (Al Jazeera, 9 Januari 2020).

Keesokan paginya paska serangan rudal tersebut, Presiden Donald Trump memberikan pernyataan,"Selama saya menjabat Presiden AS, Iran tidak akan pernah diijinkan untuk memiliki senjata nuklir. Iran nampaknya sudah menarik diri (dari konflik militer terkait pembunuhan Soleimani), itu hal yang baik bagi semua pihak terkait dan sangat baik bagi dunia.

Warga Amerika seharusnya sangat bersyukur dan bahagia. Tak ada warga Amerika yang terluka dalam serangan tadi malam yang dilancarkan rezim Iran ..." Ujarnya sebagaimana dilansir oleh The Times (8/1).

Pernyataan berbau kampanye pilpres 2020 itu dilakukan Trump di ruang Grand Foyer Gedung Putih dengan didampingi oleh wakil presiden AS, para menteri kabinet, dan petinggi-petinggi militer senior yang berseragam lengkap seolah ingin mencitrakan bahwa pemerintahan AS bersatu untuk urusan menangani Iran.

Para pejabat itu selama durasi tayangan televisi selama sekitar 10 menitan itu hanya berdiri tegak di sekitar Trump tanpa berkomentar sepatahpun.

Berbeda dengan orasi ancaman meledak-ledak yang belakangann menjadi ciri khasnya di depan publik, ,kali ini Trump terlihat lebih kalem saat menyatakan bahwa ketimbang aksi militer untuk menghukum Iran dan menghimbau para sekutu NATO untuk lebih terlibat dalam urusan di Timur Tengah.

'Ketenangan' Trump ini bisa jadi berkat jasa Menteri Pertahanan AS Mark T Esper yang, menurut sumber The Times, sukses memaksa sang presiden mengurungkan niat semula untuk menyerang situs-situs kebudayaan di negeri Iran karena hal itu tergolong kejahatan perang.

PBB dan sejumlah negara secara terpisah mengecam aksi Iran tersebut terkait dengan pelanggaran kedaulatan Irak, sama seperti yang mereka lakukan saat mengecam AS yang menggunakan drone untuk membunuh Soleimani juga di Irak.

Sebagian analis berpikir positif bahwa serangan rudal Irak bisa jadi merupakan bukti berakhirnya konflik menengah antar dua negara tersebut dan konfrontasi dalam skala lebih besar yang memicu perang bisa dihindari.

Namun, meski kedua pihak tidak ngotot untuk melanjut pertikaian militer dalam jangka pendek, kalangan pengamat memperingatkan kemungkinan adanya konflik dalam bentuk-bentuk lain dalam hitungan minggu dan bulan mendatang.

Iran memiliki banyak sekali kelompok-kelompok proxy di TimurTengah yang bisa membentuk berbagai problem bentuk baru baik bagi pasukan AS maupun para sekutunya seperti Israel dan Arab Saudi, para pakar juga mengingatkan kemungkinan serangan cyber Iran pada berbagai fasilitas domestik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN