Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Penulis

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata ....\r\n( https://twitter.com/zayshello )

Selanjutnya

Tutup

Film Artikel Utama

Whitney, Sisi Pilu Kehidupan Seorang Diva

8 Juli 2018   06:35 Diperbarui: 8 Juli 2018   15:42 1700 4 2
Whitney, Sisi Pilu Kehidupan Seorang Diva
Dokumenter yang memilukan (www.imdb.com/ed.WS)

Para selebriti berbagai bidang yang berlimpah prestasi, kemewahan, dan puji-sanjung penggemar selalu diidentikkan dengan kebahagiaan yang nyaris sempurna. Itu sebabnya banyak fans yang gagal paham kenapa bintang-bintang pujaan mereka malah memilih bunuh diri atau terjun di dunia narkoba sebagai pelarian diri dari kenyataan yang tak sesuai dengan hasrat.

Film dokumenter Whitney  besutan sutradara Kevin Macdonald, pemenang Oscar tahun 2000 untuk kategori Academy Award for Best Documentary Feature lewat film One Day In September (1999), yang dirilis Jumat (6/7) lalu di AS memaparkan, fenomena serupa yang menimpa penyanyi balada dan aktris legendaris yang tercatat di Guinness Book of Record sebagai perempuan penerima penghargaan terbanyak tahun 2009. Dialah Whitney Elizabeth Houston (9 Agustus 1963 -- 11 Februari 2012).

Whitney yang berdurasi dua jam itu memaparkan jelajah kehidupan Sang Diva dari mulai pencapaian kesuksesan karir yang gilang gemilang sampai ke epilog tragis kematiannya di kamar mandi hotel Beverly Hilton (Los Angeles). Tenggelam saat berendam, hasil otopsi yang dilansir beberapa bulan kemudian menunjukkan bahwa keracunan kokain dan serangan jantung adalah dua faktor pemicu tewasnya ibu dari Bobbi Kristina Brown itu.

Perkawinan yang kacau dengan penyanyi R&B Bobby 'bad boy' Brown, ketergantungannya pada narkoba selama bertahun-tahun, dan tur musikal yang digadang-gadang untuk mengorbitkannya lagi pascakevakuman panjang terpaksa harus dibatalkan karena kondisi kesehatan Whitney memang sangat kritis, yang ditengarai merupakan beban psikis yang sudah tak tertanggungkan lagi oleh penyanyi yang album-albumnya sukses terjual sampai ratusan juta kopi di seluruh dunia itu.

Macdonald yang memadukan gaya feature melalui pendekatan semi jurnalistik, termasuk dengan melakukan rangkaian wawancara terhadap 70 narasumber yang mayoritas merupakan teman dekat dan bagian dari keluarga besar Houston.

Memang, berupaya menghadirkan kisah nyata dan bukannya dongeng klise tentang kesuksesan karier yang berakhir dengan mimpi buruk seorang mega bintang bukan pekerjaan mudah.

Semua tokoh yang muncul, termasuk Kevin Costner yang menjadi lawan main Whitney dalam debut aktingnya di film The Bodyguard (1992) yang dinobatkan harian USA Today sebagai salah satu dari 25 film paling dikenang sepanjang masa pada tahun 2007, bahkan ibunya Cissy Houston, tampil sebagai diri sendiri.

Begitu pula mendiang Whitney melalui arsip-arsip rekaman penampilan dan wawancaranya dengan berbagai media. Menarik untuk menggali apa tanggapan Sang Bintang tentang antusiasme para pemujanya.

"You want our blood, but you don't want our pain," begitu pandangan Whitney terhadap sikap para penggemar pada bintang-bintang idola mereka sebagaimana yang diungkapnya dalam sebuah wawancara dengan majalah Ebony pada tahun 1991. Saat itu ketergantungannya pada narkoba dan berbagai tekanan psikis serta pengalaman traumatik yang melatari kecanduannya itu belum menjadi konsumsi publik.

Ada banyak fakta baru menghebohkan yang berhasil diungkap oleh Macdonald dan ditampilkannya dalam Whitney, seperti kasus kekerasan seksual yang dialami penyanyi bersuara emas itu saat masih kanak-kanak. Dan pelakunya, Dee Dee Warwick, sepupunya sendiri, yang merupakan putri dari penyanyi Dione Warwick.

Hal itu pula mungkin turut jadi pemicu munculnya gosip seputar terjalinnya kisah cinta sesama jenis antara Whitney dengan mantan manajer/asisten yang juga teman baiknya, Robyn Crawford.

Hubungan yang ditolak keras oleh lingkungan sosialnya itu tentu saja menjadi tambahan beban psikis yang sepertinya kian menumpuk saat kedua orangtuanya memutuskan berpisah dan sang ayah, John Houston, yang dipujanya malah menggugat Whitney untuk membayar $100 juta pada tahun 2002 melalui perusahaannya.

Banyak pecinta Whitney yang menilai film arahan Macdonald itu kurang berimbang dalam memaparkan perjalanan hidup penyanyi kesayangan mereka yang meraih 415 jenis penghargaan atas karirnya di tahun 2010 ( termasuk 6 Grammy Awards, 2 Emmy Awards, 30 Billboard Music Awards, 22 American Awards ).

Berbagai prestasi yang diraih Whitney semasa hidupnya dianggap hanya muncul sekadarnya saja karena sang sutradara pada paruh akhir film lebih fokus pada kecenderungan Sang Diva merusak diri sendiri dengan obat-obatan dan minuman keras.

Lagu-lagu hit Whitney yang ditampilkan sepanjang film hanya bersifat ilustratif saja, tak ada pendalaman tentang proses penghayatan yang dilakukan atau bagaimana sebenarnya perasaan Whitney terhadap lagu-lagu yang dibawakannya.

"Whitney itu seorang jenius, proses kreatifnya tidak terlalu menarik untuk ditampilkan."Kilah Macdonald,"Seperti sihir yang jadi tak memukau lagi kalau dipaparkan terlalu detil dan Whitney dalam kondisi terbaiknya adalah sebentuk sihir yang murni."

Film Whitney sukses meraih penghargaan di Edinburgh International Film Festival 2018 untuk kategori Best Documentary Feature Film  dan mendapat dua nominasi di Cannes Film Festival 2018 memang bakal mengharu biru para pecinta fanatiknya.

Sekaligus, menyadarkan bahwa cinta terbesar seyogianya diawali dengan belajar mencintai diri sendiri apa adanya seperti lirik  salah satu hit Whitney yang berjudul The Greatest Love of All. Semoga.

Referensi:  5