Mohon tunggu...
Wahyuni Susilowati
Wahyuni Susilowati Mohon Tunggu... Penulis, Jurnalis Independen

pengembaraan raga, penjelajahan jiwa, perjuangan menggali makna melalui rangkaian kata .... https://web.facebook.com/wahyuni.susilowati

Selanjutnya

Tutup

Muda

Menyongsong Bonus Demografi dengan Pendidikan Karakter

18 Agustus 2016   16:22 Diperbarui: 18 Agustus 2016   17:26 274 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyongsong Bonus Demografi dengan Pendidikan Karakter
Mari bersinergi membangun generasi muda kita (dok WS)

Bonus demografi adalah suatu fenomena dimana struktur penduduk sangat menguntungkan dari sisi pembangunan karena jumlah penduduk usia produktif sangat besar, sedang proporsi usia muda sudah semakin kecil dan proporsi usia lanjut belum banyak. Konon Indonesia akan memperoleh bonus tersebut dengan estimasi rincian jumlah usia angkatan kerja (15-64 tahun) mencapai sekitar 70 persen, sedang 30 persen penduduk yang tidak produktif (usia 14 tahun ke bawah dan usia di atas 65 tahun) pada tahun 2020-2030. Lantas seperti apakah potret aktual  ‘penduduk usia produktif’ kita saat ini ?

Mari kita kumpulkan keping-keping informasi dari berbagai sumber untuk membuat minimal 60 persen gambaran utuh potret ‘penduduk usia produktif’ Indonesia sekarang ini. Kita mulai dengancatatan panjang peraihan medali emas di berbagai kancah  Lomba Tilawatil/Hafizh Qur’an  internasional, Olimpiade Sains, Kompetisi Robot, dan  berbagai kejuaraan olah raga  internasionaldari mulai bulutangkis sampai balap motor/mobil yang telah dibukukan oleh generasi muda kita yang sudah masuk kriteria ‘penduduk usia produktif’ maupun ‘calon penduduk usia produktif’ yang merupakan bagian dari paket bonus demografi tahun 2020-2030 mendatang.

Lalu kita sambungkan dengan sebuah acara televisi swasta yang suatu ketika reporternya melakukan semacam wawancara  on the spot pada beberapa kawula muda pengunjung sebuah kafe di Jakarta seputar merek-merek produk-produk fashion yang mereka kenakan  plus lokasi pembeliannya. Berbagai merk impor pun bermunculan dari jawaban yang mereka berikan dengan ekspresi penuh kebanggaan.  Sayangnya tak hanya sebatas baju atau tas, generasi muda Indonesia juga merupakan target pasar yang sangat diincar oleh para produsen rokok, minuman keras, bahkan narkoba  dari mancanegara.

Selanjutnya yang sedang tren sekarang ini di kalangan pelajar adalah ‘kriminalisasi guru’ dimana para guru dipidanakan hingga harus mendekam di penjara karena divonis melanggar HAM Anak saat mendisiplinkan anak-anak didik mereka di sekolah. Bahkan ada juga yang harus mengalami ‘pengadilan jalanan’ sampai berdarah-darah karena dihajar oleh orangtua yangmendapat pengaduan dari anaknya yang didisiplinkan oleh sang guru. Di level kampus perguruan tinggi , sempat marak kasus bunuh diri dan menganiaya bahkan membunuh dosen gara-gara bimbingan skripsi tak kunjung usai.

Ada pula berbagai aksi kriminal dan aksi-aksi asusila berlatar kecanduan konten pornografi pun marak menghiasi sesi-sesi pemberitaan berbagai jenis media massa. Perkosaan keroyokan yang tak jarang berujung pada pembunuhan sadis dengan pelaku maupun korban berusia remaja atau dewasa awal kian sering menyeruak ke permukaan.

Sisi negatif potret generasi muda kita umumnya  hadir akibat rendahnya kualitas edukasi yang mereka terima baik di rumah maupun di sekolah dan di lingkungan sosial tempat mereka lahir serta bertumbuh. Peran orangtua sebagai pendidik utama  tidak dapat berjalan sebagaimana mestinya, karena padatnya agenda kerja atau kurangnya wawasan, hingga mayoritas menyerahkan urusan mendidik anak ini pada guru di sekolah yang berusaha semampu mereka memasukkan konten kurikulum plus norma-norma umum agar para anak didik mereka dapat nilai bagus di rapot sekaligus tidak memunculkan kenakalan yang tak bisa ditolerir di sekolah.

Urusan mendidik serba tanggung ini yang berkutat hanya pada target-target jangka pendek inui akhirnya melahirkan  anak maupun remaja yang memiliki kecerdasan emosional yang rendah hingga kemampuan pengendalian diri mereka pun terbilang lemah. Mudah menyerah pada berbagai kendala kehidupan dan terjerumus memanjakan diri pada dorongan nafsu sesaat. Hal inilah yang memunculkan kebutuhan akan metode pendidikan karakter yang prosesnya berjalan dalam tempo berkesinambungan jangka panjang namun tak kelewat menyita waktu seperti ritme sekolah formal. Lebih banyak mengambil ruang belajar di lapangan (outdoor) dengan para pendidik yang militan.

“Keikutsertaan anak-anak muda dalam  organisasi penjelajahan alam bebas seperti Wanadri,unit kegiatan mahasiswa semi militer seperti Resimen Mahasiswa (Menwa), dan aktifitas kepanduan seperti Pramuka sangat bagus untuk menumbuhkan aspek kemandirian, kedekatan pada alam semesta yang akhirnya akan membangun kedekatan dengan Tuhan dan sikap patriotik.” Ungkap abah Iwan Abdulrachman, alumnus Wajib Latih Mahasiswa (Walawa) era tahun 60-an yang sekarang ini menjadi salah satu sesepuh  organisasi pendaki gunung-penjelajah rimba Wanadri, dalam sebuah perbincangan santai beberapa waktu lalu,”Banyak sekali godaan dalam berbagai bentuk yang harus dihadapi generasi muda Indonesia hingga mereka harus digembleng fisik maupun mental agar cukup tangguh menghadapi semua itu …”

Benang merah dalam sistem pendidikan dan latihan organisasi pecinta alam, , Menwa, dan Pramuka adalah  pengkondisian para anak didik untuk hidup berdamai di alam bebas baik gunung dengan hutan-hutannya atau lauitan dengan riak gelombangnya atau juga medan jelajah lain untuk memacu potensi kemampuan fisik, intelektual, dan emosional mereka agar terbangun individu tangguh yang mampu mengelola berbagai rintangan-hambatan-godaan dengan sebaik-baiknya hingga kelak mereka kan hadir sebagai individu mumpuni dengan kesalehan dan kesantunan yang terpelihara. Kualitas generasi produktif seperti inilah yang kita ingin dapatkan dalam  bonus demografi Indonesia beberapa tahun ke depan untuk membangun karakter Indonesia menjadi lebih handal dan sejahtera.

Referensi 12|

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x