syarifuddin abdullah
syarifuddin abdullah Pegawai dan dagang

Ya Allah, anugerahilah kami kesehatan dan niat ikhlas untuk membagi kebaikan

Selanjutnya

Tutup

Media Pilihan

Televisi Satelit

13 Januari 2018   08:23 Diperbarui: 13 Januari 2018   09:35 347 1 0
Televisi Satelit
Sumber: aljazeera.net; alarabiya.net; alalam.ir, diolah.

Sejak akhir tahun 1990-an, nyaris tiap hari pada jam-jam tertentu, saya rutin menonton televisi berita melalui tiga stasiun televisi satelit berbahasa Arab: Aljazeera, Alarabiya, Alalam.

Aljazeera, semua tahu, adalah tv satelit yang mewakili kepentingan Qatar. Sebagian mungkin tahu bahwa Alarabiya adalah stasiun tv satelit milik Kerajaan Saudi Arabia (KSA), tapi berkantor pusat di Abu Dhabi. Sementara Alalamadalah stasiun tv satelit milik pemerintah yang mewakili rezim pemerintahan Iran.

Ketiganya tentu mengklaim dir sebagai televisi yang beroperasi secara profesional, menjunjung tinggi profesionalisme di bidang peliputan. Tapi benarkah?

Sebagai perbandingan, persaingan tiga stasiun berbahasa Arab itu mirip dengan persaingan antara stasiun CNN dan Fox News dan Skynews saat meliput tentang Donald Trump. Jika berminat tahu tentang kejelekan Trump, menontonlah CNN.  Tapi jika menonton FoxNews atau Skynews, Trump akan terkesan sebagai seorang hero.

Tentu saya tidak dalam posisi untuk menentukan mana di antara tiga tv satelit berbahasa Arab itu yang paling unggul. Tapi sebagai publik pemirsa, saya makin percaya bahwa pemirsa sebenarnya akan menipu dirinya sendiri bila fanatik pada sumber berita tertentu. Tiap media, apapun jenisnya, memiliki misi tertentu. Kesadaran seperti ini yang perlu dimiliki setiap pemirsa.

Sekedar catatan, berbeda dengan televisi berbayar, televisi satelit beroperasi nyaris tanpa iklan. Singkat kalimat: televisi gratis. Tidak ada iuran bulanan, pemirsa hanya perlu membeli parabola, dan setelah itu, bisa menontonnya sampai kiamat. Namun masing-masing tv satelit itu memiliki koresponden yang tersebar di negara-negara utama di setiap dari tujuh benua di bumi. Bisa dibayangkan berapa ongkos operasionalnya. Dan semua biaya itu ditanggung oleh negara sponsornya. Tapi jangan berharap akan menemukan item pembiayaan tv satelit dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) di setiap negara sponsornya.

Dan kita tahu, tiap televisi satelit yang disponsori oleh sebuah negara secara otomatis akan menjadi media propaganda, yang mengusung misi dan kepentingan negara sponsornya. Dan itu terlihat dan terbaca jelas dari gaya peliputannya, narasumber yang dihadirkan dalam program-program talk-shownya, atau dalam tayangan dokumenter untuk tiap kasus.

Banyak contoh yang bisa disebut. Tapi saya akan mengambil kasus perang Yaman, dan bagaimana masing-masing tiga televisi berbahasa Arab itu meliputnya dan memberitakannya:

Bagi Aljazeera, Perang Yaman adalah sebuah tragedi intervensi koalisi negara-negara asing, yang dipimpin Kerajaan Saudi Arabia bersama Uni Arab Emirates (UAE) sebagai mitra utamanya; KSA adalah penyebab krisis kemanusiaan di Yaman; Seluruh nestapa Yaman adalah akibat dari kebijakan regional KSA yang ngawur dan sok jagoan; Menggempur Yaman selama hampir tiga tahun, sejak 2015, dan belum menemukan jalan keluar yang manis untuk mengakhirinya; KSA telah menjadi korban, yang masuk perangkap lembah kotor Perang Yaman akibat ambisi regional, yang tidak cermat menghitung risiko sebuah kebijakan.

Giliran menonton Alarabiya, Perang Yaman akan digambarkan sebagai upaya KSA mempertahankan dan melindungi kepentingan nasionalnya dari bahaya penetrasi Iran dari perbatasan selatan melalui kelompok Syiah Al-Houti; KSA adalah penyelamat pemerintahan Yaman yang legitimated, pimpinan Abduh Rabbu Mansour Hadi; KSA adalah benteng Dunia Arab dari ambisi regional imperialisme Persia.

Jika menonton Alalam, maka Iran akan dikesankan sebagai negara pelindung dan penyelamat warga Yaman dari kebiadaban KSA dan sekutunya; Al-Alam jarang menyebut Al-Houti sebagai kelompok Syiah. Meski semua tahu bahwa dukungan Iran kepada Al-Houti terutama karena pertimbangan mazhab.

Akibatnya, meskipun dengan identifikasi yang sebenarnya keliru, perang Yaman sering disebut sebagai praktek proxy war. Padahal sebenarnya bukan. Bagi Iran, mungkin benar. Tapi bagi KSA, istilah proxy war tidak tepat, sebab KSA terlibat langsung memuntahkan peluru dan rudal-rudalnya ke berbagai titik di Yaman.

Dalam menerima liputan media-media yang berbeda misi tersebut, diskresi atau kearifan atau wawasan seorang pemirsa mutlak dinomorsatukan. Jika tidak, pemirsa akan menjadi mangsa dari predator-predator media. Tapi sikap seperti ini bukan hanya diperlukan ketika mengkses media-media asing, tapi juga media-media nasional.

Sebagai catatan penutup, saya kadang membatin begini: kapan ya Indonesia memiliki juga televisi satelit berbahasa Inggris atau Arab, yang khusus didesain untuk mengemban misi dan memperkenalkan kepentingan Indonesia secara global. Hingga saat ini, setelah kemerdekaan berusia 73 tahun, ekspatriat dan orang asing pada umumnya, yang ingin tahu tentang Indonesia, sumbernya sangat terbatas, bisa dihitung dengan jari tangan: the Jakarta Post, The Observer, Majalah Tempoversi Inggris, The Bali Times, The Jakarta Globe. Plus beberapa brosur promosi yang secara berkala diterbitkan oleh berbagai Kementerian atau perusahaan swasta nasional. Jadi kayaknya belum saatnya berbicara tentang peran global Indonesia. Masih jauh, Bung.

 Syarifuddin Abdullah  | 13 Januari 2018 / 26 Rabi'ul-tsani 1439H