Humaniora

Penelitian Tentang Gender dan Perbedaan Gender

30 Desember 2017   12:19 Diperbarui: 30 Desember 2017   12:37 167 0 0

 Setiap manusia yang dilahirkan ke dunia, mayoritas terpilih menjadi dua jenis, pria dan wanita. Perbedaan biologis ini mempunyai kesesuaian di samping bahwa wanita mempunyai rahim, payudara, sel telur, dan vagina, sedangkan pria mempunyai sperma, penis, jakun, jenggot dan kumis. Perbedaan tersebut sudah bersifat given dan kodrati sehingga melahirkan peran yang sifatnya secara kodrati pula. Perbedaan ini terlihat jelas dari bentuk fisik dan tidak bisa dipertukarkan.

Sementara itu, gender lebih merujuk pada perbedaan karakter pria dan wanita berdasarkan konstruksi sosial budaya, yang berkaitan dengan sifat status, posisi, dan perannya dalam masyarakat serta terjadinya perbedaan gender yang dikonstruksi secara sosial-kultural. Misalnya, perempuan dianggap lemah lembut, emosional, keibuan dan sebagainya. Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, perkasa dan lain-lain. Sifat-sifat itu bukan kodrat karena tidak berlaku selamanya, karena bisa saja dipertukarkan dan berubah. Artinya laki-laki bisa saja ada yang emosional, keibuan ataupun lemah-lembut, dan perempuan ada juga yang kuat, perkasa dan keayahan.

Selain itu adapun yang di bahas di sini adalah seperti Ilustrasi perbedaan antara seks dan gender bisa dilihat dari desain sepeda pancal. Sepeda pancal yang dirancang untuk wanita biasanya diberi sadel yang lebih lebar karena perempuan mempunyai pinggul yang lebih besar (ini perbedaan seksis). Namun, ketika sepeda tersebut tidak diberi palang agar perempuan yang memakai rok atau jarit lebih mudah menaikinya, (ini disebut perbedaan gender karena tidak ada keharusan bagi perempuan pakai rok atau jarit).

Di sisi lain, konsep "gender" lebih mengarah kepada bentuk-bentuk perilaku antara pria dan wanita yang mengakibatkan keduanya dipandang berbeda. Sebagai contoh, cara berpenampilan, cara berbicara, dan bentuk pekerjaan

Ada asumsi mengenai stereotipe umum bahwa wanita berbicara lebih banyak daripada laki-laki. Oleh karena itu, sering muncul istilah-istilah khusus yang digunakan untuk percakapan wanita, misalnya gosip, ngrumpi, dll. Namun, istilah tersebut jarang dipakai untuk menyebut istilah dalam percakapan para lelaki. Istilah tersebut secara tersirat bermakna bahwa percakapan wanita itu banyak dan melimpah tapi tidak berujung/bermakna. Ada beberapa penemuan dalam penelitian yang mengungkap perbedaan cara bercakap-cakap antara pria dan wanita.

Gaya bicara laki-laki dan wanita secara umum melukiskan bahwa wanita berbicara lebih banyak daripada laki-laki. Ternyata faktanya berkata lain. Laki-laki lebih banyak berbicara dalam percakapan yang terdiri atas kelompok bermacam jenis kelamin daripada perempuan (Fishman,1980), Spender,1980) and Swann(1989). Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa laki-laki dua kali lebih lama berbicara daripada waktu yang digunakan oleh perempuan. Lalu ada bukti juga bahwa perempuan yang berbicara lebih banyak dalam sebuah percakapan akan lebih dihargai oleh pembicara lain. Selain itu, ditemukan pula bukti di kelas-kelas bahwa siswa laki-laki lebih banyak berbicara di depan kelas daripada siswa perempuan dan hal ini menyita waktu guru.

Penulis mencermati beberapa bukti di atas dan berpendapat bahwa penemuan tersebut tidaklah mencerminkan kenyataan yang terjadi pada dasawarsa sekarang ini. Ada kondisi yang memungkinkan para laki-laki memang akan berbicara lebih banyak daripada perempuan. Dan ada kemungkinan dalam kondisi lain, perempuanlah yang memegang dominasi pembicaraan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi banyak dan tidaknya pembicaraan seseorang, terutama antara pria dan perempuan.

Ideologi kesetaraan gender membawa pengaruh luas pada pembentuk gaya bicara wanita. Wanita tidak lagi mau diposisikan seperti pada zaman dulu yang hanya berfungsi sebagai istri dan ibu. Wanita ingin juga disejajarkan dengan pria dalam hal kesempatan dan posisi dalam pendidikan dan pekerjaan. Akibatnya, banyak wanita yang berpendidikan tinggi dan memiliki jabatan tinggi pula. Hal ini mungkin sebagai bentuk perjuangan wanita untuk ingin lebih dihargai dan dihormati. Dengan demikian, saat ini tiap-tiap pria dan wanita memiliki kecenderungan sama dalam hal kuantitas, frekuensi, dan kualitas percakapannya. Hal itu bergantung pada posisi/kedudukan, tingkat pendidikan, topik pembicaraan.