Ryo Kusumo
Ryo Kusumo Professional

Membaca, menulis.. ...udah gitu aja www.ryokusumo.com

Selanjutnya

Tutup

Politik Artikel Utama

Politik Menyebar Ketakutan, Politik ala Tiran

7 Desember 2018   21:30 Diperbarui: 9 Desember 2018   02:15 1767 14 19
Politik Menyebar Ketakutan, Politik ala Tiran
Benitto Mussolini, Tiran asli Italia. Sumber foto: www.idntimes.com

"Mereka yang menyebar ketakutan dan menang, hampir selalu berubah menjadi Tiran".

Begitu kata seorang Kakek tua yang saya temui di gerbong restorasi Kereta Api Jurusan Lempuyangan-Pasar Senen. Sambil menyeruput kopi hitam tanpa gula sang Kakek bercerita tentang masa tahun 1965.

Dulu, kata beliau. Kami semua terkejut ketika diberitakan di radio bahwa banyak Jenderal yang tewas di bunuh Komunis, kami dibuat ketakutan akan gerakan komunis. Tetangga saya bahkan dibunuh di depan anak istrinya karena diduga terlibat gerakan buruh. Kami di buat takut sekali saat itu.

Padahal tidak pernah sekalipun tetangga saya itu mengganggu kami, bahkan terlibat gerakan mencurigakan. Terlibat gerakan buruh itu biasa. Ayah saya petani, beliau pun petani. PKI mendukung petani dan buruh, massa PKI banyak disekitar golongan itu. Kegiatan petani dan buruh saat itu ya sama saja dengan kegiatan serikat buruh saat ini, demo minta upah naik, harga gabah di perbaiki dst. Wajar. Suara PKI sangat tinggi saat itu. Kesalahan PKI saat itu ialah mereka minta dipersenjatai.

Dan kemudian Presiden dituduh gembong gerakan Komunis. Kami tidak habis pikir, bagaimana bisa seorang Soekarno membunuh Yani, Jenderal kesayangan beliau sendiri. Padahal Yani adalah pendukung Sukarno. Meskipun Yani pro Barat, dan Soekarno pro Timur, tak mungkin Soekarno sampai tega membunuh Yani yang masih dengan piyama.

Soekarno ingin menggabungkan Komunis dan Pancasila bersatu, ya, tapi sampai membunuh lantaran Yani menolak buruh dipersenjatai, saya rasa tidak. Ujarnya nanar.

Sampai saya sadar bahwa kami ini ditakut-takuti. Gembong PKI dan simpatisannya di bantai dimana-mana. Andaikan benar PKI adalah pelaku pembunuh 6 Jenderal, apakah sampai sedemikian balasannya hingga terjadi pembantaian massal?

Pembantaian tersebut adalah gerakan politik ketakutan yang dibawa calon penguasa. Untuk apa? Untuk berkuasa tunggal.

"Tidak main-main lho mas.." Matanya tajam menatap saya.

"Yang dibantai itu jutaan manusia, itu genosida.."

Genosida menimbulkan ketakutan permanen hingga 30 tahun bagi rakyat kita. Keuntungannya? Indonesia harus dipimpin oleh "dia yang berkuasa", karena di otak rakyat, hanya "dia yang berkuasa" yang mampu melindungi negeri ini. Dia korupsi? Tak apa, yang penting rakyat aman dari komunis.

Psikologi rakyat dimainkan di ranah ketakutan. Entah sampai kapan.

"Saya sama sekali tidak pro PKI, ayah saya pentolan Masyumi, dan saya sekarang adalah orang bebas, saya pelukis di Jogja, murid pelukis Saptoto. Jadi jangan anda curiga bahwa saya simpatisan PKI..hehe, tidak sembarang saya cerita ke orang"

Lalu, coba kita lihat Stalin, sebelum berkuasa Stalin menebar ketakutan bahwa Leon Trotsky adalah orang yang lembek, tidak akan mampu meneruskan kepemimpinan Lenin. Sosialisme ala Lenin akan pecah di tangan Trotsky.

Lebih jauh lagi, Trotsky yang logis, akan berkompromi dengan Barat dengan Kapitalisme-nya. Hanya Stalin yang mampu meneruskan cita-cita Lenin. Stalin pun otomatis menggantikan Lenin setelah "mengibuli" Trotsky tentang waktu pemakaman Lenin.

Trotsky pun kemudian terbunuh oleh Ramon Mercader, agen suruhan Stalin. Pun masa-masa setelah Stalin berkuasa, politik ketakutan selalu disebar di seantero negeri.

Hingga Ukraina sebagai sumber ladang Uni Soviet rakyatnya dibiarkan kelaparan. Hanya karena Stalin ketakutan akan mandirinya para petani di Ukraina hingga menolak memberikan alat ladangnya ke Pemerintah, sesuai aturan Komunis ala Stalin.

Lalu Mussolini, bagaimana dia menebar ketakutan akan liga petani dan ancaman ras selain ras Eropa, sehingga dia didukung penuh oleh kaum pemilik tanah. Dan hasilnya, Mussolini menjadi fasis dengan kekuasaan absolut.

Kemudian Hitler, lihat bagaimana Hitler menyebarkan ketakutan akan ancaman Yahudi sekaligus menebar anekdot kejayaan bangsa Aria. Hitler, Mussolini dan Stalin adalah tipe yang sama. Tergila-gila pada kekuasaan, paranoia, mudah merendahkan orang/ras lain.

Sistem ketakutan bagi mereka adalah sistem propaganda. Untuk melenggangkan kekuasaan mereka.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3