Mohon tunggu...
Ryo Kusumo
Ryo Kusumo Mohon Tunggu... Profil Saya

Menulis dan Membaca http://ryokusumo.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Artikel Utama

Kita Hidup di Zaman Lady Gaga, Awkarin dan Agus

31 Oktober 2016   07:02 Diperbarui: 31 Oktober 2016   15:37 966 17 12 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kita Hidup di Zaman Lady Gaga, Awkarin dan Agus
Sumber: http://memeburn.com/

Jika disuruh Helmi Yahya untuk menebak salah satu hal ajaib yang paling sering terjadi di dunia ini, maka jawaban saya adalah transformasi. Jika dicermati kok ya rasanya ndak mungkin, tapi kok ya kejadian gitu lho.

Gini contohnya, dulu saya berkawan dengan cukup banyak anak band. Kehidupannya ya mewah; makan jarang, pilih jalan kaki ketimbang naik angkot, ngirit yang penting bisa nongkrong, ngudut dan tiap seminggu tiga kali bisa bayar studio band barang sejam dua jam. Belum lagi gonta ganti pacar dan tentu saja, modat, wakas, kobam dan istilah sejenisnya yang berbau ngefly kami lakoni.

Eh lhadalah, beberapa waktu lalu kami reuni sekolah dan terkejutlah saya karena salah satu teman saya yang dulu gabung jadi anak Punk, klub lifestyle artsy yang terobsesi pada mural dinding rumah penduduk, eh kok sekarang sudah pakai katok cingkrang, berpeci dan tentu saja berjanggut. Untungnya dia ndak tinggal di Jakarta, kalo iya, pasti  lebih ramai lagi wall fesbuk saya, iya kan? Pasti iya.

Karena penasaran, saya pun iseng bertanya-tanya proses transformasinya dari seorang anak punk yang bau wedus hingga jadi salaf begini. Dan dijawab transformasinya tidak melalui proses, alias dadakan.

Wah, dadakan? Ini kan melanggar kitab suci Charles Darwin terhadap transformasi umat manusia yang berasal dari kera lalu lambat laun berproses menjadi makhluk yang paling sempurna, berani-beraninya teman saya itu.

Menurut sang profesor suatu perubahan pasti melalui proses. Darwin bertolak belakang dengan ajaran agama, dimana ada Kun Fayakun disitu, tapi apa berani MUI menggugat Darwin dengan bukti teman saya tadi? Ah, sudahlah.

Fenomena dadakan ternyata bukan hanya terjadi pada tahu bulat, tapi juga terjadi dengan seorang Lady Gaga, lahir dengan nama Stefani Germanotta, dulunya Gaga seorang yang pemalu, tapi mendadak melepas topeng malu sesaat dia akan naik panggung pertama kali.

Panggung menjadi titik balik sifatnya. Menurut saya, Gaga bisa berubah karena mengeluarkan "inner" nya. "Inner"panggungnya berbicara. "Inner" bisa berupa dua hal, menjadi baik atau sebaliknya. Kalau teman saya, Irfan Sembiring "ROTOR" dan Kang Hari Mukti  yang dulu "nakal"nya ekstrim lalu lantas menjadi salaf. Beda dengan Gaga.

Pernah dengar istilah "nakal" telat? Nakal telat bisa disebabkan satu sebab saja, yaitu kekangan orang tua. Jangan ditanya berapa banyak teman saya yang justru nakalnya telat.

Contohnya Paijo, dulu anak alim kemana-mana selalu di anter Honda CB 70 bapaknya dengan pesan-pesan sebelum masuk kelas "Awas, jangan lirik temen perempuanmu, harom" Kata-kata itu selalu dipegang hingga lulus kuliah. Paijo yang kerja di kota, kaget kebablasan dan akhirnya menghamili tak lain dan tak bukan, dosennya sendiri. Malah rusak.

Kita hidup di zaman di mana transformasi berubah sangat cepat. Mungkin hanya meong yang tidak bisa berubah menjadi guguk, selebihnya apapun bisa. Seorang Awkarin pun mengalami transformasi dari seorang gadis berjilbab dan berprestasi menjadi gadis yang katanya penuh dosa hanya dalam sekejap.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x