Mohon tunggu...
Rio Gaury
Rio Gaury Mohon Tunggu... -

Simple and melancholic Sagitarius....

Selanjutnya

Tutup

Filsafat

Ekspedisi Pasar Basah: Sebuah Pelajaran Hidup dari Cirebon dan Sekitarnya

12 Mei 2012   12:18 Diperbarui: 25 Juni 2015   05:23 157 0 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Filsafat. Sumber ilustrasi: PEXELS/Wirestock

Saat tulisan ini dibuat, saya sudah tidak lagi menyandang status karyawan. Peserta lebih tepatnya, karena saya masuk melalui program "percepatan karir". Istilah management trainee mungkin lebih familiar di telinga Anda. Tidak ada percekcokan antara saya dengan divisi HRD, teman sekantor, atasan selaku mentor, dan pihak lain kecuali percekcokan dengan diri saya sendiri yang memang tidak cocok dengan pekerjaan yang digeluti. Mengejar passion? Itu jawabannya..

Baiklah, saya tidak mau berpanjang-ria membahasa sebab musabab kenapa saya harus resign di usia karir yang masih sangat balita, namun yang ingin saya bagi melalui tulisan ini adalah sebuah refleksi mengenai hidup.

Pasar basah.. Beberapa dari Anda bisa jadi malas membayangkannya. Bau busuk, pedagang yang rusuh, dagangan yang tumpah ruah, lorong dan gang gelap, dan sederetan stigma lain yang menari lincah dalam benak Anda. Percaya atau tidak, nyaris hampir setiap hari waktu kerja saya habiskan disana. Dari mentari menampakkan sinarnya secara malu-malu hingga dia berdiri gagah mengangkangi angkasa, saya berada disana. Bukan pekerjaan yang menyenangkan, namun menyadarkan betapa berharganya hidup yang kita punya dibandingkan hidup yang harus mereka geluti.

Interaksi saya dengan pedagang di pasar tidak sebatas menjalankan kewajiban audit pasar, namun telah melampaui batas-batas hubungan interpersonal. Saya mengetahui asal-usul mereka, keluarga, hingga keluh kesah mereka dalam menapaki tangga kehidupan yang terjal berliku. Kadang saya melupakan tugas untuk mengecek barang atau memasang point-of-sales material karena larut dalam cerita yang mereka buat.

Hidup mereka memang nelangsa. Setidaknya itu konklusi yang bisa saya dapatkan dari hasil "ekspedisi" ke pasar-pasar di daerah Cirebon, Ciledug, Losari, Kuningan, Indramayu, Majalengka, dan Jatibarang. Tetapi siapa sangka mereka masih mampu menciptakan sebuah kidung yang ceria? Kidung ceria yang terkadang tidak mampu dibuat oleh orang-orang yang berpunya. Yaitu kita.

Mohon tunggu...

Lihat Konten Filsafat Selengkapnya
Lihat Filsafat Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan