Mohon tunggu...
Ryan M.
Ryan M. Mohon Tunggu... Video Editor

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun. Professional portfolio : http://youtube.com/user/ryanmintaraga/videos Blog : https://blog.ryanmintaraga.com/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Candrasengkala, Simbolisasi Angka Tahun dalam Budaya Jawa

10 Mei 2015   17:12 Diperbarui: 17 Juni 2015   07:11 3244 5 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Candrasengkala, Simbolisasi Angka Tahun dalam Budaya Jawa
14312520561080400546

[caption id="attachment_365237" align="aligncenter" width="480" caption="Perkelahian antara Sembada dan Dora, kedua abdi setia Ajisaka dalam mengemban amanat tuannya. Selain memperkenalkan huruf jawa, konon Ajisaka juga memperkenalkan sistem Candrasengkala sebagai simbolisasi angka tahun (sumber gambar : pujies-pujies.blogspot.com)"][/caption]

"Dalam Serat Kalabendu gubahan R. Ng. Ranggawarsita III disebutkan, bahwa bumi Jawa akan mengalami kemakmuran kembali bila tahun Candra Sengkala terbaca Pendhawa Mulat Sirnaning Pengantin."

Tulisan di atas merupakan kutipan dari status facebook salah seorang penulis muda di lingkaran pertemanan saya.  Ya, saya bilang muda karena menurut pengakuannya yang bersangkutan masih kelas 2 SMA saat ia menjuarai lomba menulis di majalah remaja tahun 2006.  Kebetulan beliau ini juga berasal dari kota yang sama dengan sahabat saya Mbak Lis Suwasono.  Jangan-jangan Malang memang kotanya para sastrawan ya? Oke, kembali ke topik. Selain kagum karena prestasi teman tersebut, saya juga kagum bahwa di masa sekarang masih ada anak muda yang menaruh minat pada - dalam hal ini - sastra kuno.  Tapi lebih dari itu, penyebutan 'Candrasengkala' membawa ingatan saya kembali ke masa kecil saat masih duduk di bangku sekolah.

Kebijaksanaan Ala Jawa

Jika selama ini kebanyakan kita lebih mengenal Nostradamus sebagai peramal yang menyembunyikan ramalan-ramalannya melalui berbagai simbol dan syair, maka sebenarnya para waskita di Jawa pun melakukan hal serupa. Sepanjang pengetahuan saya, Candrasengkala merupakan simbolisasi dari angka tahun, bahkan kadang menggambarkan watak/karakter dari tahun itu sendiri.  Candrasengkala berasal dari dua kata yaitu 'candra' yang berarti 'pernyataan' dan 'sengkala' yang berarti 'angka tahun'.  Literatur Barat menyebut simbolisasi angka tahun ini sebagai Chronogram. Saya ingat sewaktu masih SD/SMP, guru saya bilang bahwa Candrasengkala merupakan cara yang digunakan para waskita Jawa zaman dahulu untuk membungkus nubuat/ramalan mereka dalam sebuah kalimat/syair/tembang, sama seperti cara yang digunakan Nostradamus. Kenapa harus disembunyikan? Seperti yang sudah pernah saya singgung di tulisan lama saya "Orang-orang dengan Kemampuan Supranatural Sungguh Ada", mereka-mereka yang memiliki indera keenam secara alami biasanya akan menyampaikan penglihatan mereka dengan cara yang santun dan jauh dari kesan menakut-nakuti.  Entahlah, mungkin mereka tahu bahwa peristiwa tersebut tidak bisa diubah namun efek negatif peristiwa tersebut bisa diredam apabila kita (pendengar) sudah bersiap diri apabila peristiwa itu memang terjadi. Tentu saja, cara penyampaian penuh simbol seperti itu juga dimaksudkan agar tidak timbul kepanikan bagi pendengarnya yang akhirnya malah membuat efek negatif peristiwa tersebut jadi semakin besar.

Macam Candrasengkala

Ternyata dasar penggunaan Candrasengkala sendiri ada dua macam yaitu berdasarkan rotasi bulan (Candrasengkala) - yang lebih kita kenal sebagai kalender lunar/hijriah serta berdasarkan rotasi matahari (Suryasengkala)- yang umum kita sebut sebagai tahun masehi.  Namun yang umum digunakan adalah Candrasengkala berbasis rotasi bulan. Selain itu dalam bentuknya masih dibedakan lagi menjadi sengkala dalam bentuk kalimat dan sengkala dalam bentuk gambar, patung, dan bentuk non-aksara lainnya. [caption id="attachment_365238" align="aligncenter" width="600" caption="Simbol yang terdapat di Keraton Kasultanan Yogyakarta, dua relief ular naga besar yang ekornya disatukan. Kabarnya ini merupakan contoh Candrasengkala yang dibaca Dwi Naga Rasa Tunggal - merupakan tahun berdirinya keraton yaitu tahun 1682 (sumber : begawanariyanta.wordpress.com)"]

14312521441215175657
14312521441215175657
[/caption] Hehehe rumit ya ternyata.

Tabel Candrasengkala

Karena waktu itu masih kecil, pengetahuan saya tentang Candrasengkala hanya sebatas apa yang guru saya ceritakan itu, apalagi di masa itu belum ada yang namanya internet.  Guru saya pun waktu itu mengatakan bahwa hanya orang-orang tertentu saja yang memahami makna Candrasengkala. Bersyukurlah sekarang kita hidup di era internet. Dari sebuah blog, saya menemukan tabel Candrasengkala yang setidaknya bisa digunakan untuk membantu memahami sebagian makna dari simbolisasi sebuah angka tahun sbb (tabel diambil dari begawanariyanta.wordpress.com) :

Sementara dari blog lain, saya mendapat informasi bahwa ada karakteristik tertentu yang pas disematkan pada sebuah sengkala misalnya :
  1. Sengkala untuk angka 1 diantaranya : bumi, buana, surya, candra, tunggal, ika, eka, (p)raja, manunggal, negara
  2. Sengkala untuk angka 2 diantaranya : dwi, tangan, sikil, kuping, mata, netra, panembah, bekti
  3. Sengkala untuk angka 3 diantaranya : tri, krida, gebyar
  4. Sengkala untuk angka 4 diantaranya : catur, kerta
  5. Sengkala untuk angka 5 diantaranya : panca, astra, tumata
  6. Sengkala untuk angka 6 diantaranya : rasa, sad, bremana, anggata
  7. Sengkala untuk angka 7 diantaranya : sapta, sinangga, sapi
  8. Sengkala untuk angka 8 diantaranya : asta, naga, salira, manggala
  9. Sengkala untuk angka 9 diantaranya : nawa, hanggatra, bunga
  10. Sengkala untuk angka 0 diantaranya : ilang, sirna, sonya

Secara garis besar memang dibutuhkan kemampuan bahasa Jawa tingkat tinggi untuk memahami makna Candrasengkala, apalagi untuk menyematkan penamaan pada sebuah tahun seperti misalnya tahun 2010 yang disengkalakan sebagai 'Sirna Praja Ilanging Bekti' yaitu ketika orang-orang yang mengemban amanat lupa pada amanat yang diembannya. Ada pula candrasengkala Kabupaten Sleman yang berbunyi 'Rasa Manunggal Hanggatra Negara' yang merupakan tahun lahir kabupaten tersebut (1916) sbb : [caption id="attachment_365239" align="aligncenter" width="360" caption="logo hari jadi kabupaten sleman terdapat candrasengkala yang merupakan tahun berdirinya wilayah tersebut (sumber gambar : slemankab.go.id)"]

14312524611075134835
14312524611075134835
[/caption] Atau bila dilihat dari tabel di atas, rasanya masuk akal juga bila sengkala tahun 2014 ada unsur 'Wedang' (air mendidih) dan 'Raja' (pemimpin) karena situasi tahun tersebut yang panas sebagai imbas dari pelaksanaan Pemilu 2014 yang 'kebetulan' pula diikuti hanya oleh dua pasang kandidat (asta=tangan/memegang). Jadi, kembali ke status facebook teman saya tadi,

"...bumi Jawa akan mengalami kemakmuran kembali bila tahun Candra Sengkala terbaca Pendhawa Mulat Sirnaning Pengantin."

Jika diubah dalam bentuk angka akan didapat angka sbb :

  1. Pendhawa melambangkan angka 5
  2. Mulat, nah saya belum tahu artinya. Ada yang bilang bahwa arti mulat adalah melihat ke dalam diri sendiri, mungkin ada yang bisa menambahkan?
  3. Sirnaning / Sirna melambangkan angka 0
  4. Pengantin melambangkan angka 2

Jadi dari Candrasengkala di atas kita akan mendapat angka 5-?-0-2 atau tahun 20?5 karena Candrasengkala dibaca terbalik dari kanan ke kiri. Hm?  Tahun berapa ya?  2015?  2025?  2035? Ah sudahlah, saya juga masih bingung.  Tapi semoga saja tulisan saya kali ini bermanfaat.  Selamat sore dan selamat menikmati sisa hari Minggu! Referensi : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7 Tulisan ini masuk kategori “Serba-Serbi” dan dipublish pertamakali di blog.ryanmintaraga.com, copasing diizinkan dengan mencantumkan URL lengkap posting di atas atau dengan tidak menghapus/mengedit amaran ini

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x