Mohon tunggu...
Ryan M.
Ryan M. Mohon Tunggu... Video Editor

Video Editor sejak tahun 1994, sedikit menguasai web design dan web programming. Michael Chrichton dan Eiji Yoshikawa adalah penulis favoritnya selain Dedy Suardi. Bukan fotografer meski agak senang memotret. Penganut Teori Relativitas ini memiliki banyak ide dan inspirasi berputar-putar di kepalanya, hanya saja jarang diungkapkan pada siapapun. Professional portfolio : http://youtube.com/user/ryanmintaraga/videos Blog : https://blog.ryanmintaraga.com/

Selanjutnya

Tutup

Digital

Mengenal Karakteristik Perangkat Berbasis Android

11 Juli 2013   05:30 Diperbarui: 24 Juni 2015   10:43 1924 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengenal Karakteristik Perangkat Berbasis Android
XPeria Ray, salah satu smartphone berbasis Android (sumber foto : techradar.com)

[caption id="" align="aligncenter" width="406" caption="XPeria Ray, salah satu smartphone berbasis Android (sumber foto : techradar.com)"][/caption] Android memang sedang booming. Sistem operasi mobile besutan Google tersebut saat ini menguasai 75% pasar ponsel pintar (smartphone) pada kuartal ketiga tahun 2012 (sumber vivanews).  Kepopuleran Android akhirnya dilirik juga oleh produsen-produsen ponsel lokal yang ikut menghujani pasar dengan produk-produk Android murah.

Buat Kompasianer yang ingin memiliki sebuah smartphone atau tablet berbasis Android, ada baiknya membaca posting berikut ini agar tidak menyesal dan merasa kecewa setelah membeli.  Siap?

Jeroan Menentukan Kemampuan

Pada dasarnya karakteristik perangkat Android lebih mendekati komputer.  Di dalamnya ada prosesor, RAM (memori), teknologi layar yang digunakan, bahkan GPU (graphic card) yang semuanya tentu saja dalam ukuran mini.  Komponen-komponen yang dibenamkan pada akhirnya mempengaruhi kemampuan perangkat tersebut menjalankan aplikasi yang diinstal di dalamnya.

Standar saat ini untuk prosesor adalah yang memiliki clock sekitar 1 GHz, dual-core lebih baik.  Hindari memilih perangkat Android dengan clock prosesor di bawah 800 MHz karena bisa saja tidak kompatibel dengan aplikasi-aplikasi yang tersedia saat ini.  Clock prosesor juga menentukan kegesitan dan smooth-nya perangkat Android dalam menjalankan berbagai aplikasi.

Untuk RAM (memori) tentunya lebih besar lebih baik, minimal 512 MB.  Oya, yang dimaksud "memori" di sini artinya bukan "kapasitas penyimpanan" atau "memori internal" yang sekian giga itu.  Mungkin untuk lebih gampangnya kita gunakan istilah "RAM" saja.  Setiap aplikasi (game dll) yang dijalankan di perangkat Android akan menggunakan RAM - walaupun aplikasi tersebut sedang tidak dijalankan.  Hati-hati, jangan sampai tertukar antara RAM dengan ROM.

Sementara untuk layar, ada beragam teknologi dan istilah yang digunakan (resistive, capacitive, IPS LCD, Amoled, dsb) yang membuat bingung penggunanya (termasuk saya).  Tapi untuk gampangnya, biasanya saya berpegang pada mantera, "pilih Android yang layarnya bisa multitouch atau bahasa gampangnya layar bisa dicubit (pinch)".

Android Boros Baterai?

Smartphone umumnya memiliki kemampuan multitasking alias menjalankan banyak aplikasi secara bersamaan.  Semakin banyak aplikasi yang dijalankan secara bersamaan (misal : facebook, twitter, YM, dsb) akan membuat perangkat (khususnya prosesor dan RAM) bekerja semakin keras agar tidak ada aplikasi yang hang.  Hal ini pada akhirnya akan cepat menguras baterai ponsel.  Umumnya perangkat Android sudah harus di-charge kembali setelah pemakaian 4, 6, 12, atau 20 jam tergantung seberapa aktif kita menggunakan ponsel dan seberapa baik manajemen aplikasi kita sebagai pengguna.

Selain itu tingkat terangnya layar dan kondisi sinyal operator juga ikut andil dalam pengurasan baterai ponsel Android.  Jika sinyal operator di daerah tersebut kurang bagus, maka baterai akan cepat terkuras untuk sekadar mencari sinyal.

Salah satu cara saya menghemat baterai adalah mematikan komunikasi data ketika sedang tidak diperlukan (biasanya malam hari atau ketika perangkat sedang terhubung dengan WiFi).

Pulsa Saya Kok Hilang?

Ini juga satu hal yang kerap dikeluhkan mereka-mereka yang baru menggunakan Android tanpa memiliki referensi karakteristik Android.  Secara default perangkat berbasis Android akan selalu terhubung dengan internet - minimal untuk layanan e-mail dan jejaring sosial.  Karena itu sebelum membeli smartphone Android, pastikan bahwa Kompasianer sudah berlangganan paket data dari operator penyedia jaringan bila tidak ingin pulsa habis tersedot.

Versi Sistem Operasi yang Digunakan

Versi Sistem operasi (OS) sedikit banyak menentukan tampilan antar-muka (user interface) perangkat Android Kompasianer dan - lagi-lagi kompatibilitas dengan aplikasi yang ada.  Untuk saat ini versi Android yang umum dipakai adalah ICS (Ice Cream Sandwich, Android versi 4.0), meski versi barunya (Jelly Bean) sudah keluar.  Minimal versi OS yang digunakan adalah Ginger Bread (Android versi 2.3), dan sebisa mungkin hindari memilih perangkat Android yang OS-nya masih Froyo (Frozen Yoghurt, vesi 2.2) karena sudah ketinggalan zaman.

Itulah sebagian karakteristik perangkat / smartphone berbasis Android yang semoga bisa dijadikan patokan oleh Kompasianer sebelum memiliki smartphone, tablet, ataupun phablet berbasis Android.  Silakan Kompasianer tambahkan...

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x